Sudah Dua Anak di LPKS ABH Kasih Ibu jadi Korban Pedofil, Kenapa Terkesan Ditutupi?

Sudah Dua Anak di LPKS ABH Kasih Ibu jadi Korban Pedofil Kenapa Terkesan Ditutupi Lembaga Penyelenggaraan Kesejahteraan Sosial (LPKS) Anak yang Berhadapan dengan Hukum (ABH) Kasih Ibu, Kota Padang Provinsi Sumatera Barat . (Foto: Fakhruddin Arrazi)

Covesia.com - Oknum petugas kebersihan di Lembaga Penyelenggaraan Kesejahteraan Sosial (LPKS) Anak yang Berhadapan dengan Hukum (ABH) Kasih Ibu,  Kota Padang Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) diduga mencabuli anak umur 4 tahun. Aksi pedofilia tersebut dilakukan sekitar pertengahan Desember tahun lalu.

Hingga pertengahan Februari 2020, pelaku aksi tak terpuji itu tak kunjung mendapat sanksi. Bahkan, kasus tersebut diduga ditutup-tutupi oleh pejabat di Dinas Sosial (Dinsos) Kota Padang agar tidak diketahui media dan penegak hukum.

Hingga berita ini diturunkan, 15 Februari 2020, belum ada tindakan tegas dari pihak Dinas Sosial kepada terduga pelaku berinisial HS (29 tahun) dan membiarkan terduga pelaku bekerja seperti biasa. Alhasil, korban lain pun berjatuhan. 

Berdasarkan informasi yang dihimpun Covesia.com, pelaku bekerja sebagai petugas kebersihan di LPKS ABH Kasih Ibu sejak sekitar empat tahun yang lalu dan dikenal dekat dan pandai mengambil hati anak-anak. HS sering membelikan es krim, cemilan, atau kue untuk mereka.

Di LPKS ABH Kasih Ibu, pelaku tinggal di sebuah kamar di salah satu asrama pria. LPKS memiliki satu asrama putri dan dua asrama putra. Masing-masing asrama terdiri atas enam buah kamar. Jarak asrama putri dengan asrama putra lebih kurang 30 meter dan dipisahkan oleh sebuah bangunan tempat di mana anak-anak biasa makan. 

Satu asrama putra dihuni oleh anak-anak laki-laki. Sedangkan satu asrama putra lagi tidak ditempati oleh anak-anak. Di salah satu kamar di asrama pria yang tidak dihuni oleh anak-anak tersebut, HS tinggal. "Asrama yang salah satu kamarnya diisi oleh pelaku memang tidak ditempati oleh anak-anak. Kosong. Dijadikan gudang," ujar sumber Covesia dari LPKS ABH Kasih Ibu. 

Diceritakan, korban dicabuli pada suatu siang di pertengahan Desember 2019. Saat itu korban pergi ke kamar pelaku di asrama putra tersebut bersama salah seorang temannya. Mungkin, mereka ingin mendapatkan makanan ringan atau es krim dari HS. Teman korban berjenis kelamin perempuan yang dua tahun lebih tua darinya tidak ikut masuk ke dalam kamar pelaku. Hanya korban, anak usia 4 tahun yang masih polos dan tidak tahu apa-apa, yang dikerjai HS.

"Kok tega sih. Kita merehab anak, tapi anak dikerjai pula," kata sumber Covesia lainnya.

Anak perempuan tersebut, kata sumber Covesia itu, sempat merasakan kesakitan di bagian kemaluannya selama beberapa hari. Meski demikian, korban baru mengungkap kejadian tersebut kepada petugas dan pimpinan Dinsos pada akhir Desember tahun lalu. Korban bersedia bercerita setelah dibujuk. Pada saat itu, korban terlihat ketakutan bertemu dengan HS.

Mulai awal Januari 2020 hingga saat ini, kasus tersebut sudah menjadi rahasia umum pegawai di sana. Mereka membicarakannya pada saat jam istirahat dan di sela-sela waktu luang bekerja. Pejabat di Dinsos Kota Padang pun juga mengetahui hal tersebut. Pertengahan Januari lalu, pelaku sempat dipanggil dan disidang oleh pimpinan Dinsos Kota Padang.

"Tapi anehnya pelaku masih saja bekerja hingga sekarang," ujar sumber Covesia tersebut.

Informasi yang kami himpun, beberapa pegawai yang bersimpati membawa sang anak ke Puskesmas Air Dingin untuk divisum pada 20 Januari 2020. Perlu diketahui pula, Puskesmas Air Dingin masih berada dalam satu kelurahan dan kecamatan dengan LPKS ABH Kasih Ibu yakni Kelurahan Balai Gadang Kecamatan Koto Tangah. 

Akan tetapi, setibanya di Puskesmas, dokter yang bertugas tidak bersedia untuk memvisum korban. Dokter itu bertanya kepada korban tentang kejadian malang yang menimpanya. Pertanyaan tersebut diajukan oleh dokter kepada korban dengan didampingi oleh para karyawan yang membawanya.

