Jual Kerajinan Sulam dan Perak, Yayasan Amai Setia Koto Gadang Capai Omset Puluhan Juta Sebulan

Jual Kerajinan Sulam dan Perak Yayasan Amai Setia Koto Gadang Capai Omset Puluhan Juta Sebulan Hasil dari kerajinan perak di Yayasan Amai Setia, Koto Gadang, Kab. Agam, Sumbar (Foto: Covesia/ Debi K)

Covesia.com - Yayasan Amai Setia Koto Gadang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat (Sumbar) merupakan salah satu tempat produksi perak terbaik di wilayah Agam. 

Tidak hanya produksi perak namun yayasan Amai Setia ini juga memproduksi sulaman khas Koto Gadang asli dibuat dengan menggunakan tangan yang membutuhkan waktu cukup lama untuk proses pembuatan satu sulaman. 

Namun dalam sebulan, Yayasan Amai Setia Koto Gadang dapat menghasilkan omset mencapai puluhan juta rupiah dari hasil penjualan perak, sulaman dan souvenir lainnya khas Koto Gadang.

"Omset yang kita dapat dalam sebulan bisa mencapai Rp20 juta hingga Rp25 juta," sebut Mahnidar (74) sebagai pengurus Yayasan Amai Setia Koto Gadang, saat diwawancarai Covesia.com, Sabtu (9/2/2019).

Ia menyebutkan untuk pembeli pada umumnya merupakan pengunjung yang datang dari luar daerah Sumbar bahkan ada yang datang dari luar Indonesia.

"Kalau dalam Sumbar paling kota tetangga seperti Medan, Pekanbaru, Riau, Batam, Jakarta, Bandung, Bali dan kota lainnya. Sedangkan luar Indonesia datang dari Malaysia, Singapura, negara-negara Eropa dan Amerika," tuturnya. 

Para pembeli, ujar Mahnidar pada umumnya mengincar perak seperti cincin, kalung, gelang dan anting dengan harga setiap item berbeda-beda mulai dari yang harganya ratusan ribu hingga jutaan rupiah, karena pembuatan perak tersebut murni 99 persen menggunakan perak asli tanpa adanya tambahan lain. 

"Pembeli perempuan lebih dominan karena perempuan lebih banyak yang memakai, sedangkan laki-laki palingan cuma souvenir kalau tidak baju koko," katanya. 

Sedangkan untuk sulaman, tambahnya ada yang dijual berbentuk selendang dan ada pula yang berbentuk kain sarung yang dipakai ketika ada acara keluarga seperti selendang suji caia.

"Untuk satu sulaman harganya juga bervariasi mulai dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah tergantung lama proses pembuatannya karena satu sulaman bisa membutuhkan waktu pembukaan hingga satu tahun," terangnya. 

Meski terbilang cukup mahal, sebut Mahnidar masih banyak para pembeli yang memburu souvenir Yayasan Amai Setia, karena barang-barang yang dipajang merupakan barang asli Koto Gadang. 

"Alhamdulillah setiap pembeli yang datang kesini pasti membeli, setidaknya membawa perak," sebutnya. 

(deb/don) 


Berita Terkait

Baca Juga