Asa Keluarga Erik Alamsyah dan Faisal-Budri Agar Polri Patuhi Putusan MA

Asa Keluarga Erik Alamsyah dan FaisalBudri Agar Polri Patuhi Putusan MA Ilustrasi Kantor LBH Padang

Covesia.com - Keluarga mendiang Erik Alamsyah (19), korban kekerasan berujung kematian yang dilakukan oleh enam orang oknum Polresta Kota Bukitinggi pada Maret 2012 lalu berharap pihak Polri segera membayarkan ganti rugi.

Pada 7 November 2013, Majelis Hakim Pengadilan Negeri Bukittinggi mengabulkan sebagian gugatan penggugat dengan putusan menghukum tergugat untuk membayar kepada Alamsyafudin, Ayah Erik Alamsyah, atas kerugian materiil dan immateriil sebesar Rp 100.700.000 (seratus juta tujuh ratus ribu rupiah).

Kemudian, karena tak puas dengan putusan tersebut, pihak kepolisian mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi Padang, namun Majelis Hakim Pengadilan Tinggi Padang memberikan putusan menguatkan putusan Pengadilan Negeri Bukittinggi sebelumnya. 

Pada 7 April 2015 Bahkan Mahkamah Agung (MA)  menolak permohonan kasasi yang diajukan Polri dengan alasan tidak dapat dibenarkan lantaran judex facti sudah dianggap tepat dan benar 

Baca juga: LBH Minta Polri Tuntaskan Uang Ganti Rugi Korban Penganiyaan di Sumbar

"Kami keluarga sangat berharap pihak Polri untuk segera penuhi putusan pengadilan," ujar ayah erik Alamsyah, Alamsyah Fuddin (63) kepada Covesia.com di Padang, Rabu (13/2/2019). 

Alamsyah Fuddin sangat menyayangkan sikap oknum Polresta Bukittinggi yang telah menyebabkan hilangnya nyawa anak bungsunya itu.

"Erik merupakan anak bungsu dari empat bersaudara. Kami sangat terpukul dengan kejadian ini, Seandainya dihukum 20 tahun pun kami masih bisa terima, namun yang terjadi justru kehilangan nyawa anak kami," ungkap Alamsyah yang sehari-harinya bekerja sebagai buruh tani itu.

"Kami berharap agar kasus yang menimpa anak kami ini tidak terulang lagi, dan hukum di Indonesia ini benar-benar ditegakkan dengan adil, tidak hanya untuk kalangan atas, namun juga untuk kami rakyat bawah ini " tutup Alamsyah.

Hal senada juga diungkapkan keluarga mendiang Faisal dan Budri yang juga korban penganiayaan oknum polisi. Kematian kakak beradik Warga Jorong Pulasa, Nagari Pulasan, Tanjung Gadang, Kabupaten Sijunjung itu ditemukan tewas tergantung di kamar mandi tahanan Polsek Sijunjung, 28 Desember 2011 silam.

"Kami dari keluarga benar-benar mengharapkan dan polri segera membayarkannya, Faisal dan Budri merupakan tulang punggung keluarga," ujar paman korban, Yuspar (60).

"Sejak kematian korban, Ibu korban 'Yusmanidar (58)' saat ini menjalani hidup dari belas kasihan keluarga dan tetangganya karena ayah korban juga telah juga telah lama meninggal. Karena itu kami sangat mengharapakan uang ganti rugi tersebut," terang Yuspar.

Sebelumnya, diketahui LBH Padang mengajukan gugatan Perbuatan Melawan Hukum (PMH) secara perdata dan diputus sampai tingkat kasasi. Dalam putusan kasasi, pihak kepolisian harus membayarkan sejumlah ganti kerugian immateril terhadap keluarga korban Rp 500 juta.

"Tingkat pertama dan banding LBH sebagai penggugat kalah, tetapi akhirnya di tingkat kasasi tahun 2018 Mahkamah Agung menilai Polri harus bertanggung jawab dan menyerahkan uang ganti rugi kepada keluarga korban," sebutnya.

Terkait dua kasus tersebut, Wendra Rona meminta Kepolisian Republik Indonesia (Polri) segera menyerahkan uang ganti rugi kepada keluarga korban penganiyaan berujung kematian Faisal, Busri dan Erik Alamsyah.

Menurut Wendra, kasus Faisal dan Busri dan Erik Alamsyah sudah berkekuatan hukum tetap dan tidak ada alasan untuk tidak membayarkan uang ganti rugi kepada keluarga korban. 

"Kita Dorong Polri segera membayarkan secepatnya, karena putusan yang berkekuatan hukuman tetap harus dijalankan oleh Polri," ujarnya.

Baca juga: Jalan Panjang Keluarga Erik Alamsyah dan Faisal-Budri Mencari Keadilan

Baca juga: Soal Ganti Rugi Korban Kekerasan Polisi, Haris Azhar: Menyedihkan, Penegak Justru Langgar Hukum

(dnq/lif)

Berita Terkait

Baca Juga