Sosiolog: Ponpes Perlu Identifikasi Saat Penerimaan Santri

Sosiolog Ponpes Perlu Identifikasi Saat Penerimaan Santri Muhammad Taufik

Covesia.com - Sosiolog Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol Padang Muhammad Taufik menyarankan pengelola pondok pesantren diperlukan untuk melakukan identifikasi terhadap calon santri guna mencegah terjadinya kekerasan antar santri.

Hal tersebut ditegaskan Taufik dalam menyikapi kasus pengeroyokan yang berujung kematian salah seorang santri di Pondok Pesantren Nurul Ikhlas Padangpanjang.

"Kita cukup miris apa yang terjadi di Nurul Ikhlas, ini harus jadi pelajaran bersama, baik pihak pesantren, orang tua, dan masyarakat," ujar Taufik kepada covesia.com, Selasa (20/2/2019).

Menurutnya, identifikasi terhadap calon santri perlu dilakukan agar para pengelola pondok pesantren bisa memahami apa kekurangan dan kelebihan anak didiknya. Saat penerimaan santri lakukan wawancara dengan calon santri dan orang tua santri untuk mengetahui lebih jauh bagaimana pribadi calon santri tersebut.

Jika sudah diketahui, seandainya pun ada santri yang nakal bisa dilakukan pendekatan khusus, sehingga bisa mencegah terjadinya kekerasan seperti di Nurul Ikhlas.

"Lakukan pendekatan khusus, pembinaan khusus kepada santri yang berperilaku nakal, tentunya setelah upaya identifikasi," jelasnya.

Lebih jauh alumni Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI) Canduang, Agam ini mengungkapkan, para santri yang mondok di pesantren memiliki latar belakang yang berbeda, ada yang nakal, ada yang patuh, makanya diperlukan pengawasan dan upaya-upaya perlakuan khusus.

"Bayak masyarakat yang berfikiran memasukkan anaknya ke pesantren karena nakal, orang masih berfikir dengan menyekolahkan anaknya di pesantren akan bisa lebih baik," jelas Taufik.

Diberitakan sebelumnya, polisi tengah menyelidiki kasus penganiayaan Robi Alhalim hingga tewas oleh belasan temannya sesama santri di Ponpes Nurul Ikhlas Padang Panjang, Sumatera Barat. Sejumlah barang bukti seperti tongkat sapu yang sudah patah disita polisi dalam penggeledahan tadi malam.

"Barang bukti tersebut berupa tangkai sapu yang sudah patah dan sepatu yang diduga sebagai alat penganiayaan serta baju korban," ucap Kasat Reskrim Polres Padang Panjang, Iptu Kalbert Jonaidi, Selasa (19/2/2019).

Dia mengatakan, pihaknya terus memeriksa 17 anak pelaku yang terlibat dalam peristiwa tersebut. Anak pelaku merupakan sebutan lain bagi tersangka dalam kasus yang melibatkan anak-anak.

"Kita juga sudah kumpulkan dan sita bukti-bukti," kata Kalbet.

Robi sendiri meninggal dunia, Senin (18/2/2019) pagi, setelah tak sadarkan diri lebih dari sepekan. Untuk melengkapi berkas, penyidik juga memeriksa 5 orang saksi dari pihak pondok pesantren yang terdiri dari ustaz, wali kamar, dan pengawas pondok pesantren. 

Dalam pemeriksaan terungkap, penganiayaan berlangsung selama 3 hari, dimulai sejak Kamis (7/2/2019), Jumat (8/2/2019) kemudian Minggu (10/2/2019) di salah satu kamar gedung Asrama Musa. 

"Jadi korban dihajar bukan 3 hari berturut-turut, tapi Kamis, Jumat, dan Minggu. Pada hari Sabtu tidak dilakukan pengeroyokan, sebab dari keterangan saksi dan anak pelaku (tersangka) korban sempat jatuh sakit," jelas dia.

Sejauh ini, penganiayaan terjadi karena korban dituding sebagai pelaku banyaknya peristiwa kehilangan barang di asrama.

"Kami masih melakukan penyidikan apakah betul korban telah melakukan pengambilan barang milik temannya atau ada motif lainnya," ucap Kalbert. 

(lif)


Berita Terkait

Baca Juga