Lassy Dairy Farm Agam Buka Peluang Lapangan Kerja dan Pengembangan Usaha

Lassy Dairy Farm Agam Buka Peluang Lapangan Kerja dan Pengembangan Usaha Foto: Debi Kurnia

Covesia.com - Minimnya budaya minum susu dan kurangnya keseriusan peternak untuk mengembangkan usaha peternakan sapi perah di nagari Lasi, Kabupaten Agam mendorong minat seorang putra daerah nagari Lasi, Suhatril untuk mengembangkan usaha peternakan sapi perah di kampung halamannya.

Pengusaha muda yang merupakan lulusan S2 teknik perminyakan di Institut Tekhnologi Bandung ini memutuskan pulang kampung dan memulai usahanya di akhir tahun 2016 lalu.

Suhatril menuturkan banyak suka dan duka yang ia jalani selama merintis usaha peternakan sapi perah, salah satunya terkait  kepemilikan tanah.

Namun ia berinisiatif untuk mengembangkan sapi perah dengan memberdayaan masyarakat, sehingga ada penularan kesejahteraan atau pemerataan kesejahteraan dimana masyarakat yang punya lahan bisa berternak dan hasil produksi peternakan mereka bisa di jual ke outlet Lassy Dairy farm.

"Sehingga Lasi punya suplay yang banyak dan bagi masyarakat bisa punya jaminan pasar dan kestabilan pasar sehingga terjalin kerjasama yang menguntungkan," ucapnya, Jumat (6/9/2019).

Hingga saat ini Lassy Dairy Farm memiliki 50 ekor sapi, 35 ekor sapi dewasa dan 26 ekor diantaranya merupakan sapi penghasil produksi. Dalam satu hari peternakan tersebut mampu menghasilkan 300 liter susu dengan harga jual Rp10.000 per liternya.

Lassy Dairy Farm juga mampu menghasilkan 15 kg keju mozarela yang di jual seharga Rp 130.000 per kg. Peternakan sapi perah kini juga mencetak lapangan kerja baru dengan mempekerjakan 14 karyawan setiap harinya dan khusus karyawan peternakan ada 7 orang.

Saat ini, Suhatril akan melakukan inovasi baru dengan membuat keju mozarela sehingga mampu meningkatkan potensi pasar.

"Masih banyak produk olahan susu yang bisa dikembangkan, berbagai macam jenis keju, permen susu, makanan sehat, tahu susu, yang penting pengolahan limbah keju dapat dimanfaatkan lagi sehingga tidak ada yang terbuang," tambahnya.

Disamping itu, ia juga berpikir untuk memanfaatkan kotoran hewan untuk dijadikan pupuk kompos dengan melakukan kerja sama dengan pemuda setempat, dan hasil juga bisa dipasarkan.

(deb/rdk)

Berita Terkait

Baca Juga