Pengakuan Mahasiswa Korban Pelecehan Seksual di Padang: Tak Ada Niat Untuk Menggoda!

Pengakuan Mahasiswa Korban Pelecehan Seksual di Padang Tak Ada Niat Untuk Menggoda Ilustrasi - pixabay

Covesia.com – Kasus pelecehan seksual tidak hanya terjadi di kota-kota besar, tapi juga di lingkungan kampus. Kasus (U) Bunga misalnya, mahasiswi yang mengalami kejadian tak mengenakkan di kampus, tempat sehari-hari ia menimba ilmu. Pelecehan seksual tersebut terjadi di toilet lantai 2 kampusnya.

Namun, tak banyak yang memiliki keberanian seperti Bunga, tak terima dilecehkan, apalagi oleh seorang tenaga pendidik, ia melaporkan kasus tersebut kepada pihak kepolisian. Pelecehan yang dilakukan oleh oknum dosen FY (29) di universitas negeri ternama di Padang.

Meski diancam Drop out (DO) ia tak gentar untuk itu. Baginya perempuan harus berani memperjuangkan haknya.

Covesia menghubungi korban pada Kamis, (13/2/2020) setelah bersepakat bertemu di Polda, kebetulan ada pertemuan dengan pihak Polda, namun urung karena waktunya ditunda.

Akhirnya Covesia membuat janji untuk bertemu kembali, Bunga menyetujui dan Covesia bertemu Bunga pada Sabtu, (15/2/2020) di kota Padang.

Bunga tak datang sendirian. Ia ditemani oleh seorang perempuan lain yang dikatakannya juga merupakan saksi kasus yang dialaminya. Mengenakan kaos putih lengan panjang, rambut diikat rapi. 

Sebelum memulai proses wawancara Bunga tampak menghirup napas dalam-dalam.

Bunga menuturkan, kejadian tersebut terjadi pada malam hari. “Memang saat di loby banyak orang, namun si dosen mengusir mereka dan tinggallah kami bedua di lantai dua tersebut. Tiba-tiba dia nyubit betis aku dengan alasan aku memakai celana pendek,” tuturnya.

Ia mengatakan, saat kejadian ia tidak memakai celana pendek namun celana kulot selutut ditambah kaus kaki panjang sebetis. Untuk baju pun tidak ketat, memakai baju kaos dan jaket denim.

"Tak ada (niat) sama sekali untuk menggoda," tuturnya.

Setelah mencubitnya, "si dosen mengatakan ingin yang 'panas-panas' ada bisa?"

Karena berpikiran yang panas-panas itu adalah kopi atau teh, Bunga menjawab dengan santai, "bisa pak."

Sebelumnya, Bunga pernah di-chat si dosen yang minta dibikinkan kopi, disuruh ke lantai 2.

Di tangga banyak anak kelas lain yang sedang duduk-duduk dan si dosen menyuruh mereka untuk ke pendopo karena prepear mau tampil.

“Bunga sangka gak jadi bikin kopi, mau ke pendopo, ternyata tetap disuruh ke atas. Sampai depan dapur dia bilang mau ke toilet. 'bapak ke toilet dulu.' 'ya pak pergilah pak.' Terus Bunga dipanggil, 'sinilah dulu,' 'apa pak?' 'sinilah bentar, 'kenapa pak?' Lalu ditarik langsung ke dalam WC,” terang Bunga.

Saat ditanya kenapa tidak langsung lapor saat kejadian, Bunga tak langsung menjawab, matanya terlihat berkaca-kaca.

“Nah, ini teman bunga yang langsung melihat ekspresi bunga setelah kejadian. Gimana bunga menampar-nampar wajah, sembari menangis gigit-gigit kuku, menepuk leher sambil bicara 'aku gak pernah diginiin.' Kalau boleh dibilang syok, sampai sekarang aja masih kebayang bagaimana dia memperlakukanku. Begitu brutal menurutku. Dia membuka celananya. Ada trauma, hampir sebulan Bunga baru berani,” sebut Bunga. 

Ia mengaku ada seseorang yang menguatkan dirinya untuk berani dan melapor kasus pelecehan ke pihak berwajib.

"Kamu mau ada 'bunga-bunga' yang lain dilecehkan seperti ini? Jika hanya didiamkan, kasus ini akan terus berlanjut. Kamu gak kasian? Seperti itulah kalimat yang disampaikan oleh seseorang yang menguatkan dirinya.

Bunga akhirnya menyadari buat apa takut, toh hal terburuknya yang mungkin diterimanya bsia saja hujatan.

“Orang-orang gak sadar, dengan melaporkan kasus ini bukan ada niatan lain selain memperjuangkan hak perempuan. Gapapalah, mereka menghujat atau memuji pun terserah, yang penting Bunga tetap pada pendirian ini,” jelasnya.

Dengan si dosen Bunga sempat bertemu tiga kali. Pertemuan pertama saat tampil di acara tari di Padang. Ketika itu, Bunga diminta oleh istri pelaku untuk menari dan pernah sepanggung bersama dengan si dosen. "Pertemuan ke dua saat 'anak' ISI Padang Panjang ke Padang main perkusion. ya sekadar salam aja. Nah, pertemuan ketiga saat kejadian," sebutnya.

Bunga mengatakan, tak pernah kuliah dengan si dosen. Sedang untuk sepotong kalimat yang “Liat besok, Pak,” itu merupakan kalimat yang ditulis untuk mencari cara segera "keluar" dari WA. Tak ada niat yang lain di balik chat tersebut.

Lapor ke Polda, Hujatan dan Dipandang Sebalah Mata

Bunga mengaku mendapat tekanan dan dipandang sebelah mata oleh orang-orang di sekitarnya. Hal itu tak membuatnya mencabut laporan polisi.

