Ratusan Pohon Cemara di Kawasan Konservasi Penyu Ampiang Parak Pessel Tumbang di Hantam Gelombang

Ratusan Pohon Cemara di Kawasan Konservasi Penyu Ampiang Parak Pessel Tumbang di Hantam Gelombang Terlihat beberapa pohon vinus atau cemara laut tumbang di Kawasan Wisata Konservasi Penyu, akibat di hantam gelombag.(Istimewa)

Covesia.com - Akibat gelombang tinggi yang terjadi sejak 15 hari lalu di Kawasan Pantai Konservasi Penyu, Kenagarian Ampiang Parak, Kecamatan Sutera, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat (Sumbar), ratusan pohon cemara laut di kawasan tersebut, tumbang terdampak abrasi.

"Gelombang tinggi yang menghantam bibir pantai di kawasan tersebut terjadi sejak 15 hari lalu. Akibatnya, ratusan pohon cemara laut di kawasan tersebut roboh," sebut Wali Nagari Ampiang Parak Yusmardi pada Covesia.com Selasa (3/12/2019)

Dikatakannya, kondisi itu sudah terjadi sudah berulang kali. Gelombang tinggi terus mengikis bibir pantai di kawasan wisata konservasi penyu.

Padahal, kawasan tersebut adalah salah satu kawasan wisata konservasi penyu yang ada di Kabupaten Pessel, sebutnya. 

Menurutnya, jika kondisi ini tidak segera ditangani, maka tidak tertutup kemungkinan salah satu kawasan wisata konservasi yang digadang-gadangkan itu akan hancur.

"Kita minta secepatnya ada penanganan oleh pemerintah daerah. Kalau tidak, kawasan itu bakal habis terkikis ombak," ucapnya

Sementara itu, Divisi Logistik Kelompok Pengawas Masyarakat Laskar Pemuda Peduli Lingkungan (LPPL), Jasman mengatakan, abrasi terus terjadi dan kondisi pantai semakin hari semakin parah.

"Memang sudah parah. Lebar abrasi sudah mencapai 40 meter. Sedangkan panjangnya ada sekitar 2 kilometer," katanya 

Ia menambahkan, pihaknya sudah beberapa kali mengusulkan ke pemerintah provinsi melalui anggota DPRD. Namun, hingga kini masih belum ada tanda-tanda akan ditangani.

"Dari informasinya, kondisi ini akan ditangani dan dikerjakan pada tahun 2020. Tapi kita belum tahu pasti," ujarnya.

Melihat kondisi pantai semakin hari semakin terkikis parah, dia selaku pengurus wisata konservasi penyu berharap kondisi ini segera ditangani. 

Kalau tidak, ini akan berdampak buruk bagi kawasan konservasi penyu yang cukup terkenal dan diminati wisatawan serta para peneliti.

Diketahui, kawasan wisata Pulau Penyu merupakan salah satu kawasan bagi kelompok Pokmaswas Laskar Turtle Camp (LTC) melakukan konservasi dan menjaga biota laut langka itu. 

Kelompok LCT yang diketuai Haridma, sudah berkembang sejak berapa tahun lalu dan sekarang cukup terkenal di Pessel.

Kelompok tersebut tidak hanya melakukan konservasi dan merawat penyu saja. Selain itu, LCT sedang membudidayakan bakau dan juga cemara laut.

Kontributor Pessel: Indra Yen

Berita Terkait

Baca Juga