Dua Warga Saibi Korban Salah Tangkap Mengadu ke DPRD Mentawai

Dua Warga Saibi Korban Salah Tangkap Mengadu ke DPRD Mentawai Dok. Mentawaikita.com

Covesia.com - Sekira 10 warga asal Saibi, Siberut Tengah, Kabupaten Kepulauan Mentawai yang bekerja sebagai pengolah kayu di hutan daerah Goiso Oinan, Kecamatan Sipora Selatan, menemui anggota DPRD Mentawai, Senin (27/1/2020) kemarin.

Kedatangan warga Siberut Tengah ke kantor DPRD Mentawai meminta permohonan mediasi penyelesaian persoalan sekaligus perlindungan atas tuduhan pemerkosaan anak di bawah umur di Goiso Oinan yang terjadi pada Kamis, (16/1/2020).

Dilansir dari mentawaikita.com, dari tuduhan tersebut, mereka mendapat ancaman pengusiran dari warga Goiso Oinan dan menghentikan kegiatan pengolahan dan penebangan kayu di daerah Goiso Oinan, jika tidak mengindahkan dan patuh dengan waktu yang ditentukan selama 5 hari mulai Senin, (20/1/2020) mereka akan diusir secara paksa.

Dari tuduhan pemerkosaan anak di bawah umur, dua dari warga Siberut Tengah berinisial SS dan A yang bekerja mengolah kayu ditangkap dan sempat diamankan pihak kepolisian dan ditahan selama 2 hari di Polres Mentawai tetapi kemudian mereka bebas karena tidak bukti bukti mereka sebagai pelaku.

Karena merasa tidak nyaman dituduh melakukan tindakan pemerkosaan anak di bawah umur, warga Siberut Tengah yang menjadi pengolah kayu itu mengadu kepada  anggota dewan mencari solusi terhadap persoalan ini, karena tuduhkan tersebut mereka harus berhenti bekerja.

Kedatangan mereka ke kantor DPRD Mentawai menyampaikan permintaan perlindungan, dan pemulihan nama baik mereka, yang berakibat 2 orang dari warga Siberut menjadi korban salah tangkap dan tuduhan pemerkosaan.

Mereka didampingi Agusman Sanene yang juga warga Siberut Tengah dan diterima Isar Tailelelu, salah satu pimpinan DPRD Mentawai, dan anggota Salimi Samuntei, Bruno Guimek Sagalak, Stefanus V. Sabaggalet, Robertyl Saogo, Jimer Munte, Fortenmart Yohannes Pardede, Parsaoran Simanjuntak.

Kepada anggota DPRD, warga tersebut meminta dicarikan solusi dari persoalan yang diadukan, karena menurut mereka jika tidak diselesaikan cepat dikhawatirkan akan semakin besar dan tidak bisa dikendalikan karena pengusiran akibat dari tuduhkan tersebut berpotensi terjadi konflik sosial.

Mereka juga memprotes perlakuan pihak kepolisian yang dinilai tidak profesional dalam bekerja sehingga ada warganya yang menjadi korban salah tangkap dan diduga mengalami tindakan kekerasan sehingga pada bagian badan tampak bekas pemukulan.

“Kami berharap kepada bapak-bapak membantu kami menyelesaikan persoalan kami dan cepat dicari solusinya, kami tidak terima dituduh, dan ini adalah fitnah, kami tidak melakukan itu, kami pendatang di sini (Sipora), kami hanya mencari makan, kalau kami tidak kerja maka kami tidak makan, kalau persoalan administrasi KTP tidak ada tidak masalah kami mengalah soal itu, tapi jangan fitnah kami,” kata Peter Bedieman, mewakili warga Siberut.

Kemudian terkait persoalan dugaan pemukulan kepada dua orang warga Siberut, mereka berharap DPRD Mentawai dapat memediasi persoalan tersebut. “Kami tidak keberatan pihak kepolisian membawa  mereka ke kantor polisi, atau ditangkap, tetapi mereka jangan dianiaya, dipukuli kalau tidak ada terbukti,” tambah Peter saat berdialog dengan anggota DPRD Mentawai.

