Ini Kronologi Pelecehan Seksual oleh Terduga Pedofil di LPKS ABH Kasih Ibu Kota Padang

Ini Kronologi Pelecehan Seksual oleh Terduga Pedofil di LPKS ABH Kasih Ibu Kota Padang Ilustrasi - pixabay

Covesia.com - Oknum petugas kebersihan di Lembaga Penyelenggaraan Kesejahteraan Sosial (LPKS) Anak yang Berhadapan dengan Hukum (ABH) Kasih Ibu, Kota Padang, Sumatra Barat diduga mencabuli anak umur 4 tahun. Kejadian itu diduga terjadi pada pertengahan Desember tahun lalu. 

Terduga pelaku berinisial HS (29). Di LPKS ABH Kasih Ibu, pelaku tinggal di sebuah kamar di salah satu asrama pria. LPKS memiliki satu asrama putri dan dua asrama putra. Masing-masing asrama terdiri atas enam buah kamar. 

Baca juga: Sudah Dua Anak di LPKS ABH Kasih Ibu jadi Korban Pedofil, Kenapa Terkesan Ditutupi?

Jarak asrama putri dengan asrama putra lebih kurang 30 meter dan dipisahkan oleh sebuah bangunan tempat di mana anak-anak biasa makan. 

Satu asrama putra dihuni oleh anak-anak laki-laki. Sedangkan satu asrama putra lagi tidak ditempati oleh anak-anak. Di salah satu kamar di asrama pria yang tidak dihuni oleh anak-anak tersebut, HS tinggal. 

"Asrama yang salah satu kamarnya diisi oleh pelaku memang tidak ditempati oleh anak-anak. Kosong. Dijadikan gudang," ujar sumber Covesia dari LPKS ABH Kasih Ibu. 

Diceritakannya, korban dicabuli pada suatu siang di pertengahan Desember 2019. Saat itu korban pergi ke kamar pelaku di asrama putra, bersama seorang temannya. 

Mungkin, mereka ingin mendapatkan makanan ringan atau es krim dari HS, itu dugaan sumber Covesia. 

Teman korban berjenis kelamin perempuan yang dua tahun lebih tua dari korban, tidak ikut masuk ke kamar pelaku. Hanya korban, anak usia 4 tahun yang polos dan tak tahu apa-apa itulah, yang diduga "dikerjai" HS.

"Kok tega sih, 'kita' merehab anak, tapi anak dikerjai pula," kata sumber Covesia lainnya.

Anak perempuan tersebut, kata sumber Covesia itu, sempat merasakan kesakitan di bagian kemaluannya selama beberapa hari. 

Meski demikian, korban baru mengungkap kejadian tersebut kepada petugas dan pimpinan Dinsos pada akhir Desember tahun lalu. Korban bersedia bercerita setelah dibujuk. 

Menurut sumber Covesia, pada saat itu, korban juga terlihat ketakutan bertemu dengan HS. 

Berdasarkan rekaman audio pengakuan korban yang diperoleh Covesia, si anak bercerita bahwa pelaku memasukkan ujung jari telunjuknya ke dalam kemaluan korban. 

Tindakan itu membuat korban menangis kesakitan. Berdasarkan pengakuan korban pula, pelaku baru satu kali mengerjai korban. 

Selain anak usia 4 tahun tersebut, pelaku juga "memiliki" korban lainnya, yaitu seorang remaja putri berumur 13 tahun. 

Sumber Covesia mengatakan bahwa korban kedua mengalami pelecehan seksual oleh pelaku sebanyak tiga kali. 

Remaja putri tersebut pertama kali dipegang tangannya pada minggu pertama Januari 2020. Beberapa hari kemudian, pelaku kembali mengulang perbuatannya dengan memegang tangan korban. 

Aksi pertama dan kedua pelaku tersebut, disebutkan hanya sekedar pegang tangan. Korban menolak tangannya dipegang terduga pelaku.

Pada aksi ketiga terduga pelaku, berdasarkan rekaman audio pengakuan remaja putri 13 tahun yang diperoleh Covesia, dia mengaku pelaku memeluknya dari belakang lalu menciumnya.

Tindakan itu dilakukan terduga pelaku beberapa hari setelah aksi kedua. Ketiga aksi tersebut dilakukan HS di pos satpam pada malam hari. 

Sumber Covesia mengatakan, pada malam hari, pos satpam sepi aktivitas pengamanan. Anak-anak pun sering ke pos satpam tersebut. 

"Entah apalah istimewanya pos satpam itu, tapi anak-anak sering ke sana," ujarnya.

Sama bocah 4 tahun sebelumnya, remaja 13 tahun itu awalnya tidak mau mengungkapkan apa yang dialaminya. 

"Setelah dibujuk, baru bersedia," ujar sumber Covesia.

Belakangan, remaja putri 13 tahun tersebut tidak lagi berada di LPKS ABH Kasih Ibu. 

Dia kabur tanpa sepengetahuan petugas di sana dengan alasan yang juga tidak diketahui. 

(fkh/rdk)

Berita Terkait

Baca Juga