Pakar: Shelter Mandiri Alternatif Solusi Maksimalkan Evakuasi Saat Bencana

Pakar Shelter Mandiri Alternatif Solusi Maksimalkan Evakuasi Saat Bencana Konsep evakuasi vertikal shelter mandiri di masjid / mushalla di kawasan permukiman penduduk zona bahaya tsunami. Sumber: Dok. Dr Febrin Anas Ismail

Covesia.com – Persoalan keterbatasan shelter sebagai tempat evakuasi vertikal di daerah pesisir pantai Sumatera Barat masih menjadi perhatian khusus mengingat keterbatan anggaran pembangunan. Namun demikian, bukan berarti persoalan keterbatasan jumlah shelter tidak dapat diatasi.

Pakar Konstruksi Bangunan Teknik Sipil Universitas Andalas, Dr Febrin Anas Ismail mengatakan, solusi waktu dekat yang dapat dimaksimalkan oleh seluruh lapisan masyarakat di pesisir Sumbar adalah membangun shelter mandiri secara swadaya.

“Mengapa shelter mandiri? Karena shelter mandiri merupakan tempat evakuasi tsunami yang bisa dibangun dan dikelola oleh masyarakat secara mandiri,” katanya saat dihubungi Covesia, Minggu (21/10/2018).

Dia menjelaskan, masyarakat terutama yang bermukim di zona bahaya tsunami harus terlibat aktif dalam hal mitigasi, termasuk membantu mempersiapkan shelter mandiri.

Menurutnya, itu diperlukan mengingat pemerintah memiliki keterbatasan anggaran untuk membangun shelter. 

Untuk dapat menampung hampir seluruh warga yang terdampah bencana tsunami, sedikitnya dibutuhkan 150 sampai 200 shelter.

“Sementara, saat ini jumlah dan kapasitas shelter yang tersedia sangat terbatas dan tidak menyebar merata di daerah yang terpapar tsunami,” katanya.

Keterbatasan akses dan lahan juga menjadi persoalan tersendiri untuk dibangunnya shelter oleh pemerintah. Belum lagi proses birokrasi yang juga memakan waktu.

Dia menawarkan solusi dengan meng-upgrade mengunanan yang selama ini menjadi pusat aktivitas masyarakat sehari-hari, terutama bangunan rumah ibadah, masjid dan mushalla.

“Mengapa masjid dan mushalla? Karena masjid dan mushalla hampir merata keberadaannya di setiap RT/RW,” jelas Febrin.

 

Selain itu, katanya, lahan sudah ada dan tinggal didesain sesuai karakteristik bangunannya. 

Dia menilai, shelter yang dibangun di rumah ibadah akan sangat bermanfaat karena bangunan tetap dapat digunakan untuk aktivitas keagamaan sehari-hari.

“Dengan pendekatan konsep perluasan atau pengembangan  untuk kebutuhan salat, belajar Al-Quran, majelis taklim, dan lainnya, masyarakat siap berinfak untuk pembangunannya karena akan menjadi amal jariah bagi mereka,” tambah Febrin.

Febrin menyebutkan, pihaknya siap membantu pemerintah dan masyarakat untuk mendesain dan memperihuungkan kebutuhan anggaran untuk membangun shelter yang berada di masjid dan mushalla. 

Desain struktur shelter mandiri yang akan dibuat, katanya, disesusaikan dengan daya rusak terjangan tsunami.

Menurut dia, tsunami tidak saja berupa air, namun lebih padat dan membawa puing-puing yang dapat merusak struktur bangunan meskipun masih berdiri pascagempa mengguncang.

“Dalam pembahasan RPJMD Kota Padang, kami sudah menyampaikan hal ini ke Pemko Padang,” katanya. 

Dia berharap konsep ini bermanfaat dan dapat diimplementasikan sebagia bagian dari upaya memaksimalkan mitigasi bencana tsunami terutama di Kota Padang. 

(rdk)


Berita Terkait

Baca Juga