Kasus Pemindahan Kuburan di Gorontalo Bukti Kegagalan Partai Politik

Kasus Pemindahan Kuburan di Gorontalo Bukti Kegagalan Partai Politik Dok.Detik.com

Covesia.com - Pengamat Komunikasi Politik Universitas Pelita Harapan (UPH) Emrus Sihombing menegaskan, Partai Politik (Parpol) gagal dalam memberikan pendidikan kepada masyarakat. 

Hal tersebut menanggapi kasus pemindahan dua kuburan di Gorontalo akibat perbedaan pilihan Calon Legislatif (Caleg).

Menurut Emrus, Parpol memiliki tanggung jawab terhadap kasus tersebut, peristiwa tersebut membuktikan masih masyarakat  jadi korban perbedaan pandangan politik.

"Masih dibutuhkan kecerdasan politik di tengah masyarakt, dan itu tanggung jawab Parpol," tegas Emrus kepada covesia.com, Senin (14/1/2019).

Menurutnya, baik Parpol maupun politisi harus menginstropeksi diri terkait kejadian tersebut. "Masa orang yang sudah meninggal jadi korban dari perbedaan pandangan politik, itu cukup miris," jelas Emrus.

Menurutnya, ke depannya Parpol harus bisa berbenah dan memberikan pendidikan politik yang baik dan demokratis terhadap masyarakat. Artinya bagaimana memberikan pemahaman agar perbedaan pilihan tidak akan menimbulkan gesekan sosial di tengah masyarakat.

"Kita harap jangan ada lagi kegaduhan, gesekan sosial. Tawarkanlah program dan hindari diksi yang bisa memprovokasi," tukas Emrus.

Sebelumnya diberitakan, dua kuburan di Desa Toto Selatan Kecamatan Kabila, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo, dipindahkan keluarga. Pemilik tanah kuburan, yang masih ikatan keluarga dengan almarhum, meminta keluarga memindahkan kuburan karena beda pilihan calon legislatif (caleg).

Kubur yang dipindahkan adalah kubur almarhum Masri Dunggio yang sudah dikuburkan 26 tahun lalu dan almarhumah Sitti Aisya Hamzah yang baru setahun dikuburkan di halaman belakang milik warga bernama Awono. Pemindahan kuburan itu dilakukan,Sabtu (12/1/2019).

"Awano itu bukan orang NasDem, yang saya tahu Awono itu secara kekerabatan saudara ipar yang mencalonkan diri calon anggota DPRD Bone Bolango. Jadi hubungan dengan partai itu tidak tahu. Dia pernah berkata 'kamu kalau tidak pilih Nani atau Iriani itu kuburan pindah dan ini saya pagar (jalan)'. Nani itu dari NasDem," kata Abdusalam Polontolo, keluarga pemilik kubur yang dipindahkan dilansir covesia.com dari laman detik.com.

Dia menjelaskan beda pilihan yang memicu pemindahan kuburan ini sudah pernah ada mediasi dari pihak kepala desa. Tetapi tidak ada titik temu, keluarga pemilik kubur merasa sudah tidak dihargai.

"Kami sudah diundang ke kantor kepala desa untuk mediasi. Tapi kakak saya sudah telanjur luka, kakak saya seorang janda dan sempat dimaki-maki," lanjut Abdusalam.

Proses pemindahan 2 kubur ini diwarnai isak tangis keluarga. Pihak keluarga mengaku tidak tega melihat 2 kuburan ini dipindahkan.

Proses pembongkaran kuburan hingga ke pemindahan berlangsung hampir 2 jam. Lokasi kuburan yang baru tidak jauh dari kuburan semula .

"Pemicunya itu bahasa 'kalau kamu tidak pilih, ada yang mati tidak bisa dikuburkan di sini. Itu kuburan Masri harus dipindah'. Padahal yang punya lahan kubur masih sepupu dengan almarhum," tambah Abdusalam.

(lif)

Berita Terkait

Baca Juga