Gempa 8,6 SR dan Tsunami 6 Meter Intai Sumbar, Seberapa Siapkah Kita?

Gempa 86 SR dan Tsunami 6 Meter Intai Sumbar Seberapa Siapkah Kita Ilustrasi

Covesia.com - Dari sejarah kebencanaan, Sumatera Barat merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang kerap dilanda gempa. Potensi gempa di Ranah Minang ini tidak hanya berasal dari daratan namun juga lautan.

Zona megathrust Mentawai dan sesar Sumatera merupakan dua potensi kegempaan yang menjadi ancaman serius bagi masyarakat Sumbar.

Bahkan belakangan ancaman megathrust juga memunculkan wacana untuk memindahkan ibukota Sumbar dari Kota Padang guna meminimalisir dampak bencana. Tentu wacana ini menuai pro dan kontra.

Kondisi ini menimbulkan pertanyaan seberapa mengancamnya megathrust untuk Sumbar? Dalam kesempatan ini wartawan Covesia.com, Utari Dwi Rahma Sasmita mewawancarai Pakar Gempa Indonesia Dr.Badrul Mustafa Kemal,DEA mengenai ancaman megathrust itu.

Berikut petikan wawancara yang dilakukan melalui via telepon pada Jumat (19/10/2018).

Menurut Anda, seberapa mengancamnya megathrust ini kepada masyarakat Sumbar?

"Mungkin bagi sebagian orang megathrust cukup mengancam terutama dari kajian keilmuan. Berdasarkan sejarahnya ada sejumlah gempa-gempa yang berasal dari zona ini yang bisa kita rasakan, yakni pada 10 April 2005 setelah tsunami aceh tahun 2004, kemudian gempa pada bulan Ramadhan, puasa hari pertama dan kedua 12-13 September 2007, kemudian gempa 25 Oktober 2010 yang juga mengakibatkan tsunami di Mentawai yakni di Pagai Selatan. Pada tahun ini mulai dari Januari 2018 kemudian April, Mei, Juni goyangan-goyang dari megahtrust ini mulai intensif."

"Kondisi ini membutikan bahwa ada potensi yang jelas mengenai megathrust dan didukung begitu banyak penelitian."

"Kemudian lagi, pada megathrust segmen Siberut berdasarkan penelitian segmen ini memiliki siklus sekali 200an tahun, jadi sejak tahun 1797 tenaga dari segmen Siberut ini belum terlepaskan. Inilah yang menjadi ancaman bagi kita."

Berapa perkiraan kekuatan gempa yang akan dilepaskan oleh megathrust segmen Siberut ini?

"Sebenarnya jika dikalkulasikan dengan kekuatan gempa 7,9 SR pada 30 September 2009 ditambah dengan gempa tahun 2005 maka baru satu pertiga tenaga dari segmen Pagai yang baru terlepas, sehingga masih ada dua pertiga tenaga yang masih tersimpan."

"Dari dua pertiga tenaga itu, ada tiga kemungkinan bentuk gempa yang akan terjadi di Sumatera Barat, pertama bakal terjadi gempa dengan kekuatan yang sama dengan tahun 2009 yakni 7,9 SR sebanyak 10 kali lagi, kedua mungkin saja bakal terjadi satu kali gempa saja dengan kekuatan yang besar yakni dengan kekuatan minimal 8,6 SR atau yang ketiga bahkan bisa saja terjadi ratusan ribu gempa kecil yang tidak menimbulkan kerusakan hingga tenaga itu terlepaskan."

"Dari ketiga kemungkinan itu terjadi, tidak ada satupun teknologi maupun peneliti yang mampu memprediksi gempa dengan kekuatan seperti apa yang dilepas oleh megathrust dan kapan itu akan terjadi. Sehingga diperlukan kesiapsiagaan semua pihak untuk mengantisipasi dampak bencana ini."

Nah, dari gempa-gempa itu, apakah ada potensi terjadinya tsunami?

