Truk Crane Mogok, Perjalanan KRL Cikarang-Bekasi Terhambat

Truk Crane Mogok Perjalanan KRL CikarangBekasi Terhambat ilustrasi

Covesia.com - Perjalanan Kereta Rel Listrik (KRL) tujuan Cikarang-Bekasi, Jawa Barat, mengalami gangguan akibat sebuah truk bertonase berat jenis crane mogok di perlintasan kereta, Kamis (10/1/2019) pagi.

"Hingga saat ini petugas dari berbagai instansi terkait masih berusaha mengevakuasi truk tersebut agar tidak menghalangi jalur rel antara Tambun - Bekasi," ujar Humas PT KAI Commuter Jabodetabek Eva Chairunisa melalui pesan singkat di Bekasi, Jawa Barat, Kamis.

Menurut dia, kendaraan berat berdimensi panjang sekitar 10 meter dengan tinggi 4 meter itu diketahui mengalami mogok di pintu perlintasan JPL 78 yang berlokasi di antara Stasiun Tambun dengan Stasiun Bekasi, tepatnya di sekitar Bulan-Bulan Jalan Pejuang, Kota Bekasi.

Peristiwa itu terjadi sejak pukul 02.20 WIB saat kendaraan berat berwarna kuning milik salah satu perusahaan swasta itu melintas dari arah Jalan Pejuang mengarah ke Jalan Ir H Djuanda, Bekasi Timur.

Pada pukul 06.10 WIB, kata Eva, aliran listrik bagi atas di Stasiun Bekasi dan sekitarnya dipadamkan untuk membantu proses evakuasi.

"Berbagai metode telah dicoba untuk evakuasi untuk mempercepat normalisasi lintasan kereta," katanya.

Akibat kejadian ini, perjalanan KRL antara Cikarang - Bekasi terganggu dan harus diatur bergantian melewati satu jalur rel yang tidak terhalang truk.

"Sebagian perjalanan KRL juga mengalami rekayasa pola operasi dengan perjalanan diatur hanya sampai Stasiun Bekasi untuk selanjutnya kembali ke arah Jakarta Kota," ujarnya.

PT KCI menghimbau para pengguna KRL untuk dapat menggunakan alternatif transportasi lain.

Sementara itu para pengguna yang memilih untuk tetap naik KRL diminta selalu mengutamakan keselamatan dengan tidak berdesakan maupun memaksakan diri untuk naik ke dalam KRL yang telah penuh, serta selalu mendengarkan informasi yang diberikan petugas.

Ratusan penumpang KRL dari Stasiun Cikarang, Cibitung, Tambun dan Bekasi Timur, terpaksa beralih ke angkutan alternatif, seperti ojek daring maupun angkot.

Penumpukan penumpang terjadi di Stasiun Tambun karena mereka yang sudah terlanjur masuk di dalam peron kereta, akhirnya terpaksa keluar stasiun untuk mencari alternatif angkutan umum menuju kantornya.

Sejumlah penumpang pun harus merelakan uang elektronik mereka yang sudah terlanjur terpotong pintu masuk stasiun.

"Saldo di kartu sudah otomatis terpotong di mesin tap. Tapi tidak masalah, yang penting saya jangan telat sampai kantor," ujar Jiban (51) warga Tambun.

(Ant/sea)

Berita Terkait

Baca Juga