Fakta Penggundulan Tersangka Tragedi Susur Sungai SMPN 1 Turi: Ini Permintaan Kami!

Fakta Penggundulan Tersangka Tragedi Susur Sungai SMPN 1 Turi Ini Permintaan Kami Tiga tersangka insiden kecelakaan sungai SMPN 1 Turi berinisial IYA (36) , R (58), dan DDS (58) dihadirkan saat jumpa pers di Mapolres Sleman, Selasa (25/2/2020). Foto: Antara/Luqman Hakim)

Covesia.com - Tersangka tragedi susur sungai siswa SMPN 1 Turi bicara terkait polemik penggundulan ketika mereka digiring polisi. Seorang tersangka, Isfan Yoppy Andrian (36) meluruskan kabar terkait penggundulan dirinya. Yoppy mengatakan jika itu murni permintaannya.

"Jadi kalau gundul itu memang permintaan kami jadi pada dasarnya demi keamanan karena kalau saya tidak gundul banyak yang melihat saya itu (mudah dikenali)," ujarnya seperti dilansir detikcom, Kamis (27/2/2020).

Sebagai tersangka, dia tidak ingin dibedakan dengan tahanan lain. Sebab di dalam sel semua tahanan berpenampilan sama. Menurut Yoppy, penyeragamanan penampilan itu juga berkaitan dengan keselamatannya.

"Kalau gundul kan sama-sama di dalam gundul juga jadi ini permintaan kami. Termasuk pakaian juga kami samakan kalau berbeda nanti saya juga takut. Tapi kalau di dalam sama-sama gundul, bajunya juga sama, jadi melihatnya nggak terlalu bisa spesifik ke saya," ungkapnya.

Kapolres Sleman, AKBP Rizky Ferdiansyah mengakui, Propam Polda DIY sudah melakukan pemeriksaan terkait cukur gundul para tersangka yang dipersoalkan tersebut. Ditegaskan bahwa pihaknya melakukan penanganan hukum dengan hati-hati. Apa lagi kasus tragedi susur Sungai Sempor yang menewaskan 10 sisiwi SMPN 1 Turi itu menjadi perhatian luas.

"Karena kasus ini sudah menjadi atensi nasional maka kami melakukannya sesuai prosedural tidak mungkin kita melakukan proses ini dengan semena-mena," kata Rizky di Mapolres Sleman, Rabu (26/2).

Sebelumnya, organisasi-organisasi profesi guru mengecam tindakan polisi mencukur gundul tiga tersangka tragedi susur sungai SMPN 1 Turi, Sleman. Polda DIY segera melakukan pemeriksaan terhadap anggotanya. Para tersangka juga memberikan penjelasan.

Ikatan Guru Indonesia (IGI) dan Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) menilai tindakan polisi kepada para guru tersebut sebagai hal yang berlebihan. Polda DIY juga segera menanggapi keberatan itu dengan melakukan pemeriksaan internal.

"Jika nanti terbukti ada pelanggaran, akan dilakukan tindakan kepada petugas yang menyalahi aturan," kata Kabid Humas Polda DIY Kombes Yuliyanto.

Berita Terkait

Baca Juga