BI: Sektor Pariwisata Sebagai Sumber Pertumbuhan Ekonomi di Sumatera Barat

BI Sektor Pariwisata Sebagai Sumber Pertumbuhan Ekonomi di Sumatera Barat Kepala Perwakilan BI Sumbar, Wahyu Purnama A, saat memberikan presentasi pertumbuhan ekonomi dalam diskusi
Covesia.com - Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Barat sebut secara keseluruhan tahun 2018, perekonomian Sumatera Barat tumbuh sebesar 5,14% (yoy) atau sedikit melambat dibandingkan pertumbuhan ekonomi tahun 2017 yang sebesar 5,29% (yoy). Perlambatan pertumbuhan ekonomi tahun 2018 ini bersumber dari berlanjutnya tren penurunan pertumbuhan investasi dan kontraksi ekspor Sumbar yang cukup dalam. 

Kepala Perwakilan BI Sumbar, Wahyu Purnama A, mengatakan melambatnya pertumbuhan ekonomi tersebut harus disikapi bijak oleh pemangku kebijakan, terutama Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatera Barat. Oleh karenanya seluruh pihak didorong untuk mengidentifikasi dan merumuskan strategi dalam mencari dan memperkuat sumber ekonomi baru yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi di masa mendatang, salah satu yang paling potensial ialah sektor pariwisata. 

"Sektor pariwisata ini diproyeksikan dapat mengubah tren perlambatan pertumbuhan ekonomi yang tengah terjadi apabila dikerjakan dengan serius," ungkap Wahyu dalam Diskusi bersama stakeholder terkait dengan tema “Strategi Penguatan Sektor Pariwisata Sebagai Sumber Pertumbuhan Ekonomi Sumatera Barat” di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumbar, Kamis (11/4/2019).

Wahyu menjelaskan Sumbar memiliki modal yang kuat untuk membangun sektor pariwisatanya, antara lain berhasil menjuarai World’s Best Halal Culinary Destination dan World’s Best Halal Destination pada gelaran World Halal Tourism Award 2016 di Abu Dhabi. Di sisi lain, pesona alam yang masih asri dan budaya Minang yang masih kental juga menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. 

"Ragam kulinernyapun tak kalah menarik, Rendang didaulat sebagai masakan terlezat di dunia versi CNN Travels tahun 2017. Empat tahun sebelumnya, gulungan ombak di Mentawai sudah masuk dalam jajaran ombak terbaik di dunia versi Surfer Magazine. Bahkan Desa Pariangan yang berlokasi di Kab. Tanah Datar terpilih menjadi desa terindah di dunia berdasarkan analisa majalah Travel Budget. Infrastruktur penunjangnyapun sudah sangat baik, terbukti rasio jalan mantap yang dimiliki Sumbar mencapai 82,5%, termasuk yang tertinggi diantara provinsi lain di Indonesia. Selain itu, pemerintah tengah berupaya untuk menggenjot pembangunan infrastruktur lainnya, seperti revitalisasi Pasar Atas Bukittinggi, perbaikan pedestrian di Pusat Kota Padang, pembangunan Gedung Budaya, perluasan runway, apron dan kapasitas Bandara Internasional Minangkabau, serta reaktivasi kereta api untuk tujuan pariwisata dari Padang ke Bukittinggi," jelasnya.

Namun demikian, kata Wahyu lagi, besarnya potensi yang dimiliki belum selaras dengan dampak ekonomi yang dihasilkan. Dari target kunjungan wisman yang ditetapkan oleh Kementerian Pariwisata pada tahun 2018 sebesar 75.000 orang, hanya tercapai 72,5%. Selain itu, rata-rata pertumbuhan LU transportasi dan LU penyediaan akomodasi mamin yang erat kaitannya dengan sektor ini turut melambat di tahun 2018 sebesar 7,35% (yoy) dari tahun sebelumnya 7,96% (yoy).

