AS Juga Pernah Tembak Jatuh Pesawat Komersial Secara Tak Sengaja

AS Juga Pernah Tembak Jatuh Pesawat Komersial Secara Tak Sengaja Ilustrasi (pixabay)

Covesia.com - Iran mengakui tak sengaja menembak pesawat Komersial asal Ukraina yang membawa 176 penumpang dan awak. Sebelum Iran, Amerika Serikat (AS) juga pernah menembak pesawat komersial secara tak sengaja.

Seperti dilansir Associated Press, Jumat (10/1/2020) lalu, pesawat yang tertembak itu ialah pesawat Iran Air nomor penerbangan 655. Pesawat ini jatuh pada 3 Juli 1988 silam setelah ditembak oleh Angkatan Laut AS (US Navy). Sedikitnya 290 orang tewas dalam tragedi itu.

Iran sempat mensejajarkan tragedi Iran Air dengan kudeta yang didukung CIA tahun 1953 silam yang melengserkan perdana menteri terpilih dan mengamankan kekuatan penuh bagi Shah Mohammad Reza Pahlavi, hingga dia turun takhta sebelum Revolusi Iran tahun 1979.

Presiden Iran Hassan Rouhani sempat menyinggung tragedi Iran Air saat mengkritik komentar Presiden AS Donald Trump soal pasukan militer AS telah memilih 52 target di Iran untuk diserang jika diperlukan. Satu target diketahui mewakili satu sandera AS saat pendudukan Kedutaan Besar AS di Teheran tahun 1979 silam.

"Mereka yang merujuk pada angka 52 seharusnya juga ingat angka 290. #IR655," tulis Rouhani via Twitter saat itu. "Jangan pernah mengancam negara Iran," imbuhnya yang dilansir dari detik.com.

Serangan terhadap Iran Air saat itu terjadi ketika US Navy sedang melancarkan Operation Praying Mantis, yakni pertempuran laut di Teluk Persia selama seharian penuh antara pasukan Amerika dan Irak saat perang berkepanjangan dengan Irak tahun 1980-an.

Pertempuran terjadi setelah USS Samuel B Robertson, salah satu kapal perang AS, terkena ranjau yang diyakini AS dipasang oleh Iran di jalur pelayaran yang berusaha tetap dibuka untuk kapal-kapal tanker minyak Kuwait di tengah 'Tanker War'. Usai pertempuran itu, US Navy melakukan patroli di perairan itu dan Garda Revolusi Iran sering mengganggu atau mengerumuni kapal-kapal yang datang dengan kapal kecil.

Selang beberapa hari usai Iran menyinggung AS terkait tragedi Iran Air, ternyata Iran melakukan hal sama terkait jatuhnya Pesawat Ukraina. Iran mengakuinya kesalahannya itu pada Sabtu (11/1).

Dalam pengakuannya, Angkatan Bersenjata Iran menjelaskan penembakan itu dikarenakan kesalahan manusia atau human error lantaran pesawat penumpang tersebut terbang di dekat pusat militer sensitif Garda Revolusi.

Pesawat itu pun ditembak jatuh karena dikira sebagai target musuh. Disebutkan bahwa saat itu, militer Iran dalam "kesiapan level tertinggi" di tengah meningkatnya ketegangan dengan AS.

"Dalam kondisi seperti itu, dikarenakan kesalahan manusia dan dalam cara yang tak disengaja, penerbangan itu ditembak," demikian statemen militer Iran yang disertai permintaan maaf atas musibah itu dan menyatakan akan memperbaiki sistemnya untuk mencegah terulangnya kesalahan serupa di masa mendatang.

Komandan dirgantara Garda Revolusi Iran, Brigadir Jenderal Amirali Hajizadeh kemudian menyatakan bahwa operator rudal terpaksa menembakkan rudal itu secara independen karena adanya gangguan komunikasi. Personel militer yang menjadi operator rudal itu keliru mengira pesawat milik maskapai Ukraina sebagai "rudal jelajah" dan dia hanya punya waktu sepuluh detik untuk memutuskan apakah akan menembakkan rudal atau tidak.

Atas tragedi itu, militer Iran pun memastikan bahwa para personelnya yang bertanggung jawab atas tragedi itu akan diadili. Para pelaku, kata militer Iran, akan segera dibawa ke pengadilan militer.

Perdana Menteri (PM) Kanada Justin Trudeau yang sebelumnya meyakini pesawat Ukraina itu dirudal militer Iran juga sudah angkat bicara. Trudeau menyatakan bahwa penyelesaian dan pertanggungjawaban diperlukan setelah Iran mengaku tak sengaja menembak jatuh pesawat penumpang milik maskapai Ukraina di Iran pekan ini.

Pesawat penumpang milik maskapai Ukraine International Airlines tersebut ditembak jatuh pada Rabu (8/1) pagi waktu setempat, beberapa jam setelah Iran melancarkan serangan rudal balistik ke dua pangkalan militer yang menjadi markas pasukan Amerika Serikat di Irak. Serangan rudal itu sebagai pembalasan atas tewasnya jenderal Iran, Qassem Soleimani dalam serangan udara AS di Baghdad, Irak pada 3 Januari lalu.

(dtc)

Berita Terkait

Baca Juga