Ultimatum 10 November 1945 dan Anugerah Pahlawan Nasional 2018 Kepada 6 Tokoh

Ultimatum 10 November 1945 dan Anugerah Pahlawan Nasional 2018 Kepada 6 Tokoh Mobil Buick Brigadir Jenderal Mallaby yang meledak di dekat Gedung Internatio dan Jembatan Merah Surabaya. Sumber: wikipedia

Covesia.com - Pada tanggal 15 September 1945, tentara Inggris mendarat di Jakarta, kemudian pada 25 Oktober 1945 mereka mendarat di Surabaya. Tentara Inggris datang ke Indonesia tergabung dalam AFNEI (Allied Forces Netherlands East Indies) atas keputusan dan atas nama Blok Sekutu, dengan tugas untuk melucuti tentara Jepang, membebaskan para tawanan perang yang ditahan Jepang, serta memulangkan tentara Jepang ke negerinya.

Namun selain itu tentara Inggris yang datang juga membawa misi mengembalikan Indonesia kepada administrasi pemerintahan Belanda sebagai negeri jajahan Hindia Belanda. NICA (Netherlands Indies Civil Administration) ikut membonceng bersama rombongan tentara Inggris untuk tujuan tersebut. Hal ini memicu gejolak rakyat Indonesia dan memunculkan pergerakan perlawanan rakyat Indonesia di mana-mana melawan tentara AFNEI dan pemerintahan NICA.

Setelah gencatan senjata antara pihak Indonesia dan pihak tentara Inggris ditandatangani pada tanggal 29 Oktober 1945, keadaan berangsur-angsur mereda. Walaupun begitu tetap saja terjadi bentrokan-bentrokan bersenjata antara rakyat dan tentara Inggris di Surabaya. 

Bentrokan-bentrokan bersenjata di Surabaya tersebut memuncak dengan terbunuhnya Brigadir Jenderal Mallaby, (pimpinan tentara Inggris untuk Jawa Timur), pada 30 Oktober 1945 sekitar pukul 20.30. 

Kematian Mallaby ini menyebabkan pihak Inggris marah dan berakibat pada keputusan Mayor Jenderal Eric Carden Robert Mansergh untuk mengeluarkan ultimatum 10 November 1945 yang meminta pihak Indonesia menyerahkan persenjataan dan menghentikan perlawanan pada tentara AFNEI dan administrasi NICA.

Ultimatum itu berisikan perintah kepada semua pimpinan dan orang Indonesia yang bersenjata harus melapor dan meletakkan senjatanya di tempat yang ditentukan dan menyerahkan diri dengan mengangkat tangan. Batas ultimatum adalah jam 6.00 pagi tanggal 10 November 1945.

Ultimatum tersebut kemudian dianggap sebagai penghinaan bagi para pejuang dan rakyat yang telah membentuk banyak badan-badan perjuangan. Ultimatum tersebut ditolak oleh pihak Indonesia dengan alasan bahwa Republik Indonesia waktu itu sudah berdiri, dan TKR (Tentara Keamanan Rakyat) juga telah dibentuk sebagai pasukan negara. 

Selain itu, banyak organisasi perjuangan bersenjata yang telah dibentuk masyarakat, termasuk di kalangan pemuda, mahasiswa dan pelajar yang menentang masuknya kembali pemerintahan Belanda yang memboncengi kehadiran tentara Inggris di Indonesia.

Pada 10 November pagi, tentara Inggris mulai melancarkan serangan. Pasukan sekutu mendapatkan perlawanan dari pasukan dan milisi Indonesia.

Selain Bung Tomo terdapat pula tokoh-tokoh berpengaruh lain dalam menggerakkan rakyat Surabaya pada masa itu, beberapa datang dari latar belakang agama seperti KH. Hasyim Asy'ari, KH. Wahab Hasbullah serta kyai-kyai pesantren lainnya juga mengerahkan santri-santri mereka dan masyarakat sipil sebagai milisi perlawanan.

Perlawanan pihak Indonesia berlangsung alot, dari hari ke hari, hingga dari minggu ke minggu lainnya. Perlawanan rakyat yang pada awalnya dilakukan secara spontan dan tidak terkoordinasi, makin hari makin teratur. Pertempuran ini mencapai waktu sekitar tiga minggu.

Setidaknya 6,000 - 16,000 pejuang dari pihak Indonesia tewas dan 200,000 rakyat sipil mengungsi dari Surabaya. Korban dari pasukan Inggris dan India kira-kira sejumlah 600 - 2000 tentara. 

Pertempuran berdarah di Surabaya yang memakan ribuan korban jiwa tersebut telah menggerakkan perlawanan rakyat di seluruh Indonesia untuk melakukan perlawanan. 

Banyaknya pejuang yang gugur dan rakyat sipil yang menjadi korban pada hari 10 November ini kemudian dikenang sebagai Hari Pahlawan oleh Republik Indonesia hingga sekarang. (wikipedia)

Enam Tokoh Nasional Dianugrahi Gelar Pahlawan Tahun Ini

Sebelumnya, nama-nama yang masuk digodok oleh Tim Peneliti Pengkaji Gelar Pusat (TP2GP) di Kementerian Sosial. Setelah itu, diajukan ke presiden, hingga dipilih 6 nama pada 2018. Berikut 6 pahlawan nasional yang bisa Bunda beritahu ke anak dikutip Covesia dari detik.com.

