Penjelasan Psikolog Terkait Penyebab Terjadinya Kasus Kekerasan Seksual

Penjelasan Psikolog Terkait Penyebab Terjadinya Kasus Kekerasan Seksual Ilustrasi (Dok. covesia)

Covesia.com - Komnas Perlindungan Anak (Komnas PA) menyatakan bahwa wilayah Sumatera Barat (Sumbar) masuk pada zona merah atau darurat kasus kekerasan seksual anak.

Menanggapi hal tersebut, Psikolog Kasandra Putranto menjelaskan penyebab dari kejadian miris itu bisa terjadi.

Dijelaskannya, kekerasan seksual terutama yang berbasis gender disebabkan karena ada perbedaan daya dan kekuasaan yang dimiliki pelaku dan korban.

"Pelaku berkuasa, korban tidak berdaya," terang Kasandra dalam pesan WhatshApp kepada covesia.com, Rabu (13/3/2019).

Kembali dijelaskannya, Pada kasus kekerasan seksual yang dilakukan di dalam lingkungan rumah dan sekolah atau kerja, disebabkan oleh tidak terlindunginya korban karena kekuasaan pelaku, antara lain orang tua, baik kandung, maupun tiri, guru atau atasan.

"Para pelaku Umumnya memiliki profil psikologis Yang khas, ditandai dengan tingginya kebutuhan seksual dan dilampiaskan kepada korban Yang lemah profil," tambahnya lagi.

Terkait terus terjadinya fenomena ini, Kasandra menilai hal tersebut disebabkan oleh tidak tuntasnya kasus tersebut diselesaikan secara komprehensif.

"Fenomena terus berulang karena akar permasalahan yang menimbulkan rantai kekerasan seksual tidak diputus," nilainya.

Sebelumnya, Komnas Perlindungan Anak (Komnas PA) menyatakan bahwa wilayah Sumatera Barat (Sumbar) masuk pada zona merah atau darurat kasus kekerasan seksual anak.

"Sehingga tidaklah berlebihan jika Sumatera Barat dapat digolongkan berada pada zona merah atau darurat kekerasan seksual terhadap anak," jelas Ketua Umum Komnas PA, Arist Merdeka Sirait dalam keteranganya, Selasa (12/3/2019).

Menurut dia, hal ini berdasarkan data yang dikumpulkan Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Provinsi Sumbar dan LPA Kota Padang atas peristiwa kejahatan seksual di Sumatera Barat yang menunjukkan angka yang terus meningkat.

"Dari 229 kasus pelanggaran yang dilaporkan ke Unit PPA  di tahun 2018 menunjukkan kasus pelanggaran hak anak 52% , didominasi kasus kejahatan seksual. Dari laporan itu, ditemukan  pelakunya  adalah orang terdekat korban dan sebarannya merata antara di desa dan di kota di Sumbar," kata dia.

(adi)


Berita Terkait

Baca Juga