Kapitra Ampera ke Andre Rosiade: Kesombongan Mendahului Kejatuhan

Kapitra Ampera ke Andre Rosiade Kesombongan Mendahului Kejatuhan Kapitra Ampera

Covesia.com - Politikus PDIP Kapitra Ampera menyatakan bahwa tindakan politikus Gerindra Andre Rosiade gerebek NN, sang pekerja seks, di Ruang 606 Hotel Kyriad Bumi Minang Kota Padang Provinsi Sumatera Barat telah melanggar etika anggota dewan.

"Itu merupakan perbuatan menzalimi rakyat kecil. Mana ada orang yang mau jadi pekerja seks kecuali memang terpaksa. Tapi mengapa kok malah mereka yang dijadikan kelinci percobaan. (Tindakan Andre Rosiade) ini juga melanggar etika. Harus dilaporkan ke MKD," ujarnya saat dihubungi Covesia via Whatsapp, Jumat (7/2/2020).

Kapitra yang juga ahli hukum Indonesia itu menekankan agar pihak yang merasa dirugikan dalam kasus tersebut untuk melaporkan tindakan Andre ke MKD DPR RI. "Siapa saja boleh melapor karena ini masalah etik," ujarnya.

Kapitra juga mengatakan bahwa penggerebekan Andre tersebut tidak sepantasnya dilakukan oleh seorang anggota dewan.

"Penggerebekan itu tugas penegak hukum, bukan anggota DPR. Andre Rosiade itu di Komisi VI. Anggota Komisi III saja yang bidangnya hukum tidak boleh melakukan penggerebekan," ujarnya.

Lebih lanjut, kepada Covesia, Kapitra mengatakan, "Bilang sama Andre, kesombongan mendahului kejatuhan.

Sebelumnya diberitakan bahwa sudah lebih dari sepekan Polda Sumbar meringkus NN. NN saat ini ditahan oleh penyidik Polda Sumbar. Meski demikian, pertanyaan tentang siapa lelaki yang berada di Ruang 606 bersama NN masih samar.

Saat dihubungi Covesia via telepon pada hari kejadian, Minggu (26/1/2020), Kabid Humas Polda Sumbar Kombes Pol Stefanus Satake Bayu Setianto menyatakan bahwa kasus prostitusi tersebut terungkap berkat adanya informasi dari anggota DPR RI Andre Rosiade.

Andre Rosiade, kata Stefanus, ingin membuktikan bahwa di Kota Padang banyak terjadi prostitusi daring.

Ketua DPD Partai Gerindra Sumbar itu, kata Stefanus pula, ingin 'membuka mata' Pemerintah Kota Padang dan DPRD Sumbar agar tidak membiarkan polisi bekerja sendiri, melainkan harus bisa bekerja sama.

"Andre ini ingin ikut serta memberantas maksiat tersebut. Ia memancing dan memesan pekerja seks komersial dengan masuk ke aplikasi MiChat melalui akun temannya. Ia pun melakukan transaksi dan disepakati harga Rp800.000 di salah satu hotel di Kota Padang," sebut Bayu.

Covesia.com juga berhasil menemui NN secara langsung. Berkat bantuan Kombes Pol Stefanus, wawancara bisa dilakukan di Mapolda Sumbar, Senin (3/2/2020) siang.

NN pun sempat menitikkan air mata ketika mengungkapkan kronologi penggerebekan itu; bahwa dia digerebek setelah "dipakai" oleh pria yang merupakan kliennya.

Berdasarkan struk reservasi yang diperoleh Covesia, Andre Rosiade mem-booking hotel tersebut pada 26 Januari 2020 dengan waktu check in pukul 14.00 WIB dan waktu check out pukul 12.00 WIB pada tanggal 27 Januari 2020.

Andre Rosiade memesan hotel tersebut dengan menggunakan KTP atas nama Bimo Nurahman, pria kelahiran Jakarta, 21 Juni 1994, belakangan diketahui pria itu merupakan ajudan Andre.

Andre Rosiade sendiri membantah bahwa dirinya yang mem-booking PSK dan kamar hotel. Tapi dia mengakui bahwa kamr hotel itu dipesan oleh Bimo, sang ajudannya.

(rul)

Baca juga: Politisi PDIP Soal Penjebakan Pekerja Seks di Padang: Penyewa Kamar 606 Bisa Dipidana

Baca juga: Turunkan Tim ke Sumbar, Gerindra Minta Maaf Terkait Andre Rosiade

Berita Terkait

Baca Juga