Komnas Anak Prihatin Soal Kasus 12 Siswi SMA Keroyok Anak SMP di Pontianak

Komnas Anak Prihatin Soal Kasus 12 Siswi SMA Keroyok Anak SMP di Pontianak Ketua Umum Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) Arist Merdeka Sirait (Istimewa)

Covesia.com- Komnas Perlindungan Anak (Komnas Anak) menyayangkan dan prihatin terhadap peristiwa penganiayaan, perundungan juga persekusi yang dilakukan 12 orang siswi SMA secara bergerombol terhadap seorang siswi SMP berinisial A (14) di Kota Pontianak, Kalimantan Barat.

Ketua Komnas Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait mengatakan, kejadian ini mengakibatkan korban mengalami sakit,  trauma,  dan depresi berat, yang terjadi pada 29 Maret 2019.

"Setelah Tim Relawan Sahabat Anak Indonesia untuk wilayah kerja Kalimantan Barat mendapat data dan kepastian peristiwa perundungan ini, Komnas Perlindungan anak sangat menyayang dan mengambil sikap bahwa penganiyaan, perundungan, persekusi diikuti kekerasan seksual yang dilakakukan 12 geng siswi ini tidak bisa ditoleransi oleh akal sehat manusia lagi," kata Arist dalam keteranganya kepada Covesia.com, Rabu (10/4/2019).

Arist menjelaskan, mengingat pelaku masih dalam status usia anak dan dalam perspektif perlindungan anak masih memerlukan perlindungan,   sebagaimana diatur dalam ketentuan UU RI Nomor 11 Tahun 2012  tentang Distim Peradilan Pidana Anak (SPPA), junto UU RI No. 35 Tahun 2014 tentang perubahan atas UU RI No. 23 Tahun 2002 tentang Perindungan Anak, Komnas Perlindungan Anak   mendorong penegak hukum yakni Polresta Pontianak yang menangani perkara penganiayaan ini menggunakan pendekatan keadilan restoratif dalam proses penyelesaiannya.

Arist menambahkan, dengan pendekatan keadilan restoratif tersebut selain meminta pertangungjawaban hukum para pelaku atas tindakan pidananya,  pihak kepolisian juga bisa menggunakan pendekatan "diversi"  terhadap pelaku berupa sanksi tindakan seperti saksi sosial guna memulihkan harkat dan harga diri korban yang telah dilecehkan dan berdampak efek jera.

Misalnya, kata dia, dengan cara para pelaku meminta maaf secara terbuka kepada korban dihadapan orangtua dan penegak hukum. "Minta maaf dan diikuti dengan mencium kaki korban," kata Arist.

Manurut Arist, selain dianiaya secara bergerombol, kemaluan korban juga dirusak oleh salah satu pelaku dengan memasukkan jari pada vagina sehingga korban kehilangan keperawanan dan terjadi pendarahan hebat yang berdampak pembengkakan di sekitar area kewanitaannya. 

"Akibatnya A mengalami luka fisik,  psikologis yang cukup serius dan harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit," terang Arist.

Arist mengatakan, ibu korban menjelaskan, kejadian itu bermula saat korban dijemput oleh salah seorang pelaku di kediaman kakeknya sekitar pukul 14.00 WIB. Pelaku meminta korban untuk dipertemukan dengan kakak sepupunya yaitu dengan alasan ada yang ingin dibicarakan. Padahal, korban tidak terlalu mengenal pelaku.

Setelah bertemu, ternyata yang menjemput tidak sendiri melainkan 4 orang. Korban A dan kakak sepupunya dibawa ke tempat sepi di belakang aneka Pavilion di Jalan Sulawesi.

Setibanya di lokasi, terang Arist, sang ibu korban menjelaskan, terjadilah cekcok mulut yang dikompori oleh salah seorang siswi yang diduga menjadi provokator yakni SF sehingga mengakibatkan terjadinya adu jotos.

Pelaku lain, NT dan PC juga ikut melakukan kekerasan terhadap A mulai dari membully, menjambak rambut, membenturkan kepala ke aspal hingga menginjak perutnya korban. Ketika A bangun, mukanya pun ditendang dengan sepatu sandal gunung sehingga terjadi pendarahan dalam hidung dan terdapat benjolan dan luka dalam di kepala. 

Arist menyebut, salah seorang pelaku lainnya yakni TR bahkan mencoba merusak kemaluan A dengan cara mencolok kemaluan korban menggunakan jari dengan maksud untuk membuat korban tidak lagi perawan sehingga menyebabkan pendarahan dan pembengkakan di area kewanitaan korban. 

Arist mengatakan, setelah kejadian itu, korban cerita ke sang ibu kalau dirinya dianiaya. Korban depresi, tertekan, trauma berat dan suka mengigau (berhalunisasi) tentang kejadian tersebut.

Menurut Arist, sempat ada upaya mediasi antara pihak korban dan para orang tua pelaku. Namun sang ibu korban bersikukuh untuk melanjutkan kasus ini ke jalur hukum.

Menurut informasi yang didapat, jelas Arist, permasalahan ini berawal karena masalah asmara dimana kakak sepupu korban merupakan mantan pacar dari pelaku penganiayaan. 

(jon)










Berita Terkait

Baca Juga