Tinjau Pembangunan Shelter, BMKG Akan Pasang 50 Alat Sensor Gempa Bumi di Sumbar

Tinjau Pembangunan Shelter BMKG Akan Pasang 50 Alat Sensor Gempa Bumi di Sumbar Rahmad Triyono, Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG saat melakukan peninjauan pembangunan Shalter untuk pemasangan alat sensor gempabumi di kabupaten Solok, Rabu (9/10/2019) (Foto: bmkg)

Covesia.com - Sumatera Barat (Sumbar) merupakan daerah yang rawan terjadinya gempa bumi, hal ini dikarenakan adanya Zona Subduksi, Sesar mentawai dan Sesar Sumatera. BMKG sebagai instansi yang bertugas melakukan pengamatan dan pemberi informasi tentang kejadian gempabumi telah mengoperasikan beberapa sensor gempabumi.

"Sampai saat ini sensor yang ada di Sumatera Barat berjumlah 6 buah antara lain di Padang, Padang Panjang, Sungai Dareh, Simpang Empat, Siberut,  dan Pulai Pagai serta 16 sensor lainnya yang berada di provinsi sekitar Sumatera Barat, jumlah ini sangat lah sedikit dibanding dengan luasan provinsi Sumbar," sebut Rahmad Triyono, Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, dalam siaran persnya yang diterima, Rabu (9/10/2019).

Untuk merapatkan jaringan sensor gempabumi kata Rahmad, BMKG sedang membangun shalter yang akan di pasang sensor gempabumi sebayak 15 Lokasi di wilayah Sumatera Barat. Shalter sensor tersebut dibangun di Kab. Pesisir Selatan sebanyak 5 buah, Kab. Solok 1 buah, Kab. Solok Selatan sebanyak 2 buah, Kab. Agam 2 buah, Kab. Limapuluh Kota 2 buah, Kab. Pasaman Barat 2 Buah, dan Kab. Pasaman 1 buah.

"Dengan semakin rapatnya sensor gempabum ini proses analisisnya lebih cepat dan akurat, sehingga dapat meningkatkan layanan terhadap stekholder terkait informasi gempabumi," ungkapnya.

Lebih lanjut ia mengatakan, pembangunan 15 Shalter yang saat ini dalam pengerjaan diharapkan secepatnya selesai karena di tahun ini juga BMKG Pusat akan menginstalasi seismometer sehingga tahun 2020 sudah bisa dioperasionalkan. Sebelum pemasangan seismometer 

"Jadi saat ini kita meninjau proses pembangunan shalter tersebut di beberapa lokasi antara lain di Kab. Solok yang terletak di samping Kantor BPBD Kab. Solok," kata Rahmad.

Dalam kunjungan Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami di dampingi Oleh Irwan Slamet, ST, M.Si selaku Kepala Stasiun Geofisika Padang Panjang dan Armen AP MM Kepala Pelaksana BPBD Kab. Solok.

Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG memastikan bangunan sesuai dengan standar gedung sensor gempabumi hal ini karena sensor gempabumi yang sangat sensitif sehingga nois yang di timbulkan relatif kecil.

Sebelum melakukan peninjauan tersebut, Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami  dan Kepala Stasiun Geofisika Padang Panjang melakukan diskusi dengan Erman Rahman, SE, M.Si selaku Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Sumatera Barat terkait rencana pemasangan 50 alat Indonesia Earthquake Early Warning Sistem (InaEEWS). InaEEWS merupakan sistem yang akan dibangun BMKG untuk memberikan informasi lebih dini sebelum gempa kuat melanda suatu kawasan. 

"Sistem ini tidak saja bermanfaat bagi masyarakat untuk bertindak lebih cepat menyelamatkan diri, tetapi juga dapat mengamankan objek vital berbasis respon Instrumen, contohnya sistem transportasi cepat dan industri penting dapat di nonaktifkan beberapa detik lebih awal sebelum gempa menimbulkan kerusakan," kata dia.

(don)

Berita Terkait

Baca Juga