LBH: ''Revenge Porn'' Mulai Marak di Sumbar, Perempuan Diimbau Waspada

LBH Revenge Porn Mulai Marak di Sumbar Perempuan Diimbau Waspada Ilustrasi - pixabay

Covesia.com - Seiring berkembangnya zaman dan teknologi perkembangan kejahatan pun seolah semakin menjadi-jadi. Revenge Porn atau balas dendam dengan konten porno misalnya, kini pun terjadi di Sumbar.

Wakil Direktur LBH Padang, Indira Suryani mengatakan ada beberapa kasus baru dengan pola baru yang diterima oleh LBH Padang.

"Kekerasan berbasis digital membuat sebuah bentuk transformasi kejahatan baru, yakninya Revenge Porn," ungkap Indira kepada wartawan, Senin (24/2/2020).

Indira menambahkan, perempuan sekarang perlu mengantisipasi kejahatan revenge porn yang merupakan bentuk pembalasan dendam melalui konten pornografi yang disebar ke media sosial.

"Tujuan dari revenge porn ini untuk mempermalukan, meminta sejumlah uang atau tujuan kepentingan pihak tertentu saja," ungkapnya.

Ini terjadi di 2019 tidak hanya pada perempuan muda, perempuan yang putus dengan pacarnya, pasangannya, kemudian untuk pembalasan dendam dikirim foto-foto yang konten kurang baik ke media sosial.

Hal ini juga terjadi pada ibu-ibu yang umur 40 hingga 50 tahun, yang digunakan oleh orang tak bertanggung jawab untuk mendapatkan keuntungan memeras dengan cara seperti itu.

"Perempuan harus tahu dengan penggunaan digital supaya tidak terjebak dengan telepon dan laptopnya untuk hal yang mengeksploitasi organ reproduksinya sendiri," jelas Indira.

Setidaknya, di 2019 ada 3 kasus revenge porn yang melapor ke LBH.

"Mereka berasal dari Pesisir Selatan, Payakumbuh dan Padang. Salah satunya melibatkan aparatur negara. Konten ini dikelola oleh pasangan, atau teman lelakinya untuk pembalasan dendam," jelasnya.

Dikatakan Indira, di Payakumbuh korban diminta untuk jadi istri ke dua. Karena si korban takut hal ini tersebar lalu ia mau jadi istri ke dua dengan menikah secara siri. Ia juga dilaporkan oleh istri pelaku kepolisian pasal perzinaan.

"Ini kasus yang rumit yang terjadi kalau perempuan tidak memahami alat digital sehingga menjadi instrumen korban kekerasan," paparnya.

Kebanyakan korban akan memperbaharui media sosialnya dan tak mengakui bahwa akun sebelumnya adalah dirinya.

Bahkan kata Indira, ada pelaku yang tak hanya di media sosial tapi mendatangi rumah korban, bahkan rumah tetangganya. Indira menghimbau untuk perempuan harus hati-hati dengan kejahatan satu ini.

(ila/rdk)

Berita Terkait

Baca Juga