Dari sisi investasi yang ditanamkan pada sektor inipun belum optimal, Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) yang tercatat oleh Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Satu Pintu (DPMPTSP) Sumbar hanya menyumbang 4,39% dari total investasi tahun 2018 atau sebesar Rp101,34 miliar (investasi pada LU penyediaan akomodasi dan mamin). Sedangkan untuk Penanaman Modal Asing (PMA) menyumbang sebesar 15,27% atau sebesar US$20,97 juta.

Strategi maupun upaya untuk mengoptimalkan sektor pariwisata Sumbar tersebut menjadi topik utama dari acara diskusi di Aula Anggun Nan Tongga Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Barat pada hari Kamis, tanggal 11 April 2019 yang mengusung tema “Strategi Penguatan Sektor Pariwisata Sebagai Sumber Pertumbuhan Ekonomi Sumatera Barat”. Acara ini dibuka oleh Gubernur Provinsi Sumatera Barat, dihadiri oleh pimpinan dan perwakilan institusi terkait serta menghadirkan narasumber dari Kementerian Pariwisata Republik Indonesia, Dinas Pariwisata Sumbar dan Kantor OJK Provinsi Sumbar. Diskusi ini sekaligus merupakan bagian dari diseminasi Kajian Ekonomi Regional Provinsi Sumatera Barat periode Februari 2019. 

Dalam sambutannya, Gubernur Sumbar menyikapi perlunya penguatan dan pengembangan sektor pariwisata sebagai sumber perekonomian Sumatera Barat di masa mendatang. Hal ini juga sejalan dengan masuknya sektor pariwisata dalam program prioritas Pemerintah Provinsi Sumatera Barat. 

"Perkembangan sektor pariwisata di Sumatera Barat terbilang cukup baik, seiring dengan terus tumbuhnya bisnis perhotelan dan rumah makan juga pusat rekreasi di wilayah Sumatera Barat. Ke depan, perlunya sinergi dan koordinasi yang erat antar instansi dan pelaku usaha untuk terus mendukung peningkatan sektor pariwisata, termasuk OPD terkait, perhotelan, penyedia jasa transportasi maupun masyarakat luas," ungkap Gubernur.

Dalam kesempatan tersebut dibahas pula strategi yang dapat diterapkan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat dalam meningkatkan pariwisata ke depannya, antara lain pengembangan destinasi wisata dan promosi wisata (branding) yang mengacu pada konsep 3A dan 2P, yakni Akesibilitas, Atraksi, Amenitas, Pelaku Usaha dan Promosi. 

Lebih lanjut Wahyu menyampaikan, dari sisi aksesibilitas, yang perlu menjadi perhatian adalah pengembangan akses jalan raya dan penyediaan sarana transportasi publik yang layak dan nyaman menuju destinasi wisata. 

"Kita berharap atraksi wisata yang sudah banyak di Sumbar, ke depan diharapkan dapat lebih diorganisir dengan profesional sehingga memberikan dampak publikasi dan ekonomi yang luas. Sementara dari sisi amenitas, pelaku usaha diharapkan dapat lebih banyak mengembangkan kawasan Meeting, Incentive, Convention dan Exhibition (MICE), pelaku usaha restoran juga diharapkan dapat mendapatkan label Halal dari MUI untuk menambah keyakinan konsumen terkait kehalalan makanan yang disediakan," katanya.

Potensi pariwisata Sumbar yang besar, juga diharapkan diimbangi dengan promosi destinasi wisata melalui promosi konvensional maupun digital, salah satu yang potensial untuk dikembangkan adalah konsep wisata halal atau muslim friendly. Dari sisi pelaku usaha, perbankan komit untuk terus mengembangkan sektor pariwisata dengan menyalurkan kredit, termasuk Kredit Usaha Rakyat (KUR) pariwisata. 

"Setelah kegiatan diskusi tersebut kami mengharapkan dapat mengerucut kepada strategi dan langkah konkrit yang dapat dilakukan oleh pemangku kepentingan baik di tingkat nasional maupun di tingkat daerah, khususnya di Sumatera Barat, dalam mensinergikan kebijakan mengoptimalkan sektor pariwisata sebagai sumber pertumbuhan ekonomi di masa mendatang," kata dia.
(*/don)

                    


Berita Terkait

Baca Juga