Pesan BJ Habibie Jelang Pengumuman Hasil Pemilu: Hindari Tindakan yang Pertajam Polarisasi

Pesan BJ Habibie Jelang Pengumuman Hasil Pemilu Hindari Tindakan yang Pertajam Polarisasi Presiden ketiga RI BJ Habibie

Covesia.com - Presiden ketiga RI BJ Habibie menyampaikan pesan kepada seluruh pihak untuk menghindari tindakantindakan yang mempertajam polarisasi dan perpecahan di masyarakat menjelang pengumuman hasil pemilu serentak oleh KPU RI.

Pesan itu disampaikan Habibie dalam sebuah video berdurasi 8 menit yang diunggah lembaga The Habibie Center melalui jejaring sosial Youtube di Jakarta, Minggu.

Dalam video tersebut suami mendiang Hasri Ainun Besari (Ainun Habibie) itu juga menyerukan seluruh pihak menerima hasil pemilihan umum serentak yang akan diumumkan 22 Mei 2019.

"Saya juga meyakini kita semua telah memahami bahwa ketidakpuasan terhadap hasil pemilihan umum, harus diselesaikan melalui jalur konstitusional," ujar Habibie.

Berikut transkrip lengkap pesan BJ Habibie yang dikutip ANTARA dari video tersebut:

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Salam sejahtera bagi kita semua.

Om swastiastu, Namo buddhaya, Salam kebajikan.

Saudara saudara sebangsa dan setanah air, alhamdulillah sampai saat ini kita masih diberikan kesehatan dan keselamatan.

Bertepatan dengan bulan suci ramadhan ini, saya ingin mengucapkan selamat menjalankan ibadah puasa ramadhan kepada umat Muslim.

Saya juga ingin menyampaikan selamat merayakan hari raya waisak kepada umat Buddha dan selamat memperingati kenaikan Isa Al Masih kepada umat Nasrani. Semoga Indonesia tetap harmonis dalam keberagaman.

Saya perlu mengingatkan sila pertama Pancasila adalah Ketuhanan Yang Maha Esa. Sila ini menegaskan bahwa kita adalah bangsa yang religius.

Untuk itu setelah kita mendapatkan rahmat dan hak hidup dari Allah SWT, maka dengan serta merta kita harus menunaikan kewajiban, untuk bertaqwa kepada Allah SWT. Menjalankan perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya.

Dalam kehidupan berdemokrasi, kita juga mendapatkan hak asasi kita sebagai manusia dan sekaligus harus menunaikan kewajiban asasi.Kewajiban asasi manusia ini merupakan pembatasan atas hak asasi yang bisa menjadikan sifat egoisme.

Sebagai bangsa yang berbudaya, kita tidak diperkenankan untuk menuntut hak saja tanpa memenuhi kewajiban, untuk menghormati hak asasi orang lain dalam suatu hubungan bermasyarakat.

Saudara-saudara sebangsa dan setanah air, beberapa hari mendatang kita akan mencapai 21 tahun usia reformasi, yang telah mengantarkan bangsa Indonesia ke era demokrasi. Kita semua patut bersyukur bangsa Indonesia telah berhasil melalui berbagai tantangan untuk menuju konsolidasi demokrasi.

Kita semua juga berharap bahwa demokrasi dan perdamaian akan tetap tumbuh berkembang di Indonesia.

Kita baru saja melaksanakan pemilihan umum serentak sebagai sebuah ikhtiar bersama dalam rangka merawat keberlangsungan demorkasi di Indonesia.

Saat ini kita tengah menunggu hasil rekapitulasi suara di tingkat nasional oleh KPU, sebuah lembaga penyelenggara pemilu yang keberadaannya merupakan amanat konstitusi.

Kita bersama-sama mengetahui bahwa demokrasi merupakan peradaban, yang memerlukan proses pembudayaan yang baik terutama pelaksanaan pemilihan umum secara jujur, bebas, adil dan damai.

Tentu dalam pelaksanaan pemilu masih perlu terus diupayakan perbaikan-perbaikan bersama.

Namun saya sungguh meyakini jika kita bangsa Indonesia dapat terus meningkatkan kualitas demokrasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara serta menjaga persatuan maka kita mampu mencapai cita-cita luhur bangsa Indonesia.

(Antara)

Berita Terkait

Baca Juga