Asa Keluarga Penumpang Pesawat Lion Air JT 610

Asa Keluarga Penumpang Pesawat Lion Air JT 610 Dok.Basarnas

Covesia.com - Mukminah, 59 tahun, tak dapat menyembunyikan kesedihannya. Dengan mata sembab dan pandangan menerawang, perempuan berkerudung itu duduk di sudut salah satu tenda di RS Bhayangkara Polri, menunggu kepastian nasib keluarganya. Anak, menantu, sekaligus kedua cucunya merupakan penumpang pesawat Lion Air JT 610 PK-LQP yang kecelakaan di Tanjung Karawang pada Senin lalu.

Eviana Wijaya, salah satu anak perempuan Mukminah, meminta Anadolu Agency untuk tidak mewawancarai ibunya.

“Nanti ibu nangis lagi, wawancaranya sama saya saja ya,” ujar Eviana sambil tersenyum, kepada Anadolu Agency, beberapa waktu lalu.

Putra Mukminah itu bernama Daniel Wijaya, 30 tahun. Dia anak kelima yang lahir dan tumbuh besar di Jakarta. Daniel menetap di Bangka Barat sejak menjadi pegawai Pertamina dan ditempatkan di wilayah itu.

Beberapa tahun lalu, Daniel menikah dengan Restya Amelia, warga Bangka Barat. Mereka dikaruniai dua orang putra, yaitu Radika Wijaya, 4 tahun dan Rafesa Wijaya, bayi berusia 1,5 tahun. Saat hari naas itu terjadi, keempatnya hendak kembali ke Bangka setelah berlibur selama dua hari di Jakarta.

Kabar duka Senin pagi

Kabar duka itu pertama kali sampai di telinga Eviana. Dia memperoleh telepon dari keluarga di Bangka, Yandi, yang mengabarkan bahwa Daniel sekeluarga belum sampai ke rumah meski jarum jam sudah menunjukkan pukul 09.00 WIB. Sedang berita di televisi terus mengabarkan kecelakaan pesawat Lion Air JT 610 PK-LQP yang terbang pada jadwal yang sama dengan penerbangan Daniel.

“Coba cari info, siapa tahu penerbangan Daniel diundur,” ujar Evina, menuturkan pernyataan Yandi waktu itu.

Informasi beredar di media sosial Whatsapp yang Eviana terima mengabarkan daftar penumpang pesawat itu. Nama Daniel sekeluarga ada di antaranya.

Namun Eviana coba meyakinkan diri bahwa informasi itu salah. Dia mendatangi kantor Lion Air di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, dan memperoleh konfirmasi bahwa Daniel dan keluarga memang penumpang pesawat itu. Tubuh Evina langsung lemas.

“Rasanya tidak percaya, tapi informasi yang kami peroleh seperti itu,” ujar Eviana.

Meski tinggal di luar pulau, Daniel kadang-kadang ke Jakarta namun belum tentu mampir ke rumah karena harus mengerjakan tugas kantor. Daniel hanya pulang ke rumah orang tua atau neneknya di hari lebaran atau imlek.

Biasanya, tutur Eviana, Daniel tidak memilih penerbangan pagi. Di hari libur, Daniel malas bangun lebih awal dan memilih penerbangan siang agar tidak terlambat.

Saat kepulangannya ke Jakarta kali itu, tak seperti biasanya, Daniel menghubungi seluruh keluarga yang tersebar di Jakarta dan Bekasi. Daniel meminta mereka untuk berkumpul bersama. Perkumpulan keluarga itu sempat terjadi, meski tak seluruh anggota keluarga ikut.

“Kami tidak pernah mengira kalau akan terjadi kecelakaan,” tutur Eviana.

Senin lalu Mukminah menyerahkan data DNA-nya ke RS Bhayangkara. Beserta kartu keluarga dan berkas-berkas milik Daniel seperti ijazah sekolah, foto dan foto copy KTP.

RS Bhayangkara akan mencocokkan DNA dan data tersebut dengan DNA penumpang Lion Air yang sudah berhasil dievakuasi.

Mukminah maupun Eviana paham, menurut berita yang diperoleh dari media, kemungkinan seluruh penumpang pesawat itu tewas dan tubuhnya hancur. Namun mereka terus berharap bahwa Daniel sekeluarga masih hidup.

Semisalpun betul tewas, mereka berharap agar tim SAR gabungan bisa segera menemukan jenazah Daniel.

“Kami harap jenazah mereka bisa segera ketemu, bagaimanapun kondisinya,” ujar Eviana.

Hilang kontak selepas landas

Pesawat Lion Air JT 610 PK-LQP berjenis Boeing 737 MAX 8 itu lepas landas dari Bandara Soekarno Hatta pada Senin pukul 06.10 WIB. Ini merupakan pesawat baru Lion Air B 737-800 Max yang beroperasi sejak Agustus lalu dengan lama penerbangan 800 jam.

Baru 13 menit mengudara, pesawat berisikan 189 orang tersebut hilang kontak di perairan Karawang.

Kamis kemarin, tim SAR gabungan telah menemukan kotak hitam Flight Data Recorder (FDR) di kedalaman 30 meter, tak jauh dari lokasi pesawat kehilangan kontak. FDR tersebut menyimpan berkas-berkas penerbangan, seperti kecepatan dan arah pesawat.

Tim SAR gabungan telah menyerahkan kotak hitam itu ke Komite Nasional Keselamatan Transportasi untuk diinvestigasi lebih lanjut. Tim SAR gabungan masih menyisir lokasi untuk menemukan kotak hitam kedua, Cockpit Voice Recorder (CVR), tubuh utama pesawat dan jenazah penumpang.

Hingga hari ini, tim SAR gabungan telah menemukan 65 kantong jenazah penumpang pesawat Lion Air JT 610 PK-LQP. Keseluruh kantong jenazah itu sudah diserahkan kepada tim DVI RS Bhayangkara untuk diidentifikasi lebih lanjut.

Kepala Pusat Kedokteran Kesehatan (Pusdokkes) RS Bhayangkara Polri Brigjen Pol Arthur Tampi mengatakan pihaknya tengah mencocokkan data antem mortem dan DNA keluarga dengan data post mortem jenazah. Perlu waktu 4-8 hari untuk memperoleh kesimpulan tes DNA tersebut.

“Kalau sudah ada kecocokan, langsung kita rilis dan serahkan kepada keluarga,” kata Arthur.

Sejauh ini, pihaknya baru berhasil mengidentifikasi satu orang penumpang, yaitu Jannatun Cintia Dewi asal Sidoarjo, Jawa Timur. RS Bhayangkara sudah menyerahkan jenazah Jannatun kepada keluarga

Anadolu Agency/lif

Berita Terkait

Baca Juga