Komnas Anak: Kasus Santri Tewas di Sumbar Harus Ditangani Melalui Pendekatan Restoratif

Komnas Anak Kasus Santri Tewas di Sumbar Harus Ditangani Melalui Pendekatan Restoratif Ketua Komisi Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait. (Istimewa)

Covesia.com- Komnas Anak yang biasa disebut Komnas Perlindungan Anak (Komnas PA) meminta agar pihak kepolisian bisa menangani kasus tewasnya santri di Sumatera Barat melalui pendekatan restoratif.

Hal ini, kata Ketua Komnas PA, Arist Merdeka Sirait telah diatur dalam ketentuan UU RI Nomor : 11 Tahun 2012 tentang Sistim Peradilan Pidana Anak (SPPA) junto UU RI Nomor 35 tahun 2014 tentang Perubahan atas UUU RI Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. 

"Keadilan hukum harus ditegakkan. Apa yang dilakukan 17 orang santri tidak bisa ditoleransi dan dibenarkan," kata Arist kepada Covesia.com, Selasa (19/2/2019).

RA (18) santri yang dikeroyok belasan temannya di Pondok Pesantren Nurul Ikhlas, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat (Sumbar) meninggal dunia, Senin (18/2).

RA meninggal setelah hampir sepekan tak sadarkan diri di Rumah Sakit DR Muhammad Djamil Padang. 

Satuan Reserse dan Kriminal (Satreskrim) Polres Padang Panjang pun telah menetapkan 17 tersangka yang rata- rata masih dibawah umur.

Arist pun berharap agar kepolisian bisa menangani kasus tersebut melalui perspektif perlindungan anak. 

"Aksi brutal  yang dilakukan 17 orang  santri Ponpes NR di Kabupaten Tanah Datar terhadap seorang Santri R  yang mengakibatkan korban meninggal dunia harus ditangani melalui pendekatan dan persfektif perlindungan anak berkeadilan dan berdampak efek jera," ujar Arist.

Ia pun mengaku akan melakukan kordinasi dengan Polres Padang Panjang untuk menentukan pendekatan penanganan hukumnya. 

"Saya berharap dalam waktu dekat diadakan gelar kasus agar kasus pidana yang diduga dilakukan 17 santri menjadi terang benderang," tukas dia.

(jon)


Berita Terkait

Baca Juga