Nasihat Buya Masoed Abidin untuk Andre: ''Agak-agak nan ka Pai, Ingek-ingek nan ka Tingga''

Nasihat Buya Masoed Abidin untuk Andre Agakagak nan ka Pai Ingekingek nan ka Tingga Buya Masoed Abidin

Covesia.com - Aksi penggerebekan yang dilakukan Anggota DPR RI, Andre Rosiade terhadap pekerja seks NN di Padang pada 26 Januari 2020 lalu, menimbulkan pro-kontra di kalangan masyarakat dan terus bergulir hingga saat ini. 

Andre sendiri menyebut, orang-orang yang kontra dengan aksinya itu merupakan Ahokers (para pendukung Ahok). Pernyataannya itu "dibenarkannya" dengan alasan karena sebelumnya ia mengkritik Ahok selaku Komisaris Utama Pertamina yang "serasa" Direktur Utama.

Selain itu, Andre menegaskan, jika aksi penggerebekan yang dilakukannya, jika tidak didukung masyarakat Sumbar, tidak akan mungkin banyak yang hadir dalam acara Jalan Sehat Hari Ulang Tahun ke 12 Partai Gerindra di Kota Padang. Baginya, banyaknya yang hadir itu bukti dukungan pada dirinya.

"Kalau masyarakat Sumbar tidak mendukung aksi saya, tidak mungkin 10.000 orang hadir hari ini," klaim anggota Komisi VI DPR RI Fraksi Gerindra itu, seperti dikutip Covesia dari laman Gatra.com.

Menyikapi itu, ulama karismatik Ranah Minang, Buya Masoed Abidin memberi nasihat. Buya Masoed menekankan kepada kaidah dan etika yang diatur dalam budaya Minang.

"Kita kan berada di Sumatra Barat. Sumatra Barat ini berbudaya Minang. Budaya Minang itu ada adagium utamanya, Adatnya Bersandi Syarak, Syarak Bersandikan Kitabullah. Itu sudah dipahami oleh masyarakat dari atas hingga ke bawah," jelas Buya ketika dihubungi Covesia, Selasa (18/2/2020).

Buya melanjutkan, ada kaidah di dalam bergaul, "muluik manih (bertutur kata baik), kuncindan murah (mudah mendapat simpati), pandai bagaua samo gadang (pintar bergaul ke sesama), itu kaidah bergaul di Sumatra Barat." 

Kaidah kedua, sebutnya, "ajarkan kepada awak (kita) di Sumbar ko (ini), kapado nan banamo rakyat (kepada yang bernama rakyat), kapado nan banamo pemimpin (kepada yang benama pemimpin), nan bakuaso (yang berkuasa), nan ingin bakuaso (yang ingin berkuasa), nan sadang bakuaso (yang sedang berkuasa), nan indak bakuaso (yang tidak berkuasa), ajarkan kehidupan yang damai," pesan Buya. 

Semua itu, katanya, diajarkan dalam sebuah kaidah. "Apo kaidahnyo?" sebut Buya, "Kaluak paku kacang balimbiang, sayak tampuruang lenggang lenggokan, anak dipangku kamanakan dimbimbiang, urang awak sakampuang dipatenggangkan," katanya. 

Baca Juga: Andre Rosiade Sebut Soal Ahokers, Nurani Perempuan: Itu Tidak Pas! Ia Telah Melanggar HAM

Kaidah-kaidah yang seperti itu melahirkan tata kelola bermasyarakat, yang oleh masyarakat lain disebut tata kelola madani, lanjut Buya. 

"Madani itu disebut mudun, mudun itu maju, maju itu alhazari (jelas). Jadi madani, masyarakat yang maju dan jelas," terangnya.

 Dia mengingatkan perihal kepemimpinan dan sosok tokoh publik yang selalu diperhatikan banyak orang.

"Oleh karena itu, hati-hati menjadi pemimpin. Yang tampak di dalam gerak seseorang adalah perilaku, ibadahnya tersimpan, imannya tersimpan. Yang tampak sehari-hari itu perilaku, yang dinilai oleh orang; kurenah (gaya) dan perilaku itu." 

Buya Masoed pun memberi nasihat untuk seluruh masyarakat, termasuk yang memimpin dan dipimpin; "Urang awak? kok lai urang awak, baraja awak ka urang. Kok indak urang awak, manjadi urang-urang di tangah sawah, di elo elo urang. Kalau manjadi urang-urang awak, dielo-elo dek urang, pahalau buruang di tangah sawah. Kok ka manjadi urang awak, tau awak mampatenggangkan urang banyak."

(Orang kita? Kalau kita orang, belajarlah ke orang. Kalau tidak orang, menjadi orang-orangan di tengah sawah, ditarik-tarik orang. Kalau kita menjadi orang-orangan, ditarik-tarik oleh orang, penghalau burung di tengah sawah. Kalau kita akan menjadi orang, tahu mempertenggangkan orang banyak).

Sementara soal tindakan Andre terkait penggerebekan pekerja seks di Padang, Buya Masoed memberi pesan mendalam, "kembalikan saja ke Ranah Minang, di Ranah Minang ini penyelesaiannya; agak-agak nan ka pai, ingek-ingek nan ka tingga (agak-agak yang akan pergi, ingat-ingat yang akan tinggal). 

Buya menjelaskan makna penggalan pepatah tersebut bahwa seorang pemimpin, baik itu eksekutif, legislatif, dan sebagainya, dia wajib memikirkan lebih dulu, apa yang akan dia sebut dan apa yang dia lakukan.

Menurut buya, seorang pemimpin tidak boleh berbuat dan bicara seenaknya, karena dia mewaliki ratusan dan bahkan ribuan orang yang memilihnya. Kesimpulannya, menurut buya,  bisa melihat dari pemimpin masa lalu, seperti Mohammad Hatta, Sutan Syahrir,  lihat pula Agus Salim sang diplomat ulung, Natsir sebagai pemimpin partai politik, dan Tan Malaka. Mereka semua itu berbeda dalam pandangan politik dan sebagainya, tapi dalam ucapan dan tindakan mereka tidak semena-mena.

"Kita bicara membangun bangsa dengan budaya, bukan hanya dengan teknologi, bukan hanya dengan knowledge base,... tetapi hari ini, kita harus membangun bangsa dengan culture base. Basis budaya kita di Indonesia, puncak budaya nasional adalah puncak budaya daerah," pesan Buya lagi.

Baca: Soal Dugaan Penjebakan NN, MKP Gerindra Simpulkan Andre Rosiade Tidak Bersalah

Sementara, soal tudingan Andre Rosiade jika yang tidak setuju dengan tindakannya adalah para "Ahokers" saja, Buya menilai itu kalimat politik.

"Itu kalimat politik, itu kalimat sementara. Kalimat budaya kalimat selamanya. Kalimat politik 'kini iyo, bisuak bisa indak' (sekarang iya, besok bisa tidak). Kalimat budaya yang mengatur perilaku tatanan kehidupan, apalagi budaya itu bersandikan pada agama atau dikawal oleh agama. Oleh karena itu, berdoa kita ke Tuhan, semoga negeri kita aman, damai, tenteram," pungkas Buya Masoed.

(utr/rdk)

Berita Terkait

Baca Juga