Pakar Hukum: Alat Bukti dari Penjebakan (NN) Tidak Bisa Diterima di Peradilan Pidana

Pakar Hukum Alat Bukti dari Penjebakan NN Tidak Bisa Diterima di Peradilan Pidana Tangkapan layar video Andre Rosiade (kiri), tersangka NN (kanan) dalam peristiwa penggerebekan prostitusi online di Padang, Minggu (26/1/2020). Sumber: instagram.com/andre_rosiade

Covesia.com - Pakar Hukum Pidana Universitas Andalas Padang, Sumatera Barat, Elwi Danil menjelaskan alat bukti yang diperoleh dari tindak penjebakan tidak dapat diterima dalam peradilan pidana. Elwi menyorot hal ini sekaitan dengan penggerebekan prostitusi daring di Padang (Minggu,26/1/2020) dengan dua tersangaka NN dan AS.

Menurutnya, sebelum ditetapkan sebagai tersangka maka harus di lihat dulu apakah transaksi itu dilakukan langsung oleh pekerja seks tersebut atau tidak.

"Tapi, kalau dia langsung menawarkan diri dan melakukan transaksi, maka si pekerja seks bisa dijerat dengan pasal UU ITE yang dimaksud yakni Pasal 27 ayat (1) jo Pasal 45 ayat (1)," kata Elwi saat dihubungi Covesia.com, Rabu (5/2/2020).

Baca juga: Komisi III DPR RI Akan Turun Tangan Terkait Kasus Penggerebekan Pekerja Seks di Padang

Lanjut Elwi, bunyi pasal yang dimaksud yaitu, Pasal 27 ayat (1); setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik yang memiliki muatan yang melanggar kesusilaan.

Pasal 45 ayat (1); Setiap orang yang memenuhi unsur sebagimana dimaksud dalam pasal 27 ayat (1), ayat (2), ayat (3), ayat (4) dipidana penjara paling lama 6 tahun dan/atau denda paling banyak Rp1.000.000.000.

Maka di sini jelas, kata Elwi, bahwa yang bisa dijerat hanya memuat dan mendistribusikan konten yang memiliki muatan melanggar kesusilaan.

Baca juga: Soal Penggerebekan NN, Nurani Perempuan: Ada Unsur Persekusi Terhadap Perempuan

Elwi juga mengatakan, sebelumnya diketahui juga bahwa dalam penangkapan NN ini dilakukan dalam proses penjebakan oleh Anggota DPR RI Andre Rosiade, bersama kepolisian. 

"Makanya, itu harus diketahui juga bahwa kalau alat bukti yang digunakan dalam menjerat tersangka adalah alat bukti yang diperoleh karena penjebakan, maka alat bukti itu dianggap sebagai alat bukti yang tidak sah," jelasnya.

"Sehingga alat bukti itu tidak bisa diterima dalam proses peradilan pidana yang bersangkutan," tambahnya.

Baca juga: Barang Bukti Kondom Dipersoalkan Andre Rosiade, NN: Aku Bawa Dua Kondom

Untuk itu, menurutnya, cara yang dapat ditempuh oleh tersangka adalah dengan mengujinya ke praperadilan, dan meminta untuk memutus bahwa penetapan status tersangkanya tidak sah. 

Elwi meminta, hendaknya pihak kepolisian bisa menghadirkan si (pemilik akun MiChat) pemesan pekerja seks tersebut, agar permasalahan ini bisa jelas.

Kemudian Elwi menegaskan, bahwa ada sebuah postulat klasik dalam hukum yang patut dipegang penegakan hukum, yakni hukum tidak boleh ditegakkan dengan cara melawan hukum.

Diketahui, sudah lebih dari sepekan NN (26) ditahan oleh penyidik Polda Sumbar. Meski demikian, pertanyaan tentang siapa lelaki yang berada di Ruang 606 bersama NN masih samar. 

(per/rdk)

Berita Terkait

Baca Juga