Psikolog: Budaya Korupsi Sudah Tertanam Sejak Dini

Psikolog Budaya Korupsi Sudah Tertanam Sejak Dini Psikolog Kasandra Putranto (Ist)

Covesia.com - Korupsi seakan sudah membudaya. Sebuah pernyataan yang menggambarkan mirisnya realitas saat ini. 

Kata korupsi maupun koruptor sudah bukan hal yang asing lagi ditelinga masyarakat. Seperti puncak gunung es, kasus-kasus rasuah ini terus bergulir, dan tak tau kapan akan berakhir di negeri ini. Yang terbaru, Komisi Pemberantasan Korupsi kembali melakukan Operasi Tangkap Tangan (OTT) terhadap Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Romahurmuziy dalam dugaan kasus jual beli jabatan di Kementerian Agama.

Menanggapi hal ini, Psikolog Kasandra Putranto memberikan penilaian kenapa fenomena ini terjadi.

Menurutnya, terdapat beberapa faktor yang mengakibatkan prilaku korup di masyarakat terus terjadi, yakni internal dari si pelaku, maupun eksternal yang dipengaruhi pihak luar.

"Dalam kondisi norma sosial yang tidak konsisten, menyatakan tidak terhadap korupsi tetapi giat melakukan dan membiarkan, tentu saja membuat para pelaku menjadi tidak jera bahkan membuat orang secara sadar belajar korupsi," nilai Kasandra.

"Secara profil psikologis sendiri memang ada yang khas, terutama dalam unsur integritàs, kepatuhan, nilai moral dan kematangan sosial emosional," jelasnya dalam perbincangan kepada covesia.com, Selasa (19/03/2019).

Ia melanjutkan, budaya buruk tersebut telah tertanam sejak usia dini. Hal itu dapat dicerminkan dari nilai perilaku salah asuh yang diwarisi dari generasi ke generasi. Seperti halnya saat masih usia kanak-kanak, yang mana para peserta didik itu dibiasakan untuk mengejar nilai lebih penting dari proses belajar itu sendiri, sehingga berbagai carapun dilakukan demi tujuan tersebut tercapai.

"Dimulai dari masa kanak-kanak, ketika anak-anak dibiasakan untuk mengejar nilai lebih penting daripada proses belajar, mencontek menjadi hal yang biasa. Menyogok untuk mendapatkan nilai dan lain-lain," paparnya

"Ketika nurani anak tergerus oleh nilai-nilai yang diterapkan orang tua, guru dan masyarakat, anak jadi belajar bahwa korupsi adalah hal yang wajar, bahkan hal Yang harus dilakukan untuk maju," ulasnya menimpali.

Disamping itu, Kasandra melanjutkan, gaya hidup si pelaku juga menjadi faktor yang sangat menentukan prilaku koruptip itu terjadi. Hal tersebut juga diperparah peran media sosial yang dijadikan sebagai ajang untuk berbangga-bangga soal kemewahan.

"Gaya hidup juga menjadi satu alasan," ucapnya.

Melihat realitas tersebut, finalis Abang None Jakarta 1989 ini beranggapan bahwa, terjeratnya elit politik dalam kasus korupsi bukan semata-mata masalah gangguan psikologis dalam diri si pelaku itu sendiri. Namun hal itu juga lebih disebabkan oleh keberhasilan dari penegak hukum khusunya KPK dalam memberantas tindak pidana korupsi.

Meski demikian ia tidak menafikan belum maksimalnya pemberian efek jera terhadap para pelaku korup di republik ini. Untuk itu ia berharap pemerintah maupun para penegak hukum dapat mencontoh negara-negara lain yang dinilai telah berhasil dalam pemberantasan korupsi, sehingga harapan kedepan terciptanya iklim yang bebas korupsi di negeri ini dapat terwujud. 

"Untuk hukuman tambahan, mari kita berkaca saja pada hukum di negara lain. Sampai saat ini Yang paling efektif adalah dengan mengembalikan kepada negara dan disiarkan, misalnya di Phillipina, Korea Selatan maupun Cina, atau bahkan di negara yang lebih maju seperti Amerika Inggris dan Australia," jelas pengelola biropsikologi Kasandra & Associate ini.

"Sementara di Indonesia, masih banyak yang Belum mengembalikan uang hasil korupsi dan Belum disiarkan sebagai pelaku korupsi. Jadilah orang masih berani korupsi. Karena nilai nya lebih tinggi hasil korupsinya daripada hukumannnya," tambah ibu tiga anak yang aktif berorganisasi ini.

Sebelumnya, Ketum PPP Romahurmuziy ditetapkan menjadi tersangka suap terkait seleksi pengisian jabatan pimpinan tinggi di Kementerian Agama (Kemenag). Selain Rommy, Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Gresik Muhammad Muafaq Wirahadi dan Kepala Kantor Wilayah Kemenag Jawa Timur Haris Hasanuddin menjadi tersangka suap perkara tersebut.

Muafaq diduga memberi duit Rp 50 juta pada Jumat (15/3) ke Rommy, sedangkan Haris diduga menyetor duit Rp 250 juta ke Rommy pada 6 Februari 2019. 

"Diduga terjadi kerja sama pihak-pihak tertentu untuk tetap meloloskan HRS dalam proses seleksi jabatan tinggi Kementerian Agama RI tersebut," kata Syarif.

Rommy dijerat dengan Pasal 12 huruf a atau huruf b atau Pasal 11 UU Nomor 20/2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.(adi/adi) 

Berita Terkait

Baca Juga