Korban Meninggal Akibat Hujan Badai di Italia Bertambah Menjadi 30 Orang

Korban Meninggal Akibat Hujan Badai di Italia Bertambah Menjadi 30 Orang Ilustrasi (Ist)

Covesia.com - Banjir menewaskan 12 orang di pulau Sisilia, termasuk sembilan anggota dari satu keluarga, membuat korban jiwa meningkat menjadi 30 orang dalam sepekan terakhir, kata petugas penyelamat pada Minggu (04/11).

Setelah sungai meluap, jenazah keluarga termasuk anak-anak berusia satu, tiga dan 15 tahun ditemukan di kota pesisir Casteldaccia, timur ibu kota Palermo.

Regu penyelamat mengatakan bahwa rumah tempat keluarga itu menghabiskan akhir pekan terendam air dan lumpur. Usia korban lainnya berkisar dari 32 hingga 65 tahun.

Tiga anggota keluarga berhasil menyelamatkan diri, satu dengan memanjat pohon dan bertahan di sana selama lebih dari dua jam, lapor kantor berita Agi.

"Saya kehilangan segalanya, saya tidak punya apa-apa lagi, hanya anak perempuan saya (yang selamat)," kata salah satu korban yang selamat, Giuseppe Giordano (35) kepada para wartawan.

Istri, dua anak lainnya, orang tuanya, saudara laki-lakinya, saudara perempuannya, keponakannya serta nenek pria itu semuanya tewas, katanya.

Dalam insiden terpisah di Sisilia, seorang pria berusia 44 tahun ditemukan tewas di mobilnya di dekat Vicari, juga di wilayah Palermo.

Dia berusaha mencapai sebuah bengkel, yang dia kelola, untuk membantu seorang rekan yang terperangkap di sana. Seorang penumpang berusia 20 tahun di dalam mobil bersamanya masih belum ditemukan.

Angin kencang dan hujan lebat telah menewaskan sedikitnya 20 orang lainnya pekan lalu di sekitar Italia, terutama di bagian utara negara tersebut.

Cuaca buruk telah menyebabkan kerusakan dan gangguan-gangguan besar. Pohon-pohon di hutan gunung luas di timur laut negara itu tumbang oleh angin kencang.

Menteri Dalam Negeri Italia Matteo Salvini, Zaia pada Minggu mengatakan bahwa badai telah menghancurkan 100.000 hektare hutan pinus.

Badan perlindungan sipil Italia telah menggambarkan cuaca yang menghantam negara itu pada pekan lalu sebagai "salah satu situasi meteorologi paling kompleks sejak 50 hingga 60 tahun terakhir." (ant/adi)

Berita Terkait

Baca Juga