10 Persen Masyarakat Indonesia Alami Disabilitas, Rata-rata Hidup Dalam Kemiskinan

10 Persen Masyarakat Indonesia Alami Disabilitas Ratarata Hidup Dalam Kemiskinan Antoni Tsaputra, Salah satu penyandang disabilitas yang juga merupakan Sekretaris PPID Sumbar didampingi istri berbincang dengan Walikota Padang, Mahyeldi Ansharullah saat acara Peringatan Hari Disabilitas Internasional di RTH Imam Bonjol, Selasa (3/12/20

Covesia.com - Berdasarkan Survei Penduduk antar Sensus (Supas) di tahun 2018, 10 persen masyarakat Indonesia mengalami disabilitas. Rata-rata mereka hidup dalam kemiskinan.

"Penyandang disabilitas di kota Padang saja diperkirakan 3000 orang, di Sumbar diperkirakan 38.000 sampai 40.000 orang," ungkap Antoni Tsaputra sekretaris PPDI kota Padang, kepada Covesia, Selasa, (3/12/2019).

Antoni mengatakan disabilitas tercatat sebagai penduduk miskin karena mengalami keterbatasan ganda. Juga lingkungan yang tidak memberikan akses. "Kita tidak bisa menyalahkan kondisi tersebut," ujarnya.

Lebih lanjut Antoni mengatakan disabilitas diberi kesempatan kerja, namun fasilitas tidak mencukupi seperti transportasi untuk ke kantor dan lain sebagainya.

Tak hanya itu Antoni pun berpendapat bahwa disabilitas ingin berpartisipasi dalam pembangunan. "Namun, pandangan sebelah mata oleh sebagian masyarakat membuat hal tersebut sulit terealisasi," terangnya.

Mindset dari masyarakat yang menilai bahwa penyandang disabilitas adalah beban mesti diubah. "Pada dasarnya disabilitas adalah aset tergantung bagaimana lingkungannya mensupport dan memberi ruang hingga kami dapat berkontribusi," tukasnya.

Dikatakan Antoni penyandang disabilitas membutuhkan komitmen dari berbagai pihak untuk pemenuhan hak. "Tidak hanya dari pemerintah tapi juga lingkungan sekitar dan masyarakat," ujarnya.

Penyejahteraan terhadap disabilitas pun sudah dilakukan oleh pemerintah meski belum maksimat. "Misalnya, dana desa dialokasikan untuk penyandang disabilitas namun belum diimplementasikan dengan baik," ungkapnya.

Ia menekankan bahwa inklusifitas harus tercipta di masyarakat.

Ketidakpahaman masyarakat terhadap disabilitas mesti disosialisasikan. "Mereka berpikir kita butuh bantuan padahal kita hanya butuh support," ujar Antoni.

Kontributor: Laila Marni

(utr)

Berita Terkait

Baca Juga