Berdasarkan rekaman audio pengakuan korban yang diperoleh Covesia, sang anak bercerita bahwa pelaku memasukkan ujung jari telunjuknya ke dalam kemaluannya sehingga membuat korban menangis kesakitan. Berdasarkan pengakuan korban pula, pelaku baru satu kali mengerjai korban. 

Sementara itu, sang dokter, kata sumber Covesia dari LKPS ABH Kasih Ibu, baru bersedia untuk memvisum korban apabila sudah ada laporan pengaduan ke pihak kepolisian. Selain itu, visum yang dilakukan harus didampingi pula oleh pihak kepolisian.

Mendapatkan penjelasan seperti itu, pada hari yang sama, para pegawai bersama korban dari Puskesmas Air Dingin lalu pergi ke kantor Dinsos Kota Padang di Jalan Delima Kecamatan Padang Barat. Di Dinsos, mereka menemui Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial, Sekretaris, dan Kepala Dinsos Kota Padang.

Berdasarkan penuturan sumber Covesia, Kepala Dinsos Kota Padang Afriadi berkata kepada para karyawan tersebut bahwa pelaku sudah dipanggil dan disidang terkait kasus yang dialami korban. Sebagaimana yang dijelaskan tadi, pelaku dipanggil pada pertengahan Januari 2020.

Hasil keputusannya: "Kasusnya dipertimbangkan. Kalau dalam tiga bulan ke depan, dia melakukannya lagi, baru dipecat. Kasihan kita. Memutuskan rezeki orang," ujar Kepala Dinsos kepada para karyawan, seperti ditirukan oleh sumber Covesia tersebut. Jadi, sudah jelas kan hingga saat itu pelaku belum ada tanda-tanda akan dipecat atau dilaporkan ke kepolisian oleh pejabat Dinsos. 

Tidak puas dengan hal tersebut, pada hari yang sama pula, para karyawan bersama korban lalu pergi  menemui Sekda Pemerintah Kota (Pemkot) Padang di Balaikota. 

Pada saat itu, di hadapan para karyawan dan korban yang menemuinya, Sekda Pemkot Padang Amasrul menghubungi Afriadi via telepon. Amasrul menegur Afriadi dan bertanya tentang alasan pelaku masih saja berkerja di LKPS dan belum dipecat. Amasrul me-loud speaker-kan suara teleponnya sehingga apa yang dikatakan oleh Afriadi dari balik sambungan telepon bisa didengar jelas oleh para karyawan yang membawa korban.

"Ya, Pak. Ka ambo pecat lai," ujar sumber Covesia menirukan jawaban Alfiadi dari balik sambungan telepon. 

Setelah menemui Amasrul, para karyawan bersama korban lalu kembali ke LPKS ABH Kasih Ibu. 

"Sejak pertemuan dengan Sekda tanggal 20 Januari itu hingga sekarang, pelaku masih saja bekerja sebagai tukang sapu, tukang bersih-bersih," ujar sumber Covesia.

Ada Korban Lain Remaja Putri 13 Tahun

Selain korban yang berumur 4 tahun, HS juga memiliki korban lainnya, yaitu seorang remaja putri berumur 13 tahun. Sumber Covesia mengatakan bahwa korban yang kedua ini mengalami pelecehan seksual oleh pelaku sebanyak tiga kali. 

Remaja putri tersebut pertama kali dipegang tangannya dalam minggu pertama Januari. Beberapa hari kemudian, pelaku kembali mengulang perbuatannya dengan memegang tangan korban. Aksi pertama dan kedua pelaku tersebut hanya sekedar pegang tangan serta ditolak oleh korban. 

Berdasarkan rekaman audio pengakuan remaja putri 13 tahun tersebut yang diperoleh Covesia, sang korban mengaku, pada aksi ketiga pelaku yakni beberapa hari setelah aksi kedua, pelaku memeluknya dari belakang lalu menciumnya.

Ketiga aksi tersebut dilakukan HS di pos satpam pada malam hari. Kata sumber Covesia, pada malam hari, pos satpam sepi aktivitas pengamanan. Anak-anak pun sering ke pos satpam tersebut. "Entah apalah istimewanya pos satpam itu, tapi anak-anak sering ke sana," ujarnya.

Sama dengan korban yang pertama gadis usia 4 tahun tadi, korban kedua ini awalnya tidak mau mengungkapkan apa yang dialaminya. "Setelah dibujuk, baru bersedia," ujarnya.

Belakangan, remaja putri 14 tahun tersebut tidak lagi di LPKS ABH Kasih Ibu. Dia kabur tanpa sepengetahuan petugas dari sana dengan alasan yang tidak diketahui. 

Berdasarkan informasi yang dihimpun, diduga Dinsos menutup-nutupi kasus tersebut dengan tujuan untuk menjaga nama baik instansi. Bagaimana mungkin LPK ABH Kasih Ibu yang merupakan pusat rehabilitasi sosial bagi anak-anak yang bermasalah pada hukum bisa menjadi tempat mangsa pedofil. 

