Pemerintah Optimis Biodiesel dari Minyak Sawit pada Tahun 2025 Bisa Tercapai

Pemerintah Optimis Biodiesel dari Minyak Sawit pada Tahun 2025 Bisa Tercapai Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Provinsi Sumatera Barat, Chanda saat memaparkan materi seminar industri sawit yang adakan PWI, Sumbar di Padang, Rabu (14/8/2019)

Covesia.com - Pemerintah optimis produksi sawit di Indonesia bakal menjadi bahan baku minyak diesel (biodiesel) pada tahun 2025. Hal itu merujuk pada jumlah lahan kebun kelapa sawit yang ada di dunia.

Tercatat, dari 19 juta hektar kebun kelapa sawit dunia, Indonesia memiliki 14 juta hektar.

"Secara jumlah, kita untuk target 23 persen pada tahun 2025 sudah lebih jauh, cuma kebijakan dari pemerintah sekarang ini dimulai secara bertahap. Sekarang ini sudah ada yang memakai penuh dan ada yang belum," ujar Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Provinsi Sumatera Barat, Chanda dalam mengisi acara seminar Peningkatan Kompetensi Wartawan dan Humas Pemerintah tentang industri kelapa sawit Indonesia, di Padang, Rabu (14/8/2019).

"Kementerian Pertanian sudah memakai bahan bakar dari biodiesel yang dari sawit ini 100 persen, tapi pemerintah baru mengajurkan 30 persen. Kedepan ini yang kita harapkan bagaimana CPO ini bisa dioleh menjadi biodiesel. Dan kita optimis 2025 bakal terwujud, karena sifatnya regulasi." 

"Seperti yang disampai GAPKI (Gabungan Kelapa Sawit Indonesia), sebelumnya hanya untuk otomotif atau transportasi, sekarang untuk industri sejak Oktober 2018 setiap perusahaan telah ditetapkan untuk menggunakan biodiesel," terang Chandra.

Sementara, Ketua Bidang Komunikasi GAPKI, Tofan Mahdi yang turut menajdi pembicara dalam seminar yang diadakan PWI Sumbar itu mengatakan, meski Indonesia memiliki lahan kebun sawit paling luas, namun produksi sawit Indonesia masih kalah dari negara tetangga Malaysia.

"Dalam hal menghasilkan buah, kita masih jauh lebih rendah. Mereka Malaysia dalam satu hektar menghasilkan rata-rata 30 ton perhektar pertahun, kita baru sekitar 15 sampai 17 ton perhektar pertahun. Ini yang harus mesti kita kejar, setidaknya mendekati," ujar Tofan.

"Dari 14 juta hektar lahan sawit kita, 43 persennya merupakan perkebunan rakyat, dan kebun rakyat ini dalam hal standar pengolahan tidak sebaik perusahan, mulai dari bibit hingga hingga peremajaannya. Ini yang akan menjadi perhatian pemerintah dalam meningkatkan produksi sawit kita," pungkasnya.

(dnq)

Berita Terkait

Baca Juga