Keteguhan Maria Walanda Maramis 'Mengantarkan' Wanita dalam Dunia Politik dan Pendidikan

Keteguhan Maria Walanda Maramis Mengantarkan Wanita dalam Dunia Politik dan Pendidikan foto: wikipedia

Covesia.com - Maria Josephine Catherine Maramis atau yang lebih dikenal sebagai Maria Walanda Maramis, adalah seorang Pahlawan Nasional Indonesia karena usaha kerasnya mengembangkan potensi dan peran wanita di Indonesia yang bermula di abad ke-20.

Ia lahir di Kema, Sulawesi Utara, 1 Desember 1872. Dalam usia 51 tahun, ia meninggal dunia di Maumbi, Sulawesi Utara pada 22 April 1924. 

Mengingat jasa dan sosoknya, masyarakat Minahasa setiap 1 Desember, memperingati Hari Ibu Maria Walanda Maramis. 

Sosoknya sebagai pejuang terlihat dari perannya di masa itu. Ia dianggap sebagai pendobrak adat, pejuang kemajuan dan emansipasi perempuan di dunia politik dan pendidikan. 

Menurut Nicholas Graafland, dalam sebuah penerbitan "Nederlandsche Zendeling Genootschap" tahun 1981, Maria ditahbiskan sebagai salah satu perempuan teladan Minahasa yang memiliki "bakat istimewa untuk menangkap mengenai apapun juga dan untuk memperkembangkan daya pikirnya, bersifat mudah menampung pengetahuan sehingga lebih sering maju daripada kaum lelaki". 

Patung Walanda Maramis yang terletak di Kelurahan Komo Luar, Kecamatan Wenang, sekitar 15 menit dari pusat kota Manado menjadi bukti bahawa sosok dan jasanya, terutama bagi kaum wanita, patut dikenang.

Pada akhir abad 19 dan awal abad 20 terbagi banyak klan (walak) yang berada dalam proses ke arah satu unit geopolitik yang disebut Minahasa dalam suatu tatanan kolonial Hindia Belanda. 

Sejalan dengan hal ini Hindia Belanda mengadakan perubahan birokrasi dengan mengangkat pejabat-pejabat tradisional sebagai pegawai pemerintah yang bergaji dan di bawah kuasa soerang residen.

Setelah pindah ke Manado, Maramis mulai menulis opini di surat kabar setempat bernama Tjahaja Siang. Dalam artikel-artikelnya, ia menunjukkan pentingnya peranan ibu dalam keluarga di mana adalah kewajiban ibu untuk mengasuh dan menjaga kesehatan anggota-anggota keluarganya. 

Dari pemikirannya, Maramis bersama beberapa orang lain mendirikan Percintaan Ibu Kepada Anak Temurunannya (PIKAT) pada pada 8 Juli 1917, sebagai wadah mendidik kaum wanita yang tamat sekolah dasar dalam hal-hal rumah tangga seperti memasak, menjahit, merawat bayi, pekerjaan tangan, dan sebagainya.

PIKAT seagai organisasi ini bertumbuh dengan dimulainya cabang-cabang di Minahasa, seperti di Maumbi, Tondano, dan Motoling. Cabang-cabang di Jawa juga terbentuk oleh ibu-ibu di sana seperti di Batavia, Bogor, Bandung, Cimahi, Magelang, dan Surabaya. 

Pada tanggal 2 Juni 1918, PIKAT membuka sekolah Manado. Maramis terus aktif dalam PIKAT sampai pada kematiannya pada tanggal 22 April 1924.

Untuk menghargai peranannya dalam pengembangan keadaan wanita di Indonesia, Maria Walanda Maramis mendapat gelar Pahlawan Pergerakan Nasional dari pemerintah Indonesia pada tanggal 20 Mei 1969.

Upaya Maramis agar wanita dapat berperan di politik sangat kuat. Pada tahun 1919, sebuah badan perwakilan dibentuk di Minahasa dengan nama Minahasa Raad. 

Mulanya anggota-anggotanya ditentukan, tetapi pemilihan oleh rakyat direncanakan untuk memilih wakil-wakil rakyat selanjutnya. 

Hanya laki-laki yang bisa menjadi anggota pada waktu itu, tetapi Maramis berusaha supaya wanita juga memilih wakil-wakil yang akan duduk di dalam badan perwakilan tersebut. 

Usahanya berhasil. Pada tahun 1921, surat pemerintah kolonial dari Batavia memperbolehkan wanita untuk memberi suara dalam pemilihan anggota-anggota Minahasa Raad.

(rdk)

Berita Terkait

Baca Juga