Tiga Anak Pengidap HIV di Samosir Dilarang Sekolah dan Terancam Diusir, Ini Kata Komnas PA

Tiga Anak Pengidap HIV di Samosir Dilarang Sekolah dan Terancam Diusir Ini Kata Komnas PA Kampanye Stop HIV/AIDS

Covesia.com- Komnas Perlindungan Anak (Komnas PA) menyayangkan adanya dugaan perlakuan tak berkeprimanusiaan terhadap tiga anak pengidap HIV di Pulau Samosir Sumatera Utara. 

"Memberhentikan tiga anak dari sekolahnya dan rencana pengusiran ketiga  anak masing-masing H (11) SA (10) dan S (7) dari desanya karena terpapar HIV/AIDS dari kedua orangtuanya adalah tindakan pelanggaran  terhadap hak anak dan Hak Asasi Manusia, kejam, sadis serta tidak beperikemanusiaan," kata Ketua Umum Komnas PA Arist Merdeka Sirait dalam keterangan tertulisnya kepada Covesia.com, Selasa (23/10/2018).

Arist juga menyayangkan sikap Wakil Bupati Kabupaten Samosir Juang Sinaga yang mendukung pengusiran  terhadap tiga anak korban keluar desa Nainggolan untuk ditempatkan disalah satu hutan sebagai tempat tinggal ketiga anak tersebut. 

"Sikap ini bukanlah sebagai sikap yang mencermin pemimpin yang bijaksana. Seharusnya beliau melindungi hak anak bukan justru melanggar hak anak. Bisakah kita membayangkan jika peristiwa pengusiran itu  menimpa anak dan keluarga kita?," ujar Arist.

Selain itu, ia juga menyesalkan sikap warga Desa Nainggolan yang memberikan batas waktu sampai 25 Oktober untuk ketiga anak tersebut sudah harus meninggalkan desanya. "Sikap warga desa ini bukan sikap yang terpuji namum kejam, sadis hanya karena alasan yang tidak dimengerti mengenai HIV/AIDS," terang Arist.

Seharusnya, kata Arist, masyarakat memberikan perlindungan bagi korban karena ketiga anak tersebut adalah korban dari prilaku menyimpang seksual yang dilakukan orangtuanya sehingga ketiga anak tersebut terpapar dan jadi korban HIV/AIDS.

"Atas nama hak anak atas perlindungan, Komnas Perlindungan Anak sebagai lembaga independen yang diberikan tugas dan fungsi memberikan pembelaan dan perlindungan anak di Indonesia mendesak Bupati Samosir dan warga masyarakat Desa Nainggolan mengurungkan niat dan kebijakan memberhentikan ketiga anak korban tersebut dari sekolahnya dan menghentikan rencana pengusiran ketiga anak tersebut secara paksa dan memberikan batas waktu dari desanya," tegas Arist.

Ia juga meminta kepada Wakil Bupati Samosir untuk meminta maaf kepada masyarakat atas sikapnya untuk menempatkan ketiga anak tersebut disalah satu hutan sebagai tempat tinggal ketiga anak tersebut. 

Demi kepentingan terbaik ketiga anak tersebut, jelas Arist, Komnas PA bersama para pegiat perlindungan Anak di Samosir, tokoh masyarakat, gereja, alim ulama dan masyarakat untuk melakukan perlawanan  atas kebijakan yang tidak sensitif hak anak  guna melindungi ketiga anak tersebut.  

"Bagi masyarakat yang melakukan pengusiran terhadap ketiga anak korban tersebut, Komnas Perlindungan Anak meminta Polres Kabupaten Samosir sebagai aparatur penegak hukum untuk melindungi korban," ujar Arist. 

Terkait kasus ini, Arist menyebut, Komnas PA pun segera menurunkan tim investigasi dan Komisionernya ke Pulau Samosir untuk bertemu korban, Bupati, warga masyarakat desa Nainggolan, Kapolres Samosir, tokoh gereja dan para pegiat perlindungan anak.

HIV/AIDS memang jenis penyakit  yang mematikan di dunia terutama di negara-negara berpendapatan rendah dan menengah. Penularan HIV/AIDS  bisa terjadi lewat hubungan intim tanpa pelindung (kondom) dengan orang yang terinfeksi HIV, transfusi darah dan penggunaan jarum suntik. HIV/AIDS juga bisa menularkan dari ibu yang terinfeksi HIV ke bayi saat ibu hamil melahirkan dan menyusui.

HIV tidak menular melalui sentuhan, air mata, keringat, berciuman, berpelukan dan menghirup udara yang sama. HIV juga tidak menular melalui gigitan hewan atau serangga.

Jadi, tambah Arist, tidak ada alasan mengusir ketiga anak korban terpapar HIV itu. "Sudah sepatutnya ketiga anak tersebut mendapat  perlindungan," tegas Arist.

(jon)




Berita Terkait

Baca Juga