Anak Diikat di Pohon Beringin, SAMIN: Negara Berwenang Cabut Kuasa Asuh Orangtuanya

Anak Diikat di Pohon Beringin SAMIN Negara Berwenang Cabut Kuasa Asuh Orangtuanya Ketua Yayasan Sekretariat Anak Merdeka Indonesia (SAMIN) Odi Shalahuddin. (dok.covesia.com)

Covesia.com- Ketua Yayasan Sekretariat Anak Merdeka Indonesia (SAMIN) Odi Shalahuddin menganggap bahwa kasus orangtua yang mengikat anaknya di pohon beringin yang terjadi di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Taman Imam Bonjol Kota Padang Sumatera Barat bisa dikatakan sebagai kasus penelantaran anak.

Menurut Odi, model mengikat merupakan cara lama yang berlangsung setidaknya sampai tahun 1970-1980-an. Kasus anak yang diikat di pohon yang terjadi di Padang dan sudah berlangsung selama tujuh tahun, merupakan peristiwa yang mencerminkan pengabaian, baik dari orangtua, masyarakat sekitar dan juga pemerintah.

“Apalagi mengingat anak diikat di pohon di tengah kota, yang artinya di tempat terbuka yang dapat dilihat oleh banyak orang. Jadi, jika Pemerintah, dalam hal ini Dinas Sosial telah mengetahui situasi pengasuhan anak yang salah, mereka dapat mengajukan ke pengadilan untuk pencabutan kuasa asuh,” kata Odi kepada Covesia.com, Jumat (9/11/2018).

Pada konteks hak anak, jelas Odi, apabila orang tua dianggap tidak mampu melakukan pengasuhan, maka kewajiban negara untuk memberikan bantuan untuk meningkatkan kualitas pengasuhan dan jika perlu memberikan bantuan dana.

“Jika ini tidak mengubah tindakan orang tua/pengasuh, maka negara memiliki kewenangan untuk mencabut kuasa asuh orang tua terhadap anaknya, sampai batas tertentu orangtua dianggap mampu mengasuh anaknya,” tegas dia.

Kendati demikian, ia menilai harus dicermati pula bagaimana kondisi orangtua/keluarga si anak, agar tindakan tidak sewenang-wenang. “Hal terpenting, kepentingan terbaik bagi anak yang menjadi pertimbangan utama,” jelas dia.

Bocah bernama Bujang (bukan nama sebenarnya), ia diikat oleh orang tuanya yang sehari-hari bekerja sebagai pedagang asongan. Dengan kondisi pinggang terikat tali sepanjang 1,5 meter, bocah berusia 15 tahun berperawakan kurus itu sudah 7 tahun menghabiskan hidupnya di bawah pohon beringin tersebut.

"Ia diikat oleh ibunya yang sehari-hari bekerja sebagai penjual asongan di Pasar Raya, biasanya sang ibu anak itu datang membawa nasi, kemudian sorenya baru dibawa pulang," ujar salah seorang pedagang dikawasan RTH Imam Bonjol Padang yang enggan disebutkan namanya.

Menurutnya, anak tersebut sudah 7 tahun berada di bawah pohon beringin tersebut. Dulu kondisi anak itu cukup bersih, cuma mungkin setelah beranjak dewasa dan tenaganya sudah kuat orang tuanya jarang sekali membersihkannya.

Ia menyebut bahwa anak itu tidak cacat mental, tetapi autis dan ia tidak bisa berkomunikasi dengan orang banyak. "Kalau diperhatikan ia tidak mengganggu cuma kalau ada orang yang membawa mainan, anak itu meminta dan berteriak hingga mengamuk. Mungkin ada tekanan, ini yang membuatnya seperti itu," jelasnya.

(jon)

Berita Terkait

Baca Juga