Walhi Sumbar Duga Pemodal Tambang Ilegal di Nagari Cubadak Oknum Pemkab Pasaman

Walhi Sumbar Duga Pemodal Tambang Ilegal di Nagari Cubadak Oknum Pemkab Pasaman Sumber: Walhi Sumbar

Covesia.com - Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Sumatera Barat (Sumbar) menyatakan bahwa ada lima titik tambang emas ilegal di Nagari Cubadak Kecamatan Duo Koto Kabupaten Pasaman Provinsi Sumbar. Di lima titik tambang emas ilegal tersebut, terdapat tujuh eskavator yang beroperasi. 

Zulpriadi selaku Staf Advokasi dan Penegakan Hukum Walhi Sumbar menyampaikan bahwa pekerja di tambang emas ilegal tersebut adalah masyarakat, baik yang berasal dari luar maupun di dalam Nagari Cubadak. 

"Pekerjanya masyarakat yang ada di Nagari Cubadak. Beberapa ada yang dari luar. Perkiraan kita (terkait jumlah perkerjanya), 1 eskavator itu membutuhkan (tenaga kerja) 5-6 orang. Kalau ada 7 eskavator, silahkan dikalikan saja," ujarnya saat dihubungi Covesia via telepon, Senin (10/2/2020).

Selain itu, Walhi Sumbar menyebut ada satu orang oknum di Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pasaman yang diduga menjadi pemodal di tambang emas ilegal di Nagari Cubadak tersebut. 

"Dari hasil investigasi, dari hasil wawancara, dari data yang kita kumpulkan, ada satu orang dari jajaran eksekutif Pemkab Pasaman yang menjadi pemodal. Di Nagari Cubadak, baru satu kita identifikasi," ujarnya. 

Zulpriadi menolak menyebutkan nama pemodal tersebut karena baru diduga. Dia menjelaskan bahwa, dalam waktu dekat, Walhi Sumbar juga akan melakukan konferensi pers terkait beroperasinya tambang emas ilegal di nagari lainnya di Pasaman.

Di Pasaman sendiri, kata Zulpriadi, tambang emas ilegal sempat berhenti pada 2015 dikarenakan adanya razia besar-besaran yang dilakukan oleh Polda Sumbar dan Polres Pasaman. Meski demikian, tambang emas ilegal kembali marak sejak 2019. 

Di Nagari Cubadak, berdasarkan keterangan pers yang diterima Covesia, beroperasinya tambang emas ilegal mengakibatkan kerusakan Aliran Sungai Jernih yang merupakan Sub Daerah Aliran Sungai (DAS) Pasaman. 

"Aktivitas tambang ilegal ini mengakibatkan hancurnya Aliran Sungai Jernih yang merupakan sumber air bersih bagi masyarakat di Nagari Cubadak, tepatnya Batang Kundur, Kampuang Lanai dan Kampung Sinuangon. Serta akan berdampak juga pada daerah yang dialiri sungai tersebut yaitu nagari-nagari hilir seperti Nagari Sinuruik, Muro Kiawai, Aia Gadang, Lingkuang Aua, Nagari Kapa dan Muaro Sasak Kabupaten Pasaman Barat," ujar Kepala Departemen Advokasi, Riset, dan Kampanye Walhi Sumbar Yoni Candra.

Dia mengatakan Pemerintah Provinsi Sumbar dalam hal ini gubernur dan Kapolda Sumbar harus menaruh perhatian serius dalam penanganan dan penindakan aktivitas tambang ilegal. 

"Sehingga bencana ekologi tidak semakin meluas terjadi di masa mendatang," ujarnya.

(fkh/rdk)

Berita Terkait

Baca Juga