Kasus Karyawan Tilap Uang Nasabah BRI, Pakar: Tiga Faktor Penyebab; Perusahaan, Karyawan dan Nasabah

Kasus Karyawan Tilap Uang Nasabah BRI Pakar Tiga Faktor Penyebab Perusahaan Karyawan dan Nasabah Ilustrasi

Covesia.com - Skandal oknum karyawan Bank Rakyat Indonesia (BRI) Cabang Payakumbuh, AG (32), yang menilap uang nasabah, menarik perhatian publik. Bukan saja soal jumlah kerugian yang ditimbulkan, tetapi uang yang ditilap justru digunakan untuk judi online. 

Baca: Oknum Karyawan BRI Gelapkan Miliaran Uang Nasabah untuk Judi Online

Kerugian di Bank BUMN itu ditaksir mencapai miliaran rupiah. Praktik yang berlangsung sejak 2018 itu, baru diketahui setelah pihak BRI menyadari ada kebocoran keuangan yang cukup besar. Termasuk ada 20 pengaduan dari nasabah yang mengaku setoran kredit maupun uang di rekening berkurang.

Baca: Tilap Uang Hingga Miliaran, Begini Modus Oknum Karyawan BRI Cabang Payakumbuh Beraksi

Menyikapi itu, Pakar Ekonomi Universitas Andalas Padang, Prof. Werry Darta Taifur mengatakan, hal itu bisa terjadi disebabkan oleh beberapa faktor yang saling terkait.

"Pertama, sistem pengawasan internal masih belum berjalan dengan baik. Buktinya KPK mengumpulkan seluruh direksi, Komisaris dan satuan pengawasan internal (SPI) seluruh BUMN Indonesia," katanya kepada Covesia.com, melalui pesan singkat, Minggu (19/5/2019). 

Baca: Skandal Pegawai BRI Tilap Dana Nasabah, LIPI: Kejahatan Kerah Putih Luar Biasa dan Masif

Selanjutnya, berkaitan dengan integritas karyawan. "Integritas karyawan yang melakukan penggelapan tersebut memang tidak baik, yang mengambil keuntungan pada setiap celah yang tersedia," sebut Ketua Senat Akademik Unand.

Baca: Dana Nasabah BRI Ditilap untuk Judi Online, Peneliti LIPI: Moralitas Pegawai Perlu Diperbaiki

Praktik penggelapan dengan modus menipu nasabah, juga terjadi akibat pengetahuan nasabah terkait perbankan. Celah ini mudah dimanfaatkan oleh oknum karyawan bank.

"Faktor ketiga, pengetahuan nasabah yang (uangnya) kena tilap juga rendah, karena mengharapkan keuntungan atau percaya dengan iming-iming dan rayuan penawaran karyawan bank," kata Rektor Unand Periode 2011-2015. 

Menurutnya, masih terjadinya kasus penggelapan uang nasabah dan korupsi di perbankan, disebabkan sanksi untuk tindak pidana masih dirasakan rendah, efek jera tidak ada. 

Baca: Pakar Hukum: Sulit Bagi Aparat Penegak Hukum di Level Bawah Ungkap Tuntas Judi Online

Dia menyarankan, ke depan sistem pengawasan internal perlu lebih ditingkatkan. 

"Pimpinan bank tempat kejadian juga harus bertanggung jawab, sehingga segala persetujuan akhir berada di tangan Pimpinan," katanya. 

Kemudian, lanjut dia, transaksi kredit harus mengikuti SOP yang ditetapkan. 

"Peluang untuk saling memberi iming-iming pada saat turun ke lapangan itu besar sekali, misalnya agunan tidak menurut sebenarnya, skala usaha dan lain-lainnya," pungkasnya.

(rdk)

Berita Terkait

Baca Juga