Agar Lebih Tahan Gempa, Struktur Bangunan Sebaiknya Sederhana dan Simetris

Agar Lebih Tahan Gempa Struktur Bangunan Sebaiknya Sederhana dan Simetris Ilustrasi - Warga berada di rumahnya yang rubuh akibat gempa di Desa Sembalun Bumbung, Kecamatan Sembalun, Selong, Lombok Timur, NTB. Antara Foto/ Ahmad Subaidi

Covesia.com - Prinsip utama dalam mendirikan rumah tahan gempa adalah denah dan struktur bangunan sederhana dan simetris, kata akademisi dari Universitas Jenderal Soedirman, Yanuar Haryanto.

"Denah yang sederhana dan simetris akan memudahkan kita menentukan letak titik-titik kolom dan fondasi yang akan menjadi rangka struktur utama pada bangunan kita. Misalnya untuk kolom beton bertulang yang ideal untuk rumah tinggal biasanya berjarak 3-4 meter," katanya dikutip dari Antara, Senin (18/2/2019). 

Struktur bangunan sederhana dan simetris, tambah dia, dapat menahan gaya gempa yang lebih baik dari pada bangunan dengan bentuk yang tidak beraturan.

"Hal ini disebabkan karena gaya gempa yang terjadi dapat terdistribusi secara merata ke semua elemen struktur," katanya.

Menurut dia, mendirikan rumah tahan gempa sangat penting terutama di wilayah yang rawan bencana gempa bumi.

"Tingkat risiko gempa ditentukan oleh dua faktor utama yaitu besarnya tingkat ancaman (hazard) dan besarnya tingkat kerentanan (vulnerability)," katanya.

Besarnya tingkat ancaman, kata dia, tidak dapat dikurangi karena merupakan fenomena alam.

"Dengan demikian tingkat risiko gempa hanya dapat dikurangi dengan memperkecil tingkat kerentanan," katanya.

Ia menilai, pada saat ini pembuatan rumah tahan gempa belum terlalu populer di masyarakat Indonesia.

"Banyak hal yang membuat rumah tahan gempa belum terlalu populer di tengah masyarakat padahal sangat penting sebagai upaya mitigasi bencana," katanya.

Dia menyebutkan, belum populernya pembuatan rumah tahan gempa salah satunya karena minimnya regulasi dan sosialisasi kepada masyarakat tentang rumah tahan gempa.

"Selain itu juga disebabkan oleh terbatasnya pengetahuan masyarakat ataupun tukang, alasan ekonomi, tata ruang, dan terbatasnya pengetahuan mengenai upaya mitigasi bencana.

Untuk itu, kata dia, dibutuhkan usaha yang lebih optimal dari para pemangku kebijakan terkait sosialisasi pentingnya membuat rumah tahan gempa.

"Dibutuhkan usaha-usaha optimal, terpadu, terarah, berkesinambungan dan terkoordinir dari semua pemangku kepentingan dalam melakukan upaya mitigasi bencana gempa yang salah satunya dapat dilakukan dengan mendirikan rumah tahan gempa," katanya.

(ant/rdk)

Berita Terkait

Baca Juga