Pilkada Sumbar 2020: Mahyeldi Antara Pilihan 'Ekor Gajah' atau 'Kepala Semut'

Pilkada Sumbar 2020 Mahyeldi Antara Pilihan Ekor Gajah atau Kepala Semut Mahyeldi Ansharullah

Covesia.com - Walikota Padang Mahyeldi Ansharullah salah satu dari sekian Bakal Calon (Balon) gubernur atau wakil gubernur yang sering disebut-sebut menjelang Pilkada Sumbar 2020 mendatang. 

Kepemimpinannya telah dimulai dari Wakil Ketua DPRD Sumbar, Wakil Walikota Padang dan sekarang untuk periode keduanya sebagai Walikota Padang.

Dengan pengalaman itu, peluang Mahyeldi sebenarnya terbuka lebar. Tapi yang namanya politik tentunya punya banyak kemungkinan. Di dalam internal Partai Keadilan Sejahtera (PKS), partainya Mahyeldi, terdapat beberapa kader lain yang layak juga untuk maju, seperti Anggota DPR RI Refrizal dan Walikota Payakumbuh Riza Pahlevi.

Menanggapi hal itu, Koordinator Komunitas Peduli Sumbar (KAPAS) Isa Kurniawan mengungkapkan, bagi Refrizal, yang gagal duduk kembali menjadi Anggota DPR RI, ada 2 pilihan posisi politik baginya ke depan, pertama maju di Pilkada Padang Pariaman 2020 sebagai calon bupati, dan di Pilkada Sumbar 2020 sebagai calon wakil gubernur, bisa berpasangan dengan Nasrul Abit (Gerindra) atau dengan Epyardi Asda (PAN).

"Kalau Refrizal maju di Pilkada Padang Pariaman 2020 berarti tekanan bagi Mahyeldi di internal PKS menjadi berkurang, tinggal Riza Pahlevi. Tetapi Riza Pahlevi pun tidak bisa dianggap enteng walau hanya memimpin kota yang berpenduduk di bawah 100 ribu orang. Isme Gonjong Limo (Kabupaten Limapuluh Kota dan Kota Payakumbuh), atau Luhak Nan Bungsu, akan terbawa emosinya oleh Riza," ujar Isa kepada covesia.com, Kamis (20/6/2019).

Kekuatan lainnya, ujar Isa, Riza telah memiliki pengalaman elektoral untuk daerah pemilihan yang mencakup Sumbar secara keseluruhan. Di mana ia pernah sukses menjadi salah satu dari 4 orang Anggota DPD RI utusan Sumbar, sebelum terpilih menjadi Walikota Payakumbuh. Jadi maju di Pilkada Sumbar 2020 bagi Riza tinggal menikam jejak.

Kembali ke Mahyeldi, sebutnya, pengalaman 3 kali ikut Pilkada Padang, dengan meraih kemenangan ketiga-tiganya, merupakan modal besar bagi Mahyeldi karena menang di ibukota provinsi dengan penduduk yang hampir 1 juta orang. 

"Kemudian menjadi Ketua Umum DPP IKA Fakultas Pertanian Unand, Ketua Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Sumbar, dan lainnya, merupakan bukti eksistensi Mahyeldi di Sumbar," imbuhnya.

Sementara di posisi calon wakil gubernur, Mahyeldi berpeluang berpasangan dengan Nasrul Abit (Gerindra) atau Epyardi Asda (PAN), karena "chemistry" koalisinya ada. 

"Maju sebagai calon gubernur, pilihan Mahyeldi tidak banyak, berpeluang berpasangan dengan Ali Mukhni atau Shadiq Pasadique, dari PAN. Tapi koalisi antara PKS dengan PAN, faktor Epyardi Asda untuk menjadi calon gubernur yang diusung PAN tentunya tidak bisa dinafikan," jelasnya.

Menurut Isa, itulah yang menjadi persoalannya, menjadi calon wakil gubernur rasanya tidak banyak halangan bagi Mahyeldi, tinggal fatsun politik di pusat dijalankan, dimana koalisi Gerindra dan PKS, atau PAN dan PKS. Walaupun masih berhadapan dengan Refrizal dan Riza Pahlevi, tapi peluang Mahyeldi cukup besar. 

Di posisi calon gubernur, untuk mendudukkannya diyakini akan membutuhkan energi politik yang cukup besar.

"Mencermati dinamika politik tersebt, tentunya terpulang ke Mahyeldi. Apakah ingin menjadi "ekor gajah" dengan maju sebagai calon wakil gubernur, atau menjadi "kepala semut" dimana tetap menjadi Walikota Padang? Yang namanya wakil, seperti cerita yang sudah-sudah tentunya kewenangan terbatas," ujarnya. 

(lif)

Berita Terkait

Baca Juga