KPAI Minta Pemerintah Australia Hormati Konvensi Hak Anak

KPAI Minta Pemerintah Australia Hormati Konvensi Hak Anak Komisioner KPAI, Sitti Hikmawatty (Dok: Covesia)

Covesia.com - Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) meminta Pemerintah Australia menghormati Konvensi Hak Anak (KHA) Tahun 1990 sehubungan dengan upaya orang tua ananda Muhammad Dimas Tri Wibowo (14) dalam usahanya memberikan yang terbaik bagi anaknya yang memiliki kebutuhan khusus.

Hal ini disampaikan Komisioner KPAI, Sitti Hikmawatty terkait dengan pengajuan petisi online Dr Cameron Gordon, seorang profesor di Australian National University (ANU) kepada Menteri Imigrasi, Kewarganegaraan, Layanan Migran, dan Urusan Multikultural Australia agar menganulir keputusan penolakan visa tinggal permanen untuk Dimas, seorang anak dengan autisme dari keluarga Indonesia yang terancam dideportasi, Jumat (07/06/2019).

"KPAI juga memberikan apresiasi pada upaya Dr Cameron Gordon yang sangat peduli dengan kelangsungan keadaan Dimas serta keluarganya tersebut," kata Sitti Hikmawatty.

Sesuai dengan aturan PBB kata Sitti, mengenai hak-hak anak atau yang lazim disebut sebagai Konvensi Hak Anak tahun 1990, pertimbangan Kepentingn Terbaik Anak (Best Practice for Child) adalah bagian yang harus dipenuhi Negara-negara yang meratifikasi Konvensi ini, dimana Indonesia dan Australia menjadi anggotanya.

"Kami memahami kekhawatiran pemerintah Australia yang menganggap bahwa kondisi autisme Dimas dimasukkan dalam kriteria Public Interest Criteria (PIC), yang menurut peraturan Imigrasi, berbiaya signifikan terhadap layanan kesehatan dan masyarakat Australia. Namun demikian pemerintah Australia seharusnya mempertimbangkan juga upaya orang tua yang mempersiapkan Dimas agar menjadi individu yang mandiri," katanya.

Menurut Sitti, semua pihak perlu mendukung upaya orang tua yang juga menyiapkan Dimas untuk tidak membebani pembayar pajak nantinya. 

"Karena bagaimanapun semua pastinya memiliki keinginan yang sama agar anak tersebut kelak dapat hidup secara mandiri, tidak tergantung pada individu lainnya. Tidak ada orang tua yang menginginkan anaknya hidup tidak normal, karenanya ini perlu juga untuk menjadi sebuah pertimbangan khusus," tambahnya.

Ia juga menambahkan Autisme bukanlah sebuah tragedi, justru pengabaian dan penolakan itulah tragedi yang sesungguhnya.

"Kami dari KPAI selanjutnya akan berkoordinasi dengan kedutaan dan memberikan support atas perjuangan Ibu Yuli, orang tua Ananda Dimas ini," tutupnya.

(Heri)

Berita Terkait

Baca Juga