Bertanam Bunga Melati di Belakang Rumah, Asnita Raup Rp6 Juta per Bulan

Bertanam Bunga Melati di Belakang Rumah Asnita Raup Rp6 Juta per Bulan Foto: pixabay

Covesia.com - Dari hasil tanaman bunga melati, Asnita (60), warga Desa Kajai, Kecamatan Pariaman Timur, Kota Pariaman, bisa mendapatkan rata-rata penghasilan Rp6 juta per bulannya.

"Rata-rata perbulanan saya bisa mendapatkan uang Rp6 jutaan. Penjualan bunga melati ini, ada yang per liter ada juga dengan membuatkan rangkaian bunga," sebut Asnita, pada Sabtu (20/7/2019).

Asnita mengatakan, ide melakukan penanaman bunga melati ini, berawal di tahun 2011, saat anaknya akan menikah dan membeli bunga melati kepada seorang penata rias dengan harga Rp350.000. 

"Saya merasa harga segitu sangatlah mahal, padahal hanya untuk satu hiasan suntiang pengantin saja. Makanya saya berinisiatif untuk membuka usaha bunga melati juga. Kebetulan tanah di halaman rumah saya masih kosong," ucapnya.

Lanjut Asnita, ia pun menyampaikan niatnya tersebut kepada anaknya yang kebetulan bekerja di Kantor Dinas Pertanian Kota Pariaman, untuk mencarikan bibit melati.

"Awalnya ada sekitar 1.200 batang bunga melati yang saya tanam bersama suami, dari bibit yang didapat oleh anak saya. Butuhkan waktu sekitar dua tahunan menunggu, baru melati tersebut berbunga dan mulai menghasilkan," ungkapnya.

Dikatakannya, sekarang kurang lebih tujuh tahun berlalu, ia sudah bisa menikmati hasil dari usaha berkebun melati tersebut. Dengan pekerja 4 orang, terdiri dari 3 perempuan dan satu laki-laki. Kemudian sekarang sudah menjadi 1.500 rumpun bunga melati.

"Saat ini juga setiap harinya ada sekitar 20 orang paling banyak datang ke rumah untuk membeli kuncup melati ini. Untuk satu liter kuncup melati saya jual biasanya dengan harga Rp.60.000. Kalau untuk karangan bunganya, harga bervariasi yaitu berkisar Rp120.000 hingga Rp350.000, tergantung permintaan dari konsumen," ucapnya.

Asnita menyebutkan, pembeli datang dari berbagai daerah, seperti dari Sungai Geringging, Sungai Limau, Lubuk Basung, Lubuk Alung, Ketapiang, Sicincin, dan lainnya.

Kontributor: Peri Musliadi

Berita Terkait

Baca Juga