1. Abdurrahman Baswedan


Abdurrahman Baswedan adalah tokoh dari Provinsi DI Yogyakarta. Ia adalah kakek dari Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan. AR Baswedan adalah salah satu anggota BPUPKI dan seorang jurnalis.

Dia merupakan salah satu diplomat pertama Indonesia dan berhasil mendapatkan pengakuan de jure dan de facto pertama bagi eksistensi Republik Indonesia, yaitu dari Mesir. Nama AR Baswedan dikenal sebagai motor penggerak Sumpah Pemuda keturunan Arab di Indonesia pada 4 Oktober 1934 di Semarang. 

2. Ir H Pangeran Mohammad Noor


IR H Pangeran Mohammad Noor adalah tokoh dari Kalimantan Selatan. Pangeran Muhammad Noor adalah salah satu pejuang dalam merebut kemerdekaan di tanah Borneo, sekaligus menjabat Gubernur Kalimantan sebelum dibagi menjadi beberapa provinsi.

Ia juga merupakan tokoh pejuang yang berhasil mempersatukan pasukan pejuang kemerdekaan di Kalimantan ke dalam basis perjuangan yang diberi nama Divisi IV ALRI Pertahanan Kalimantan. Ia juga adalahi anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Pada periode 24 Maret 1956 - 10 Juli 1959, ia ditunjuk oleh Presiden Soekarno sebagai Menteri Pekerjaan Umum.

3. Agung Hj. Andi Depu


Agung Hajjah Andi Depu merupakan tokoh dari Sulawesi Barat. Dikutip dari buku 'Puang & Daeng: Sistem Nilai Budaya Orang Balanipa-Mandar', Hj. Andi Depu adalah tokoh wanita yang pada saat itu berani melawan NICA Belanda yang datang ke Balanipa. Ia tidak mau menurunkan bendera Merah Putih itu dari tiang yang berada di depan rumahnya di Tinambung Balanipa.

Hj. Andi Depu selalu mengawasi bendera itu berkibar, dengan sarung yang diikat erat dan berkebaya yang sederhana langsung berlari dan memeluk tiang bendera tersebut sebelum tentara NICA sampai ke tiang bendera. Semangatnya mempertahankan negara Indonesia sangat nyata dan layak diberi gelar pahlawan nasional.

4. Depati Amir


Depati Amir adalah tokoh dari Bangka Belitung. Dilansir laman resmi Kemdikbud, pemerintah Belanda takut dengan pengaruh Amir pada rakyat Bangka. Pemerintah Belanda mencoba mengurangi pengaruh Amir dengan memberikan jabatan depati untuk menguasai daerah Jeruk ditambah penguasaan daerah Mendara dan Mentadai di Pulau Bangka.

Amir diminta menggantikan ayahnya Depati Bahrain karena selain orang yang berpengaruh, juga karena keberhasilannya bersama 30 pengikutnya yang menumpas perompak di perairan Pulau Bangka. Meski jabatan depati ditolak oleh Amir, rakyat Pulau Bangka tetap memanggilnya dengan sebutan Depati Amir. Kini, namanya diabadikan menjadi nama bandara utama di Kepulauan Bangka Belitung.

5. Kasman Singodimedjo


Kasman Singodimedjo adalah tokoh dari Jawa Tengah. Pada masa pendudukan Jepang, Kasman merupakan komandan tentara Pembela Tanah Air (PETA) Jakarta. Ia tergabung dalam pasukan pengamanan saat upacara pembacaan Teks Proklamasi Kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945.

Setelah Indonesia merdeka, Kasman adalah Jaksa Agung Indonesia periode 1945-1946. Kasman juga menjabat sebagai Menteri Muda Kehakiman pada Kabinet Amir Sjarifuddin II. Selain itu ia juga adalah Ketua KNIP (Komite Nasional Indonesia Pusat) yang menjadi cikal-bakal dari DPR.

6. Brigjen KH Syam'un


Brigjen KH Syam'un adalah pahlawan nasional dari Banten. Dalam perjuangannya, ia pernah bergabung dengan Pembela Tanah Air atau Peta pada 1943-1945 dan terlibat untuk pembentukan pemerintah daerah dan diangkat menjadi bupati Serang. Pada 1946, terjadi penggantian jabatan di Banten dan KH Syam'un menjadi bupati Serang.

Saat terjadi agresi militer Belanda pada 1948-1949, terjadi perang gerilya di berbagai daerah termasuk di Banten. KH Syam'un yang waktu itu bupati Serang ikut bergerilya ke Gunung Cacaban di Anyer. Saat itu, terjadi peperangan sengit antara tentara dan pasukan agresi militer Belanda di sana. Dua bulan kemudian, KH Syam'un meninggal saat bergerilnya di usia ke 66 karena penyakit yang dideritanya.

(rdk)

Berita Terkait

Baca Juga