Kreasi Coklat Rendang, Pelaku UMKM di Agam Raup Omset Rp13 Juta Per Bulan

Kreasi Coklat Rendang Pelaku UMKM di Agam Raup Omset Rp13 Juta Per Bulan Kreasi olahan cokalt jasil UMKM di Agam (Foto: Covesia/ Johan Utoyo)

Covesia.com - Coklat dicampur buah itu sudah biasa, namun bagaimana jika coklat dicampur rendang, itu baru luar biasa. Manisnya coklat dipadu dengan nikmatnya rendang dalam satu gigitan membuat rasa dan sensasi yang berbeda di lidah. 

Kreasi itu lah  yang membuat Elvidayanti (45). Warga Tanjung Alai, Jorong Padang Tongga, Nagari Manggopoh, kecamatan Lubuk Basung, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, sukses kembangkan bisnisnya.

Pelaku usaha cokelat rumahan bermerek Ari Palace ini Sukses bersaing dan menarik hati pelanggan dari sekian banyak jenis produk UMKM yang beredar di pasaran.

Saat ditemui di rumahnya, terlihat Evi panggilan akrab Elvidayanti sedang membungkus coklat pesanan swalayan langgananya yang sudah menumpuk. 

“Pesanan sudah menumpuk, namun belum dikirim, jadi harus segera dikirim, “ ujarnya saat berbincang-bincang dengan Covesia.com, Senin (26/11/2018).

Bisnis yang digelutinya 3 tahun terakhir itu berawal dari coba kreasi baru untuk kue lebaran, namun lambat laun banyak tetangga dan saudara yang memesan, dari situlah ide untuk menjadikannya sebuah peluang usaha muncul. 

“Banyak yang mengatakan enak, jadi timbul ide membuat dalam jumlah besar dan memasarkannya,“ lanjutnya.

Usaha yang digeluti ibu tiga anak itu tidak selalu berjalan mulus, setelah mengurus surat izin usaha ia terjun langsung menawarkan ke sejumlah supermarket dan swalayan, namun banyak yang menolak.

Pada tahap awal ia mencoba kesalah satu outlet kuliner khas terbesar di daerah Padang, namun ditolak dengan alasan takut tidak laku namun beberapa outlet makanan khas masih ada yang mau mengambil. 

Siapa sangka belum genap satu minggu sang pemilik tempat kuliner mengatakan coklat buatan Evi terjual habis dan ingin memesan lebih banyak lagi, dari situlah semangatnya timbul kembali dan satu persatu ia kembali menawarkan untuk di pasarkan ke supermarket dan mereka mulai tertarik dan menerima hasil olahan tangan Evi.

Setelah sukses denga coklat rendang, Evi mencoba mengembangkan produk coklat rasa supadeh, coklat kofie, dan coklat permen berbentuk emoticon, boneka, bunga dan tulisan unik.

Selain memiliki rasa yang menggoyang lidah, untuk menarik pelanggan Evi mengemas produknya seunik mungkin, ada yang berbentuk amplop, untuk coklat minang dan foto objek wisata agam sebagai latar bungkus coklat rendang, supadeh dan cofie.

"Untuk kemasan berbentuk amplop, untuk mengingatkan kembali masa-masa muda dulu, sedangkan kemasan yang berlatar pemandangan Puncak Lawang dan danau Maninjau, itu untuk promosi pariwisata di Agam," terangnya.

Dalam bulannya, Evi bisa memproduksi 700 pack, berbagai rasa, jika pesanan banyak ia akan meminta bantuan anak dan para tetangga untuk menggenjot produksi.

Dari bisnis tersebut ia mengaku berhasil meraup omset sekitar Rp13 juta perbulannya. 

"Kerjanya cukup santai dan tidak menyita waktu, jadi masih bisa melakukan tugas sebagai ibu rumah tangga," lanjutnya.

Evi berharap, bisnis yang digelutinya tersebut bisa lebih dikenal masyarakat dan terus dikembangkan. 

(han)

Berita Terkait

Baca Juga