Elit Politik Dinilai Manfaatkan Kondisi Masyarakat Indonesia yang Terjebak Era 'Post-Truth'

Elit Politik Dinilai Manfaatkan Kondisi Masyarakat Indonesia yang Terjebak Era PostTruth Sosiolog Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) PGRI Sumatera Barat Firdaus (Foto: Facebook Firdaus Daus)

Covesia.com - Tensi politik Indonesia sejak beberapa tahun belakangan cukup tinggi, bahkan pasca penetapan pemenang hasil pemilu 2019 oleh KPU ketegangan politik ini terus berlanjut.

Bahkan hari ini, Rabu (22/5/2019) sejumlah orang turun ke jalan untuk menuntut keadilan dan kejujuran dari KPU dan Bawaslu terkait kecurangan di Pemilu 2019.

Menanggapi hal tersebut, Sosiolog Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) PGRI Sumatera Barat Firdaus menilai ketegangan politik terpelihara karena masyarakat Indonesia sedang terjebak dengan era post-truth, era dimana orang tak percaya dengan berbagai informasi kecuali jika berhubungan dengan aspek emosional mereka.

"Seperti agama, budaya, suku bangsa, realitas sehari-hari dan sebagainya," terangnya kepada Covesia.com melalui pesan aplikasi Whatsapp, Rabu.

Situasi ini, lanjut Firdaus yang dimanfaatkan oleh elit politik untuk membangun distrust di masyarakat melalui informasi negatif demi kepentingan mereka.

"Ditambah lagi berbagai informasi cepat sekali menyebar karena pengaruh teknologi informasi melalui media sosial. Sayangnya masyarakat kita tidak begitu siap dengan pekembangan arus informasi yang bak air bah itu," papar pria yang tengah melanjutkan studi doktoralnya di Universitas Indonesia (UI) itu.

Ia mengatakan hal ini dibuktikan, dengan ada riset yang mengatakan 44 persen lebih masyarakat tidak memiliki kemampuan menyaring infromasi. Bahkan, dari mereka yang membaca informasi secara lengkap, hanya 55 persen yang berusaha melakukan check dan ricek. 

"Bayangkan, sekarang dengan hanya satu klik satu berita bisa menyebar ke ribuan ponsel Cerdas yang dimiliki oleh hampir seluruh penduduk Indonesia," tambahnya.

Sebelumnya ia mengatakan energi people power sebenarnya sangat berguna dan berenergi positif jika diarahkan untuk membantu menyediakan bukti-bukti kecurangan pemilu yang dituduhkan belakangan ini.

Baca: Sosiolog: Energi 'People Power' Lebih Berguna Jika Digunakan untuk Kumpulkan Bukti Kecurangan Pemilu

(utr)

Berita Terkait

Baca Juga