Meski hanya bekerja sebagai tukang kebersihan, pelaku tidak dipecat diduga karena memiliki hubungan kekeluargaan dengan seseorang dari Dinas Sosial Provinsi Sumbar'.

"Bekingannya kuat" ujar sumber Covesia.

Pun, para karyawan berharap pimpinan Dinsos Kota Padang segera menyelesaikan kasus ini. Mereka para karyawan itu tidak berani mengadukan kasus tersebut sendiri ke kepolisian karena takut mendapatkan intimidasi dari pihak pimpinan Dinsos Kota Padang berupa pemecatan dan karena alasan bekingannya kuat tadi. 

Berdasarkan penelusuran Covesia.com, pada Jumat (14/2/2020) kemarin, pelaku HS masih aktif bekerja di LPKS ABH Kasih ibu yang terletak di Kelurahan Balai Gadang, Kecamatan Koto Tangah itu.

Tanggapan Dinsos

Sementara itu, saat dihubungi via telepon pagi ini, Sabtu (15/2/2020), Afriadi selaku Kepala Dinsos Kota Padang pun buka suara. Dia mengatakan bahwa pelaku sudah diselidiki oleh Dinsos Kota Padang. 

"Anak itu (pelaku) sudah diberhentikan dengan tidak hormat karena ada menjurus seperti itu (melecehkan dua orang anak)," ujarnya. 

Kata Afriadi, berdasarkan hasil pemeriksaan psikolog dari Dinsos Kota Padang, pelaku mengalami kelainan kejiwaan.

Ketika ditanyakan mengapa pelaku tidak dipecat sejak Januari lalu sejak pengakuan gadis usia 4 tahun tersebut mencuat sehingga korban kedua berjatuhan, Afriadi mengatakan pelaku memang sudah dipecat sejak Januari sehingga tidak perlu.

"Mulai ketahuan, kita selidiki dulu, apakah benar kita datangkan tim dulu. Kan tidak mudah memberhentikan orang. Dicek semuanya dulu," ujarnya.

Katanya, pelaku memang  sudah dipecat sejak bulan Januari. Pelaku sudah memiliki SK. Oleh karena itu, Dinsos perlu melakukan pertimbangan 

Dipecat kan sudah sejak Januari. Mulai ketahuan, kita selidiki dulu, apakah benar kita datangkan tim dulu. Kan tidak bebas memberhentikan 

Saat ini, pelaku sudah tidak lagi berstatus sebagai pegawai di sana. 

Kata Afriadi, pada Januari lalu, sempat ada tes urin dari Dinas Kesehatan Kota Padang. "Berdasarkan hasil tes urin, ada mengarah ke sana (pelaku positif narkoba)," ujarnya. 

Dia mengakui bahwa pelaku sempat dipanggil dan disidang pada pertengahan Januari lalu. 

"Sebagai seorang pimpinan, kita tidak seenaknya bisa memecat orang. Makanya, kita beri kesempatan, berubah ndak dia. Selain itu, kita harus menyelidiki dulu. Ternyata iya, baru kita ambil tindakan," ujarnya. 

Saat ditanyakan apakah ada kemungkinan korban lain, Afriadi mengatakan, "Memang (hanya) dua orang itu." Dinsos Kota Padang sudah menelusuri hal tersebut. "Tidak ada," ujarnya. 

Saat ditanyakan apakah kasus ini akan dilaporkan ke kepolisian, Afrinaldi memberikan jawaban yang mengawang-awang. "Kalau udah dipecat, itu tergantung dia." Menurut Afrinaldi, kalau sudah dipecat berarti sudah tidak tanggung jawab Dinsos Kota Padang lagi. Dinsos Kota Padang akan menyerahkan pelaku kepada keluarganya untuk dibina. 

Saya menanyakan apakah benar alasan Dinsos Kota Padang tidak membawa kasus ini ke kepolisian untuk menjaga nama baik institusi, Afriadi menjawab, "Semua orang kayak gitu. Tidak hanya Dinas Sosial saja. Kalau diselesaikan di bawah (Dinsos Kota Padang), untuk apa lagi dibawa ke atas (pihak kepolisian)."

Covesia juga menghubungi Amasrul selaku, Sekda Kota Padang via telepon. Kepada Covesia, dirinya mengaku bahwa dia memang mendapakan laporan kejadian tersebut dari petugas Dinsos Kota Padang.

"Saya sudah suruh pecat, disuruh proses, sama kepala dinasnya," ujarnya. 

Dia mengakui bahwa, setelah mendapatkan laporan dari petugas Dinsos tersebut, dirinya langsung menghubungi Kepala Dinsos untuk memecat orangnya. "Sudah saya suruh pecat petugasnya (pelaku tersebut)," ujarnya.

(fkh/lif)

Berita Terkait

Baca Juga