Khatib: Idul Adha Momentum Umat Islam Lahirkan Perubahan Filosofi Hidup

Khatib Idul Adha Momentum Umat Islam Lahirkan Perubahan Filosofi Hidup Ilustrasi (nu.or.id)

Covesia.com - Khatib shalat Id di Dewan Dakwah Islamiyah Abdullah Hehamahua mengatakan Idul Adha momentum umat Islam sedunia melakukan napak tilas tauhidiyah atas kehidupan pribadi dan keluarga Nabi Ibrahim AS yang dapat melahirkan perubahan filosofi hidup umat.

Hal itu disampaikan Abdullah dalam khutbahnya usai shalat Idul Adha 10 Dzulhijjah 1440 Hijriah yang diselenggarakan oleh Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia di kawasan Masjid Al Furqon di Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat, Minggu.

"Perubahan filosofi hidup seorang muslim atau muslimah dimulai dari perubahan niat, pola pikir, ucapan, tindakan dan perilaku sehari-hari," kata Abdullah dalam khutbahnya yang mengangkat tema Napak Tilas Tauhidiyah Menuju Indonesia Berkah.

Abdullah menuturkan perubahan itu harus terjadi di diri sendiri, keluarga, istana, kementerian, lembaga negara, pemerintah daerah, organisasi politik, organisasi masyarakat, lembaga swadaya masyarakat dan masyarakat umumnya dalam rangka memperoleh keberkahan Allah SWT.

Dia menekankan ada empat substansi penduduk yang beriman dan bertakwa dalam kaitan ibadah kurban tahun ini, yakni keturunan yang bertauhid, generasi muda berkompetensi qurani, semangat berkurban yang tulus, dan persatuan umat Islam.

"Merayakan Idul Qurban bermakna meneladani perilaku Nabi Ibrahim AS dan anaknya Nabi Ismail AS. Keteladanan yang menonjol dari dua nabi ini adalah perubahan filosofi hidup. Mereka mau berubah, mengikuti keinginan dan ketentuan Allah SWT karena mengharapkan keberkahan hidup dari-Nya," ujar Abdullah.

Dia menuturkan perubahan niat dan pola pikir setiap individu harus diaplikasikan secara praktik amaliah dalam kerja-kerja kemanusiaan di masing-masing instansi, unit atau komunitas secara sinergi, efektif, efisien, transparan dan akuntabel.

Para pemimpin bangsa juga harus melakukan praktik baik dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya, serta menghindari praktik kotor seperti korupsi, memberikan suap atau bertindak curang dan penyalahgunaan kekuasaan.

"Semua sikap jiwa, pola pikir, kompetensi, keterampilan, dan kerja-kerja kemanusiaan di instansi, unit atau di masyarakat dilakukan melalui keteladanan robbaniyah, penuh keberkahan dari langit," ujarnya.

(Antara)

Berita Terkait

Baca Juga