Kegetiran Dewi Puspita TKW Sukabumi, Sembilan Tahun dalam Kecamuk Perang Suriah

Kegetiran Dewi Puspita TKW Sukabumi Sembilan Tahun dalam Kecamuk Perang Suriah Ilustrasi - Asap membubung di atas wilayah yang dikuasai oposisi di kota Daraa saat serangan udara yang dilancarkan pasukan rezim Suriah, 28 Juni 2018. Foto: Dok. AFP/ Mohamad Abazeed

Covesia.com - Dewi Puspita tenaga kerja wanita (TKW) asal Kampung Cijambe, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat yang hilang kontak selama sembilan tahun di Suriah, berbagi kisah tentang dirinya yang masih diberi keselamatan di Suriah selama perang berkecamuk.

"Saya berangkat ke Suriah menjadi TKW pada 2010, tetapi di 2011 Suriah terjadi perang. Saat itu saya menyaksikan langsung bagaimana perang terjadi hingga bertahun-tahun, bahkan saat akan pulang ke Indonesia pun suara tembakan dan ledakan masih sering terjadi," katanya di Sukabumi, Senin (23/9/2019).

Dewi yang baru dua hari tiba di rumahnya di Desa Sukaresmi, Kecamatan Cisaat setelah sembilan tahun bekerja di Suriah membagi kisah dengan Antara yang menyambangi rumahnya. Ia menceritakan betapa menakutkannya kondisi di Suriah saat baku tembak terjadi di negeri tersebut yang hingga kini masih terjadi.

Apalagi pahlawan devisa ini tinggal di rumah majikannya di Kota Homs yang merupakan salah satu daerah yang menjadi pusat perang saudara. Sebelum perang terjadi, di kota ini banyak terdapat bangunan megah, namun perang meluluhlantakkan kota itu.

Dia mendengar suara peluru dan ledakan bom hampir setiap hari dan melihat secara langsung bom meledak di depan matanya ditambah suara rentetan senjata mesin yang memuntahkan ribuan peluru tajam hampir setiap waktu terngiang di telinganya.

Bahkan rumah majikannya pun tidak luput dari tembakan peluru tajam dan percikan ledakan bom dari dua kubu yang saling serang. Saat itu ia dan majikannya pun langsung menyelamatkan diri ke ruangan yang dianggap aman di dalam rumahnya.


Majikan yang baik

Ia baru bisa keluar dan merasa aman saat suara tembakan dan ledakan sudah mulai berkurang. Kondisi seperti itu, Dewi alami selama bertahun-tahun dan majikannya pernah mencoba untuk datang ke Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Damaskus, namun di tengah perjalanan di stop tentara dan diperintahkan untuk kembali ke rumah.

Beruntung, pekerja migran ini mempunyai majikan yang cukup baik hingga akhirnya pada Agustus perwakilan KBRI Damaskus menjemput Dewi untuk dibawa ke shelter KBRI Damaskus dan pada Jumat (21/9) Dewi dipulangkan dan tiba di kampung halamannya.

"Suara tembakan dan ledakan bom di Suriah sudah menjadi hal yang biasa, tapi Alhamdulillah saya masih diberi keselamatan oleh Allah SWT dan akhirnya bisa berkumpul lagi bersama suami, anak dan orang tua di Sukabumi," katanya.

Dewi pun memutuskan tidak ingin lagi menjadi TKW karena masih trauma berada di tengah-tengah negara yang sedang berperang. Ia mengucapkan banyak terima kasih kepada tim Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) Riyadh dan Sukabumi yang telah membantunya.

Kemudian staff KBRI Damaskus yang mendampinginya hingga sampai di Sukabumi serta Kementerian Luar Negeri RI, Pemerintah Kabupaten Sukabumi, Bupati Sukabumi dan pihak lainnya yang telah membantu kepulangannya.

Sementara, Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Sukabumi yang juga istri dari Bupati Sukabumi, yakni Yani Marwan Hamami tidak menyangka melihat kondisi Dewi yang sehat saat berkunjung ke rumahnya.

Padahal selama bertahun-tahun Dewi menyaksikan dahsyatnya perang yang terjadi di Suriah, ia pun tidak bisa berkata-kata dan hanya bisa mengucap syukur berulang kali kepada Allah SWT yang memberikan perlindungan kepada mantan TKW ini.

"Saya sempat bertanya kepada Dewi bagaimana kondisinya selama di Suriah, ternyata sangat mengerikan karena ledakan bom dan suara tembakan hampir terdengar setiap hari. Saya pun berpesan kepada Dewi lebih baik sekarang fokus mengurus anak saja," katanya.

Ketua SBMI Jabar Jejen Nurjanah mengatakan seluruh hak Dewi selama bekerja di Suriah seperti upah dan lainnya sudah diberikan oleh majikannya, bahkan selama bekerja ia diperlakukan secara baik dan tidak pernah mengalami kekerasan sedikitpun.

"Kami bersyukur hanya dengan waktu kurang dari tujuh hari setelah tim SBMI Riyadh menghubungi KBRI Damaskus, Dewi ditemukan. Bahkan hingga pulang ke Sukabumi didampingi staff kedutaan besar tersebut," katanya.

(Antara)

Berita Terkait

Baca Juga