Malam Puncak Festival Pamalayu Dihadiri Seribuan Masyarakat

Malam Puncak Festival Pamalayu Dihadiri Seribuan Masyarakat Malam puncak Festival Pamalayu dilaksanakan, Senin (6/1/2020). Acara berlangsung di kompleks Candi Padang Roco Kabupaten Dharmasraya Provinsi Sumatera Barat (Sumbar). (Foto: Fakhruddin Arrazi)

Covesia.com - Malam puncak Festival Pamalayu dilaksanakan, Senin (6/1/2020). Acara berlangsung di kompleks Candi Padang Roco Kabupaten Dharmasraya Provinsi Sumatera Barat (Sumbar). 

Berdasarkan pantauan Covesia.com, sebuah panggung acara didirikan di dekat lokasi situs peninggalan kejayaan Kerajaan Dharmasraya tersebut. Seribuan masyarakat tampak antusias mengikuti acara. Masyarakat yang hadir berasal dari beragam usia, seperti orang dewasa, remaja, bahkan anak-anak.

Pada acara tersebut, Wakil Gubernur Sumbar Nasrul Abit dan Bupati Dharmasraya Sutan Riska juga tampak hadir. Acara juga diramaikan dengan berbagai macam pameran seperti pameran artefak, pameran bonsai dharmasraya, pameran kaligrafi, dan sebagainya. 

Acara malam puncak festival ini dimulai sekitar 20.30 WIB. Acara dimulai dengan penampilan para seniman asal Desa Muara Jambi yang bergabung dalam grup band Senandung Swaradipa. Setelah itu, ada penampilan drama kolosal dari berbagai sanggar tari yang ada di Dharmasraya. Mereka membawakan drama tentang sejarah Kerajaan Dharmasraya.

Pada saat acara berlangsung, sejumlah pengunjung tampak mengeluarkan android mereka. Mereka merekam jalannya acara melalui kamera ponsel mereka, dan mungkin menyebarkannya ke media sosial yang mereka miliki.

Bupati Dharmasraya Sutan Riska, di dalam sambutannya, mengatakan bahwa acara Festival Pamalayu resmi dimulai 22 September 2019 dan akan berakhir pada 7 Januari 2020. Malam ini adalah acara puncaknya.

"Ini acara terpanjang yang pernah diadakan, dan perdana bagi Dharmasraya untuk mengadakannya," ujarnya.

Sutan Riska mengatakan Festival Pamalayu bertujuan untuk meluruskan kembali sejarah Dharmasraya. 

Salah satu catatan sejarah yang mematri nama Dharmasraya adalah Arca Amogaphasa yang saat ini disimpan di Museum Nasional bersama Arca Bhairawa. Keduanya ditemukan di  Dharmasaya sebagai bukti sejarah besar di masa lalu. Selain berbagai termuan artefak kuno serta bekas candi di beberapa tempat, antara lain di situs Padang Roco dan Pulau Sawah.

Arca amogaphasa yang menjadi titik penting dalam sejarah  tersebut merupakan hadiah Raja Singosari Kertanegara kepada Raja dan masyarakat Dharmasraya, dan dibawa dalam ‘Ekspedisi Pamalayu’ yang pada 22 Agustus 1286.

Hal yang pasti, Dharmasraya punya peradaban masa lalu, yang bisa dilihat dari sejumlah peninggalan sejarah dan budaya seperti candi di Pulau Sawah dan Padang Roco. 

Sutan Riska mengatakan bahwa acara ini diadakan agar generasi milenial mengetahui sejarah hebat ini. "Kita berada di tengah-tengah titik-titik Sumatera," ujarnya. 

Rencananya, acara ini akan diadakan tiap tahun agar bisa menjadi ajang silaturahmi antara masyarakat dengan Pemerintah Kabupaten Dharmasraya. Dia berterima kasih kepada masyarakat yang antusias mengikuti acara malam puncak ini. 

Dikatakan Sutan Riska, pada 20 Januari 2020, akan diadakan juga seminar sejarah Dharmasraya saat menjadi ibukota negara RI pada masa PDRI selama empat hari di 1949. Seminar tersebut juga akan menggali tentang sejarah Sungai Batanghari yang menjadi tempat lalu lintas perdagangan rempah-rempah dari Dharmasraya ke penjuru dunia seperti Eropa dan Saudi Arabia. 

"Kita harus menetapkan semangat dulu kepada generasi muda kita," ujarnya.

Festival Pamalayu juga bertujuan untuk menggali kembali jati diri bangsa Indonesia melalui peninggalan sejarah masa lampau Indonesia. Hal ini sesuai dengan instruksi Presiden RI melalui Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. "Kita sudah melakukannya. Kita harus bangga dengan apa yang ada di negara kita ini, khususnya di Kabupaten Dharmasraya," jelasnya. 

Pada kesempatan tersebut, Sutan juga menjelaskan pembangunan yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Dharmasraya. Pada 2019, Pemerintah Kabupaten Dharmasraya menganggarkan pembangunan Islamic Center sebanyak sekitar Rp100 miliar di Kabupaten Dharmasraya. Rencananya, pembangunan tersebut selesai pada 2020. "Itu tujuannya untuk memperkuat agama kita," jelasnya.

Sutan juga menjelaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Dharmasraya juga berencana menjadikan kompleks Candi Padang Roco sebagai museum pada tahun ini. Hal ini, kata Riska, sudah dibicarakannya dengan Ditjen Kebudayaan. "Saya  sudah membuat gambarnya," ujarnya pula.

Selain itu, di Dharmasraya, rencananya akan dibangun pula rumah gadang terbesar di Dharmasraya. 

"Saya sudah sampaikan kepada seluruh ninik mamak bahwa kita akan membangun rumah gadang terbesar di Sumbar pada 2021, letaknya di Dharmasraya," ujarnya. 

Ketiga pembangunan infrastruktur tersebut merupakan pembangunan untuk mengembangkan kembali adat istiadat, agama, dan sejarah Kabupaten Dharmasraya. "Tiga pondasi besar ini yang akan kita wariskan kepada anak cucu kita," ujarnya.

Wakil Gubernur Nasrul Abit sangat mengapresiasi  pembangunan infrastruktur yang akan diadakan oleh Pemerintah Kabupaten Dharmasraya. Dia juga memuji kesuksesan acara ini. "Sukses untuk Sutan Riska. Terima kasih kepada yang hadir," ujarnya. 

Dia juga mengatakan bahwa Festival Pamalayu bisa menggali kembali kebudayaan Dharmasraya. "Di dalam budaya, ada budi pekerti, sopan santun, agama," ujar Nasrul. 

Pada acara tersebut, ada pula penampilan Sound of Borobudur selama kurang lebih satu jam. Penampilan yang dikomandoi oleh Purcarawaca sebagai direktur eksekutif tersebut mampu memukau masyarakat. Sekitar 00.00, dilakukan pemotongan kue oleh Sutan Riska selaku Bupati Dharmasraya. Hal ini sebagai simbolis atas peringatan hari ulang tahun Dharmasraya ke-16. 

Kontributor: Fakhruddin Arrazzi

Berita Terkait

Baca Juga