“Tenaga pendidik tak selayaknya bertindak seperti demikian, kalau tak ada yang berani lapor kejadian ini akan terus berulang. Aku sudah tahu apa kemungkinan terburuknya, aku akan di DO oleh kampus, tapi aku sudah siap dengan itu semua sebab aku gak mau ada korban lain,” ungkapnya.

Dari pengakuan Bunga pihak kampus sudah pernah memanggil dirinya dan si dosen. Dipertemukan dengan orang tua dan menjelaskan duduk permasalahannya. Namun bagi Bunga, itu bukanlah sebuah penyelesaian. Ia ingin kampus bertindak tegas dan menegakkan keadilan.

Kasus ini sudah sampai ke Polda Sumbar, Bunga juga kegiatannya akhir-akhir ini bolak-balik ke Polda untuk BAP, serta memberi keterangan. Pihak kampus hanya fokus pada kode etik tidak pada pidana. 

Dari keterangan Bunga, kampus meminta orang tua Bunga untuk mencabut laporan. “Karena mama gak tau gimana cerita aslinya, mama suruh Bunga cabut laporan, kata mama kalau gak dicabut laporannya nanti bakal dikeluarin dari kampus. Namun Bunga menjawab gelar dari kampus gak lebih penting dari pada harga diri Bunga, Ma,” jelasnya.

Dia menyebut, adanya desakan dari kampus, membuat ibunya cemas, hal itu juga membuat ibunya mencabut laporan.

"Aku mikir kabur aja dari rumah. Akhirnya dicari sama keluarga dan mama sampai aku ceritain semuanya. Mereka akhirnya setuju untuk lanjutin laporan," sebutnya.

Sampai saat ini belum ada kejelasan dari kampus apakah Bunga diizinkan kuliah atau tidak. Ia memilih untuk tidak dulu membayar uang kuliah karena masih ada kemungkinan untuk dirinya di DO.

“Sebenarnya Bunga masih ingin kuliah,” tuturnya.

Namun, karena pernah dikatakan kalau dirinya tidak mau mencabut laporan kampus tak ingin rugikan sepihak saja. Jika si dosen dikeluarkan dirinya juga akan dikeluarkan. Bunga pun menyanggupi itu.

“Ya, Pak, siap pak,” ujarnya.

Waktu pertemuan dengan pihak kampus dan kode etik, Bunga merasa diperlakukan tidak baik terutama soal pandangan dosen-dosen kepada dirinya.

“Padahal aku bukan pelaku, kenapa dipandang gak baik,” paparnya.

Sejujurnya, tak ada niat sedikitpun membuat jelek nama universitas, hanya saja, lanutnya, jika kasus ini tidak segera diselesaikan akan semakin banyak yang berperilaku sama nantinya.

“Bodoh banget aku mau menjelekkan nama kampus bahkan jurusan tempat aku kuliah,” terangnya.

Ia masih menyayangkan hukuman yang didapat oleh si dosen yang hanya diberhentikan sementara atau diskors setahun.

“Harusnya orang seperti itu gak ada lagi di kampus, kalau tenaga pendidik seperti itu apakah pantas? Soalnya kasian aja sih mahasiswa lainnya yang jadi korban. Mungkin ia bisa taubat tapi soal perilaku dia ke aku belum bisa aku lupakan,” jelasnya.

Dia mengaku laporan ke polisi dibuat untuk mengahindari hal serupa terjadi pada orang lain.

"Aku memperjuangkan dan membela kaum perempuan, kenapa karena tak semudah itu perempuan dilecehkan. Seharusnya gak dikait-kaitkan gimana aku di luar, gimana keluarga aku gak usah dinilai, yang jelas aku gak mau dilecehkan. Aku gak mau disentuh siapapun. Terus (ada) yang bilang ini drama, (ada) yang bilang aku suka sama suka. Kalau begitu ngapain lakuin itu di kampus?” sebutnya. 

Perihal dirinya yang disebut-sebut memiliki nilai "0,0" Bunga mengatakan seharusnya tidak dikaitkan.

"Apa hubungannya nilai kuliah dengan kasus ini?" katanya.

Alasannya tidak membayar uang kuliah karena memperkirakan kemungkinan terburuk bahwa dia akan di-DO dari kampus. Ia menyebut "menahan diri" dahulu sebab dari universitas belum ada kejelasan seperti apa perkuliahannya.

Status Tersangka

Pada Kamis (20/2/2020), pihak Kepolisian Daerah (Polda) Sumatera Barat (Sumbar) setelah melakukan gelar perkara terkait kasus dugaan pelecehan seksual oleh seorang oknum dosen UNP, terlapor telah ditetapkan tersangka.

Kabid Humas Polda Sumbar Kombes Pol Stefanus Satake Bayu Setianto menyatakan bahwa tujuan gelar perkara tersebut untuk mengetahui status terlapor selanjutnya.

"Untuk menentukan sikap apakah terlapor itu sebagai tersangka atau bagaimana," jelas Stefanus.

"Untuk saat ini terlapor sudah dijadikan tersangka," ujarnya.

Polda Sumbar sebelumnya sudah melakukan pemanggilan kedua kepada oknum dosen FY (29) yang diduga melakukan pelecehan seksual kepada seorang mahasiswi di UNP.

"Dia (oknum dosen yang bersangkutan) sudah datang, tapi menolak memberi kesaksian. Maka dibuat berita acara penolakan kesaksian. Alasannya tidak tahu," ujar Stefanus saat dihubungi Covesia.

(ila/rdk)

Baca juga: Polda Sumbar Tetapkan Oknum Dosen Pelecehan Seksual di UNP sebagai Tersangka

Berita Terkait

Baca Juga