Agusman Sanene  meminta DPRD menyurati kepolisian untuk memulihkan nama baik terutama warga Siberut jika tidak bersalah. “Prosedur yang dilakukan oleh pihak kepolisian seharusnya diselidiki dulu sesuai laporan yang diterima dari pelapor, ini sudah dipukuli ternyata salah tangkap, saya pikir ini polisi tidak profesional, dan sudah ada tindakan pelanggaran HAM,” kata Agusman.

Kesimpulan dari dialog tersebut, DPRD Mentawai akan menyurati pemerintah kecamatan, desa, karang taruna setempat untuk memediasi penyelesaian persoalan ini. “Aspirasi kami terima dan kami akan menyurati camat, karang taruna, kepala desa untuk melakukan pertemuan mencari solusinya, kami hanya memfasilitasi tidak bertindak sebagai penyidik tetapi memediator,” kata Isar Taileleu pada dialog tersebut.

Diwawancara terpisah, salah satu korban salah tangkap bernama Anas, menjelaskan kedatangan polisi ke lokasi tempat tinggal mereka yang berada di daerah Goiso Oinan sudah diketahui sebelumnya yang disampaikan bos mereka.

Kedatangan polisi tidak disampaikan memang tidak secara spesifik bos tersebut apakah mencari pelaku pemerkosaan atau razia kayu kepada anggotanya yang bekerja mengolah kayu tersebut. “Namun Bos kami bilang kalau datang polisi bilang saja kalian adalah pelangsir pasir,” kata Anas menirukan pesan yang disampaikan bos tersebut.

Pada Jumat malam (17/1/2020), pihak kepolisian datang, Anas dan rekannya yang lain  mengira razia kayu, kemudian Sumardi Saririkka yang juga menjadi korban salah tangkap pada saat polisi datang menuju ke belakang untuk mengamankan mesin sinso yang digunakan sebagai alat penebang atau pengolah kayu.

“Kami juga kaget dan takut kedatangan polisi tersebut  kami kira memang razia kayu, dan kami kaget dan takut kedatangan polisi juga kami tidak tahu karena datang tidak menyampaikan maksud apa, karena takut adanya polisi rekan saya Sumardi langsung lari dari lokasi itu,” jelas Anas.

Anas mengatakan polisi sempat melepas tembakan pada malam itu, dan pada malam itu juga mereka ditanyai polisi soal siapa yang keluar malam dari tempat mereka. “Kami makin bingung mau jawab apa, karena kami takut dan bingung, kami juga ditampar menggunakan sandal di tengah kebingungan kami malam itu, dan kami bertanya dalam hati kenapa kita dipukul apa salah kami,”kata Anas menjelaskan kronologis.

Kemudian pada malam Jumat malam (17/1/2020) Anas dibawa ke kantor polisi di sana kata dia ditanyai soal pelaku pemerkosaan terhadap anak di bawah umur yang terjadi di Goiso Oinan, pihaknya juga mengaku dia ditanya dan ditendang oleh polisi dan juga ditampar.

Rekan Anas kemudian ditangkap pada malam itu, dan saat di kantor polisi mereka menjelaskan bahwa rekannya yang sempat lari bernama Sumardi, bukan karena melarikan diri tetapi karena takut dikira razia kayu, pada saat itu juga dia menjelaskan kepada polisi pelaku pemerkosaan bukan mereka dan akhirnya karena tidak terbukti bersalah keduanya baru dibebaskan pada Minggu,(19/1/2020) malam.

Dikonfirmasi kepada Kasatreskrim Polres Kepulauan Mentawai, Iptu Irmon melalui sambungan telepon dan Whatsapp, pihaknya belum bisa menjawab karena masih berada di Sikakap, dan jaringan komunikasi sulit. 

(lif)

Berita Terkait

Baca Juga