Amnesty Internasional Ingatkan Aparat Tak Langgar HAM Respons Penembakan Papua

Amnesty Internasional Ingatkan Aparat Tak Langgar HAM Respons Penembakan Papua Ilustrasi

Covesia.com - Amnesty International Indonesia mengingatkan agar respons aparat keamanan terhadap penembakan pekerja Trans Papua tidak mengarah pada pelanggaran hak asasi manusia (HAM) yang lebih lanjut.

Amnesty Internasional mendukung penegakan hukum terhadap setiap pihak yang terlibat.

“Serangan berdarah di Nduga ini juga tidak boleh digunakan sebagai alasan untuk membungkam kebebasan dan melanggar hak asasi manusia,” kata Direktur Eksekutif Amnesty Internasional Usman Hamid melalui keterangan tertulis dilansir dari Anadolu Agency Indonesia, Kamis (6/11/2018).

Usman menyebut rekam jejak aparat keamanan dalam menangani kasus serupa, banyak yang tidak sesuai dengan prinsip penegakan HAM.

Pihak kepolisian dan militer diminta tetap memastikan keamanan setiap pihak tanpa ada diskriminasi pasca kejadian ini.

Pihaknya menyadari situasi berbahaya di lapangan yang dihadapi oleh aparati keamanan. Namun tetap perlu ada penghormatan secara penuh terhadap hak untuk hidup, bebas, kebebasan, dan keamanan.

Jika hal ini gagal dihormati, dikhawatirkan menambah rantai permusuhan dan kekerasan.

“Kegagalan untuk menghormati hak asasi manusia akan berkontribusi pada siklus permusuhan dan kekerasan yang semakin meningkat dengan risiko lebih banyak nyawa yang hilang maupun dalam bahaya, termasuk risiko bagi aparat penegak hukum,” jelas Usman.

Amnesty International Indonesia juga mendesak agar kasus yang menyebabkan hilangnya belasan nyawa warga sipil ini harus diinvestigasi secara cepat, menyeluruh, dan independen.

“Semua yang terlibat harus dibawa ke pengadilan lewat proses yang adil, tanpa harus berujung pada hukuman mati,” kata Usman.

Pemerintah disarankan merespons kejadian di Nduga lewat cara non-militer seperti di Aceh untuk mencegah jatuhnya lebih banyak korban dari warga sipil.

“Indonesia semestinya merujuk pada kebijakan menghadapi situasi serupa di Aceh, dengan mengedepankan jalan non-militer, yang terbukti mengakhiri konflik bersenjata dan mencegah jatuhnya banyak korban sipil,” katanya.

Penembakan terhadap pekerja Trans Papua terjadi di Distrik Yigi, Kabupaten Nduga, pada Senin lalu. Hingga Rabu pagi, aparat menemukan 16 warga sipil meninggal dunia akibat penembakan yang didalangi oleh Kelompok Kriminal Separatis Bersenjata (KKSB). Selain itu, satu orang prajurit TNI juga meninggal akibat diserang. Kelompok Egianus Kogoya disebut bertanggung jawab atas pembunuhan ini.

(lif)

Berita Terkait

Baca Juga