Imam Besar Masjid Istiqlal: Perbedaan di Indonesia Jangan Diartikan Sebagai Malapetaka

Imam Besar Masjid Istiqlal Perbedaan di Indonesia Jangan Diartikan Sebagai Malapetaka Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta, Prof KH Nasarudin Umar (antara)

Covesia.com - Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta, Prof KH Nasarudin Umar menegaskan, perbedaan di Indonesia jangan diartikan sebagai malapetaka, namun sebagai rahmat.

"Justru perbedaan itu merupakan rahmat dari Tuhan Yang Maha Esa," ujarnya di Medan, Sabtu.

Dia menyebutkan itu saat mengunjungi Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda di kawasan Sunggal.

Dia memberi contoh, sebuah lukisan kalau hanya berwarna putih maka tidak akan indah. Sebaliknya, jika lukisan itu memiliki banyak warna, maka terlihat menarik.

"Begitu juga Indonesia, beragam agama dan suku membaur menjadi satu kesatuan," ujarnya. Menurutnya, sebuah institusi negara yang homogen atau tidak plural, tidak menjadi jaminan negara tersebut akan selalu damai.

"Sebaliknya, bukan berarti negara yang plural itu akan menjadi petaka. Indonesia yang terdiri dari berbagai agama dan suku masih tetap damai dan sejahtera sampai saat ini," lanjutnya.

Nasarudin menyebutkan, Indonesia pernah diramal dalam empat fase di tahun 2008, 2011, 2014 dan 2017 akan bubar dan nyatanya tidak terjadi.

"Sulit memprediksi Indonesia yang merupakan negara dengan beragam suku dan agama tetapi masih tetap bersatu dan tidak pecah," ujarnya.

Dia menegaskan, selama masyarakat bersatu, tidak ada kekuatan apapun di dunia ini yang bisa menghancurkan Indonesia.

Untuk itu meski berbeda agama, suku dan ras, jangan saling menghina, tetapi harus saling menghargai.

Ketua Dewan Pembina YP Sultan Iskandar Muda, dr Sofyan Tan mengaku, pertama kali dirinya bertemu dengan Nasarudin Umar saat mengunjungi New Zealand di 2015 atas undangan Perdana Menteri.

Pada pertemuan tersebut dibicarakan bagaimana mewujudkan dunia yang damai melalui pendidikan.

Saat itu, sebutnya Sekolah Iskandar Muda menjadi percontohan bagaimana membangun Indonesia yang beragam melalui pendidikan multikultural.

"Hari ini Buya Nasaruddin datang untuk melihat langsung Sekolah Sultan Iskandar Muda.

Sekolah ini memiliki siswa dengan agama dan suku yang beragam dan di sini menekankanpersatuan di tengah perbedaan," jelasnya.

Sofyan Tan menegaskan, tujuan dibangun sekolah multikultural itu agar generasi bangsa yang berasal dari berbagai suku dan ras bisa memiliki kesamaan pandangan membangun Indonesia yang lebih damai dan sejahtera.

Ia yang merupakan anggota DPR RI Komisi X menyebutkan, kemajuan Indonesia berada di tangan generasi muda.

"Jika rasa memiliki sudah ada di generasi muda, maka Indonesia tidak akan mengalami perpecahan," ujarnya. (ant/adi)

Berita Terkait

Baca Juga