"Jika gempa dengan kekuatan 8,6 SR itu terjadi memang diperkirakan akan menimbulkan tsunami. Berdasarkan penelitian, diperkirakan dari pusat gempa, air atau gelombang akan mencapai daratan paling cepat itu dalam waktu 25 menit dengan tinggi kira-kira 5 meter dari permungkaan laut."

"Namun kami peneliti memperkirakan jika gempa besar terjadi ada kemungkinan permukaan pesisir Kota Padang mengalami penurunan sekitar setengah meter (50 cm) sehingga kita simpulkan ketinggian air bisa mencapai 6 meter dari atas permukaan laut."

"Sehingga para peneliti menetapkan ketinggian 8-10 meter dari permukaan laut menjadi kawasan aman atau zona kuning evakuasi vertikal tsunami."

Dari besarnya kekuataan gempa dan tingginya perkiraan tsunami tentu ancaman bencana ini tidak bisa diabaikan. Menurut Anda apakah pemerintah Sumatera Barat sudah siap menghadapi bencana besar ini jika sewaktu-waktu terjadi?

"Sebenarnya kalau saya lihat usaha dan rencana pemerintah untuk menghadapi bencana ini sudah ada, namun perlu ditingkatkan lagi. Mungkin pemerintah memiliki sejumlah kendala seperti dari sektor anggaran dan SDM."

"Dulu setahu saya pernah ada rencana pengadaan 100 shelter di Sumatera Barat dari anggaran pusat, namun yang terealisasi baru ada 4 shelter di Kota Padang. Tentunya ini terkendala anggaran seperti yang kita ketahui juga ternyata di Indonesia, juga banyak bencana yang harus ditangani."

"Maka dari itu, saya menyarankan untuk pemerintah setempat membuat MOU dengan pemilik gedung-gedung tinggi di daerah zona merah yang bisa dijadikan tempat evakuasi vertikal sementara. Seperti gedung-gedung milik swasta, perkantoran BUMN yang bisa dimanfaatkan untuk menjadi tempat evakuasi, dan saya rasa itu lebih efektif dan efisien."

Untuk masyarakat sendiri Bagaimana menurut Anda? Masih banyak dari masyarakat  yang belum paham bagaimana cara menghadapi bencana?

"Nah, disini juga kita minta peran pemerintah untuk lebih ditingkatkan dalam memberikan sosialisasi kepada masyarakat dalam menghadapi bencana."

"Sebenarnya mitigasi prabencana ini ada dua yakni mitigasi fisik seperti tepat evakuasi tadi namun juga ada mitigasi non fisik yakni sosialisasi kepada masyarakat."

"Setiap keluarga sebaiknya sudah memiliki rencana evakuasi masing-masing jika sewaktu-waktu terjadi gempa, karena tak selalu kan anggota keluarga itu berada di satu tempat. Sehingga jika mereka sedang melakukan kegiatan di luar rumah seperti kerja, sekolah dan lainnya, semua anggota keluarga ini sudah tau kemana mereka akan pergi menyelamatkan diri, tanpa harus mencari-cari dulu anggota keluarga yang lain."

Lalu, menurut Anda bagaimana cara mengatasi "keamburadulan" lalu lintas saat evakuasi ketika terjadi bencana?

"Jika terjadi tsunami, evakuasi sendiri terdiri dari dua yaitu evakuasi horizontal dan evakuasi vertikal. Masyarakat sebaiknya telah memiliki rencana pilihan evakuasi mereka. Jika mereka berada di pesisir yang di daerah itu minim bangunan tinggi maka pilihlah evakuasi horizontal dengan mencari daerah yang lebih tinggi. Contohnya seperti daerah Lubuk Buaya yang masih minim bangunan tinggi."

"Mereka diperbolehkan membawa kendaraan agar menpercepat evakuasi, namun jika tersendat arus lalu lintasnya maka mereka harus meninggalkan kendaraan dan melakukan evakuasi diri dengan jalan kaki."

"Kemudian jika mereka berada di kawasan banyak bangunan tinggi, tentu evakuasi veritikal lebih disarankan, selain cepat juga mengurangi volume kendaraan di jalur evakuasi."

(utr)

Berita Terkait

Baca Juga