Ratusan Orang jadi Korban Hoaks Loker PT KAI, Ini Tanggapan Psikolog

Ratusan Orang jadi Korban Hoaks Loker PT KAI Ini Tanggapan Psikolog Kassandra Putranto

Covesia.com - Sebanyak 128 orang menjadi korban penipuan lowongan pekerjaan (loker) palsu PT Kereta Api Indonesia (KAI). Kejadian serupa belakangan ini sering terjadi di tengah masyarakat. Jika kita tidak teliti, tak mustahil juga akan menjadi korban penipuan atau kabar hoaks tersebut.

Pertanyaannya, mengapa masyarakat mudah percaya pada hoaks?

Psikolog Kassandra Putranto mengungkapkan, ada beberapa alasan mengapa individu rentan mempercayai dan menyebarkan berita hoaks.

Penelitian membuktikan individu yang memiliki kemampuan berfikir analitis yang buruk dan tidak mampu membedakan berita asli dan hoax. 

"Fenomena confirmation bias membuat manusia memiliki kecenderungan untuk melakukan pencarian informasi yang sesuai dengan keyakinannya, dibandingkan mencari informasi yang sebenar-benarnya," ujar Kassandra kepada covesia.com, Selasa (13/11/2018).

Menurutnya, gangguan pada ventromedial prefrontal cortex (bagian otak yang melakukan proses pengambilan keputusan dengan mempertimbangkan moral, nilai, norma dan kepercayaan) ditenggarai menjadi penyebab seseorang menjadi rentan untuk menyebarkan berita hoaks, karena mereka kehilangan kemampuan mempertimbangkan nilai moral dan nilai terhadap dampak atau akibat dari penyebaran hoaks. 

"Individu dengan kemampuan kontrol diri buruk cenderung menyebarkan berita hoaks, hate speech, dan pencemaran nama baik pada jejaring internet secara impulsif," jelasnya.

Dia menyarankan, untuk menghindarinya, basa dengan melatih berfikir analitis dan logis dalam memberikan berita. "Kalau memang nantinya sudah terlanjur percaya berita hoaks atau menjadi pelaku penyebar hoaks, coba utk mengakui kesalahan supaya mendapatkan pandangan yang lebih akurat," jelasnya.

Selain itu, imbuh Kassandra, kenali sumbar informasi, bandingkan informasi yang diterima dengan info lain, serta hindari penyeberan info yg hanya dibawa sedata.

"Cermati kalimat berita yngg hiperbola, pahami tujuan penulis dalam menyebarkan berita, recheck berita dan gambar lewat source yang dipercaya secara massal," ungkapnya.

(lif)

Berita Terkait

Baca Juga