Setara Institute Berikan Penghargaan Untuk 10 Kota Toleran di Indonesia

Setara Institute Berikan Penghargaan Untuk 10 Kota Toleran di Indonesia Menteri Dalam Negeri, Tjahjo Kumolo saat memberikan penghargaan untuk 10 Kota Toleran di Indonesia, Jumat (7/12/2018)(Foto: Covesia/ Jhon Rico)

Covesia.com - Setara Institute memberikan penghargaan kepada 10 kota toleran 2018 di Indonesia. 

Penghargaan diberikan langsung oleh Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo, Ketua Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Hariyono dan Ketua Setara Institute Hendardi di Hotel Ashley, Jakarta Pusat, Jumat (7/12/2018).

Untuk peringkat pertama diraih Kota Singkawang, Kalimantan Barat dengan skor toleransi 6.513. Kota Salatiga Jawa Tengah meraih peringkat kedua dengan skor toleransi 6.477. Sedangkan diposisi ketiga diraih oleh Kota Pematang Siantar, Sumatera Utara dengan skor toleransi 6.280.

Diposisi keempat diraih Kota Manado Sulawesi Utara dengan skor toleransi 6.030. Kota Ambon berada diposisi kelima dengan skor toleransi 5.960 dan Kota Bekasi Jawa Barat berada diposisi enam dengan skor toleransi 5.890.

Kota Kupang NTT berada diposisi ketujuh dengan skor toleransi 5.857 dan Kota Tomohon berada diposisi kedelapan dengan skor toleransi 5.833. Kota Binjai berada diposisi sembilan dengan skor toleransi 5.830 dan Kota Surabaya berada diposisi kesepuluh dengan skor toleransi 5.823.

Dalam mengukur Indeks Kota Toleran (IKT) tahun 2018, Menurut Hendardi, Setara Institute menggunakan kerangka grim dan finke yang dimodifikasi dengan variabel lain yakni komposisi penduduk berdasaran agama.

Komposisi penduduk juga menjadi salah satu parameter dalam mengukur indikator toleransi dalam tata kelola kota karena berkenaan dengan tingkat kompleksitas tata kelola keragaman di kota.

Hendardi menjelaskan, kota toleran dalam studi indexing ini adalah kota yang memiliki regulasi kondusif bagi praktik dan atribut diantranya, pemerintah kota tersebut memiliki regulasi yang kondusif bagi praktik dan promosi toleransi baik dalam bentuk perencanaan maupun pelaksanaan.

Selain itu adanya pernyataan dan tindakan aparatur pemerintah kota tersebut kondusif bagi praktik dan promosi toleransi.

Di kota tersebut juga tingkat peristiwa dan tindakan pelanggaran kebebasan beragama dan berkeyakinan rendah atau tidak ada sama sekali. Selain itu, kota tersebut juga menunjukan upaya yang cukup dalam tata kelola keberagaman identitas keagamaan warganya.

(jon)

Berita Terkait

Baca Juga