Advokasi #2019GantiPresiden: Kurang Etis Yusril Jadi Pengacara Jokowi- Ma’ruf

Advokasi 2019GantiPresiden Kurang Etis Yusril Jadi Pengacara Jokowi Ma’ruf Yusril Ihza Mahendra. (Antara Foto/Wahdi Septiawan)

Covesia.com- Tim advokasi gerakan #2019GantiPresiden, Djudju Purwantoro menganggap bahwa kurang etis jika Yusril Ihza Mahendra bergabung menjadi pengacara pasangan Capres-Cawapres Joko Widodo-Ma'ruf Amin.

Hal ini dikarenakan, menurut Djuju, Yusril  masih menangani beberapa kasus kliennya yang menjadi perhatian atau kepentingan publik seperti Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dan lainnya. Diketahui, pihak Yusril mengajukan kasasi perkara HTI itu ke Mahkamah Agung (MA) RI pada 19 Oktober 2018. Perkara gugatan HTI melawan Menkum HAM masih berlanjut dan belum ada putusan hukum tetap.

“Sesungguhnya kurang patut dan etis, jika dalam kasus yang sedang ditangani oleh seorang advokat berpotensi timbulnya 'conflict of interest, dan melanggar kewajiban untuk tetap menjaga rahasia klien, walau kasusnya (sudah selesai) sebagaimana diatur dalam pasal 19 ayat (1) UU Advokat dan KEAI (pasal 4 huruf.h),” kata Djuju dalam keterangan tertulis yang diterima Covesia.com, Selasa (6/11/2018).

Menurut Djuju, profesi advokat adalah terhormat (officium nobile), dalam menjalankan peran dan fungsinya secara khusus wajib tunduk dan taat pada UU Advokat No.28/2003, dan Kode Etik Advokat Indonesia (KEAI)/2002.

“Dengan demikian setiap advokat wajib mempertahankan nilai-nilai keadilan publik, memiliki beban untuk bersikap jujur dan bertanggung jawab dalam menjalankan profesinya, baik kepada klien, pengadilan, masyarakat dan negara (tidak mencederai rasa keadilan publik),” ujar dia.

Sementara, ikatan yang paling mendasar dalam hubungan advokat-klien adalah saling percaya (reciprocal trust), yaitu dalam menangani dan melindungi kepentingan (klien) secara profesional. 

“Dengan demikian, hal-hal yang berpotensi menjadi benturan kepentingan (conflict of interest) sudah semestinya dan patut dihindari,” tandas dia.

Selain itu, tambah Djuju, sebagai salah seorang Ketum Parpol yaitu Bulan Bintang, yang selama ini juga dikenal sebagai salah satu Parpol oposisi yang kritis kepada pemerintahan, maka hal tersebut juga bisa berpengaruh dan membuat kebingungan (confuse) para konstituennya atas sikap ,(ambigue) Prof.Yusril tersebut.

(jon)

 

Berita Terkait

Baca Juga